Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

andai perjuangan ini mudah,pasti ramai menyertainya.. andai perjuangan ini singkat,pasti ramai yang istiqamah.. andai perjuangan ini menjanjikan kesenangan dunia,pasti ramai tertarik padanya.. tapi hakikat perjuangan bukan begitu,turun naiknya,sakit pedihnya,umpama kemanisan yang tak terhingga.. andai rebah,bangkitlah semula.. andai terluka,ingatlah janjiNya.. yakinkan dalam diri, bersama kesulitan ada kemudahan.

Kalimasada

Bersama mereka aku meniti tangga dakwah di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Rohis Kalimasada, Menapaki Asa Menuju Cita Mulia.

Linguabase

Aku menemukan cinta di sini. bahagia bersama pengusung dakwah di fakultasku tercinta, Fakultas Bahasa dan Seni. Menemukan saudara-saudara seperjuangan yang luar biasa.

KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia)

Semua rasa ada di KAMMI, aku mendapatkan semua pembelajaran dari KAMMI. Meski kredo KAMMI terlalu sempurna, tapi aku ingin berupaya untuk itu.. Kami adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersama dakwah ini kemanapun perginya..

Yang Bersabuk Dua

Julukan yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada Asma' binti Abu Bakar. Aku ingin menjadi sosok seperti Asma' binti Abu Bakar, sosok muslimah tangguh yang cerdas dan berani.

Pages

Rabu, 26 Maret 2014

Mahasiswa Cerdas Tanpa Golput!



Sudah tahukah kawan-kawan mengenai perhelatan akbar negeri ini? Yap, pesta demokrasi sebentar lagi akan digelar. Tepatnya pada tanggal 9 April 2014 untuk Pemilu Legislatif dan tanggal 9 Juli 2014 untuk Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Sebagai mahasiswa yang katanya adalah kaum intelektual seharusnya kita sudah tahu tentang hal ini dan ikut berpartisipasi, salah satunya dengan jalan memberikan hak suara kita untuk pemilihan calon wakil rakyat untuk negeri ini.
Memberikan suara dalam pemilu memang bukan suatu kewajiban, tapi itu sudah menjadi hak kita. Sehingga menggunakan hak yang sudah diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita sebagai mahasiswa menjadi golput (golongan putih) alias tidak memberikan hak suara kita pada saat pemilu. Dengan berbagai alasan, sebenarnya golput bisa diminimalisasi. Misalnya apabila alasan golput adalah TPS, mungkin karena merasa TPS asal sangat jauh karena kita saat ini sedang menempuh studi di daerah yang berbeda dengan TPS kita. Hal ini bisa diatasi dengan mengurus formulir model A5, yaitu surat pindah memilih yang dikeluarkan oleh Panitia Pemungutan Suara (PPS) dari daerah asal. Dengan mengurus formulir A5 ini kita bisa menggunakan hak suara kita di tempat lain, misalnya di lingkungan kampus Unnes ini.
“Mobilitas penduduk kita sangat tinggi baik karena dinas luar, tugas belajar, pindah domisili, sakit, bencana dan persoalan hukum yang mengakibatkan seseorang menjadi tahanan. Kejadian-kejadian itu tidak boleh menghambat seseorang untuk menggunakan hak pilihnya. Karena itu, di manapun, mereka dapat menggunakan hak pilih dengan catatan mengurus formulir A-5 dari PPS asal,” kata Komisioner KPU RI Ferry Kurnia Rizkiyansyah, Kamis 20 Februari 2014.
Untuk mendapatkan formulir model A-5, pemilih wajib menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) atau identitas lain kepada petugas PPS di desa/ kelurahan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa orang yang mengurus formulir model A-5 itu, benar-benar orang yang akan pindah memilih dan terdaftar sebagai pemilih di daerah tersebut.
Apapun alasannya golput tidak dibenarkan. Karena pemerintah sudah memfasilitasi masyarakat untuk memberikan hak suaranya pada saat pemilu. Dalam beberapa berita yang dimuat di berbagai media massa, disebutkan bahwa apabila golput mencapai angka 50% maka pemilu dibatalkan dan harus diadakan pemilu ulang. Bayangkan saja kalau seperti ini, kita sama saja membuang uang negara dengan percuma ketika pemilu harus diulang. Padahal anggaran untuk pemilu ini tidak kecil lho, anggaran untuk pemilu mencapai 15,4 triliun rupiah. Bayangkan saja uang sebesar itu terbuang sia-sia hanya karena banyaknya masyarakat yang golput. Lebih baik anggaran tersebut dialokasikan untuk biaya pendidikan daripada untuk pemilu ulang.
Golput saja tidak dibenarkan apalagi mengajak orang lain untuk golput, apabila kita melakukan hal ini maka berhati-hatilah karena apabila kita mengajak golput bisa dikenai sanksi pidana. Seperti yang tetulis dalam pasal 287 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilu:
"Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan dan/ atau menghalangi seseorang yang akan melakukan haknya untuk memilih atau melakukan kegiatan yang menimbulkan gangguan ketertiban dan ketenteraman pelaksanaan pemungutan suara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan denda paling sedikit Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah) dan paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah)."
Lantas, masih mau untuk golput?

Yuk, sebagai mahasiswa dan warga negara yang baik kita dukung pesta demokrasi negeri ini dengan memberikan hak suara kita pada saat pemilu nanti. Ingat, gunakan suaramu sesuai dengan hati nurani. Kenali partai dan wakil rakyat calon pilihanmu dan berikan suara kepada partai atau wakil rakyat yang memiliki track record yang paling baik dan jangan asal-asalan dalan memilih.  

Senin, 03 Maret 2014

Mengertilah


Membiarkannya menari?
Tak bisa membuatnya mengejar henti
Sedu sedan biarkan makin mengiringi
Langkah bergerak gontai, lunglai

Masih berlanjut?
Membiarkannya menari tak membuatmu bergerak
Rasakan irama yang mengalun lembut...,
Gerak tegap, cepat, mantap
Haruskah?

Menilik ruang relung yang . . .
Ya sudah, baiklah, biarlah

.

Harus
Tatap batin juga jiwamu
Melayang tak berarti hilang
Masih ada, tak kan pernah pudar
Lantas?

Siap tidak selalu mantap
Tegar bukan berarti hingar
Tapi,
Jejakmu tak akan pernah hilang
Mungkin
Pasti

Teruslah menari
Ikuti irama bukan berarti tak bisa berhenti
Bisa kau atur


Ini panggungmu ‘

Minggu, 16 Februari 2014

Jadwal Pemilu 2014


Pemilu Legislatif :
1. Tgl 16 Maret - 05 April : Masa Kampanye
2. Tgl 06 - 08 April : Masa Tenang
3. Tgl 09 April : Pemungutan Suara
4. Tgl 07 - 09 Mei : Penetapan Hasil Pemilu Nasional
5. Tgl 11 - 17 Mei : Penetapan Perolehan Kursi & Calon terpilih Anggota DPR dan DPD
6. Bln Juli - Oktober : Pengucapan Sumpah Janji

Pemilu Pres & Wapres :
1. Tgl 16 - 13 Mei : Penetapan DPT Nasional
2. Tgl 10 - 16 Mei : Pendaftaran Paslon
3. Tgl 05 - 09 Juni : Penetapan Paslon
4. Tgl 14 Juni - 05 Juli : Masa Kampanye
5. Tgl 06 - 08 Juli : Masa Tenang
6. Tgl 09 Juli : Pemungutan Suara
7. Tgl 26 - 28 Juli : Penetapan Hasil Pemilu
8. Tgl 29 - 31 Juli : Pengajuan Gugatan Perselisihan Pemilu
9. Tgl 02 - 13 Agust : Penetapan Hasil Pemilu Pasca. Putusan MK
10. Tgl 15 - 24 Agust : Kampanye Putaran II
11. Tgl 09 Sept : Pemungutan Suara Putara II
12. Tgl 26 - 27 Sept : Penetapan Hasil Pemilu Putaran II
13. Tgl 27 - 29 Sept : Pengajuan Gugatan Perselisihan Pemilu Putaran II
14. Tgl 09 Okt : Penetapan Hasil Pemilu Pasca Putusan MK
15. Tgl 20 Okt : Pelantikan Pres dan Wapres terpilih. 

Minggu, 09 Februari 2014

Merajut Kepingan Hati


Assalamu’alaikum. Nduk, lagi di kos tidak?” sapa mbak Diana dari balik telepon genggamku.

Wa’alaikumussalam warohmatullah. Iya, Mbak. Ini lagi di kos, sedang beres-beres kamar. Pripun, mbak?” jawabku lembut.

“Mbak mau main ke kos sekarang bisa? Ada hal penting yang ingin mbak sampaikan.”

“Iya, Mbak. Ke kos aja. Memangnya ada hal penting apa mbak?” tanyaku penasaran.

“Nanti mbak sampaikan secara langsung saja ya. Mbak ke kos anti sekarang.” Balas mbak Diana lembut.

“Iya, Mbak.”

Assalamu’alaikum.” Mbak Diana menutup pembicaraan kami di telepon genggam.

Wa’alaikumussalam warohmatullah.” Aku menjawab dengan tanda tanya yang berterbangan di kepalaku, aku penasaran.

Ah, ya sudahlah. Nanti aku juga tahu apa yang akan disampaikan mbak Diana padaku. Lebih baik aku melanjutkan membereskan kamarku dan menyiapkan jajanan dan minum untuk menjamu kedatangan mbak Diana. Mbak Diana adalah murobiku, sudah hampir dua tahun ini aku menjadi mutarobinya. Orangnya sangat lembut, menyenangkan dan pekataannya sangat menyentuh hati. Di lingkaran kecilku, mbak Diana benar-benar bisa memosisikan dirinya sebagai guru, orang tua, bahkan sahabat kami. Mbak Diana sudah menikah ketika ia berusia 23 tahun, dan kini usianya telah menginjak 27 tahun. Memiliki dua orang mujahid kecil yang lucu dan menggemaskan, namanya Salman dan Asma. Terkadang si kecil Asma yang masih berusia tujuh bulan diajaknya ketika mengisi lingkaran kecil kami, lucu sekali.

Assalamu’alaikum.” Mbak Diana mengetuk pintu kosku.

Wa’alaikumussalam warohmatullah. Iya, Mbak. Sebentar.” Aku sudah sangat mengenali suara mbak Diana, sehingga aku sudah mengetahui bahwa yang datang adalah mbak Diana. Aku membukakan pintu dan mempersilakan mbak Diana masuk. “Mau di sini atau di kamarku saja, Mbak?”

“Di kamar saja, Nduk.” Jawab mbak Diana pelan-pelan. Sepertinya yang akan dibicarakan adalah sesuatu yang penting.

“Ya sudah, ayo mbak kita ke kamarku.” Aku menutup pintu kos dan berjalan di belakang mbak Diana menuju kamarku.

“Mbak sudah sarapan?” tanyaku.

“Sudah, tadi sekalian masak buat orang-orang rumah.” Mbak Diana menatapku, air mukanya teduh sekali.

“Ini sedikit jajanan. Afwan ya mbak, hanya ini yang bisa kuhidangkan. Maklum anak kos.” Aku menyodorkan biskuit kering dan teh hangat untuk mbak Diana.

Jazakillah ya, Nduk.” Mbak Diana meminum seteguk teh hangat buatanku. Ia kembali menatap padaku. 

“Usia anti berapa, Salwa?”

“22 tahun, Mbak.” Jawabku singkat.

“22 tahun ya.”

“Iya, Mbak.”

Barokallah, Nduk. Ternyata di usiamu yang masih cukup muda Allah menjawab doa-doamu. Kemarin sore ada seorang ikhwan yang mengajukan proposal untuk anti. Usianya 25 tahun, insya Allah dia aktivis dakwah yang luar biasa. Kalau anti tidak keberatan, proposal anti mbak sampaikan ke ikhwan tersebut.” Mbak Diana mengusap lembut punggungku.

Deg! Masya Allah... Aku sama sekali tak menduga bahwa ada seorang ikhwan yang mengajukan proposalnya untukku. “Aku tak bisa menjawab hari ini, Mbak.” Jawabku lirih, mataku berkaca-kaca. “Kalau boleh tahu apakah aku mengenalnya, Mbak?”

“Anti bisa menjawabnya satu minggu lagi, istikharah ya, Nduk. Untuk masalah anti kenal dengannya atau tidak, mbak kurang tahu. Beliau berasal dari luar kota, lulusan Universitas Indonesia. Sekarang dia bekerja di Bekasi. Tapi asalnya sama denganmu, dari Yogyakarta.” Mbak Diana menyerahkan sebuah map plastik berwarna hijau. “Ini proposalnya, bisa dilihat dan mintalah petunjuk kepada Allah.”

Aku terdiam sejenak. Tak ada kata yang mampu aku keluarkan. Air mataku mengalir lembut. Aku gemetar memegang map itu. Antara siap dan tidak siap untuk menikah di usia yang masih cukup muda ini. Siapkah aku.

“Mbak percaya anti bisa memutuskan. Menikah sekarang atau nanti sama saja, Allah yang telah menentukan jodoh untukmu.” Mbak Diana kembali tersenyum, sembari meminum teh hangat yang sepertinya mulai dingin. “Mbak tunggu jawaban anti satu minggu lagi ya, Nduk?”

“Iya, Mbak. Insya Allah.” Mataku masih basah.

“Skripsinya anti bagaimana kabarnya?” tanya mbak Diana mengalihkan pembicaraan.

Alhamdulillah sudah selesai, Mbak. Dua hari yang lalu baru diACC. Insya Allah dua minggu lagi ujian, Mbak. Doakan ya, Mbak.”

“Wah, Barokallah, Nduk. Kok nggak bilang ke mbak kalau sudah diACC skripsinya? Mau ngasih kejutan ya?”

Aku tersenyum, “Iya, Mbak. Sebenarnya aku mau bilangnya besok. Sekalian bilang ke teman-teman di lingkaran.”

“Berarti ini teman-teman juga belum pada tahu ya? Wah, benar-benar kejutan ini.”

Aku kembali tersenyum. Pikiranku masih berkutat dengan proposal yang baru saja mbak Diana sampaikan padaku.

“Mbak pulang dulu ya, Nduk. Sudah ada agenda lain yang menunggu. Afwan kalau ada yang kurang berkenan. Insya Allah apapun keputusan anti nantinya, itu atas kehendak Allah.”

“Iya, Mbak. Insya Allah.”

Assalamu’alaikum.

“Wa’alaikumussalam warohmatullah. Titip salam buat Salman dan Asma ya, Mbak. Kangen dengan mereka.”

“Iya, Insya Allah.

“Hati-hati, Mbak.” Mbak Diana tersenyum padaku.

? ? ?

Kubaca proposal tersebut secara mendetail, aku tak ingin ada yang terlewat satu pun. Sepertinya aku tak asing dengan beberapa hal yang ditulis dalam proposal ini. Meski dalam proposal ini identitas pribadi tidak ditulis secara lengkap, tapi aku nampak bisa mengenalinya. Aku terdiam, kuletakkan proposal itu di atas rak buku. Aku bergegas mengambil air wudhu untuk mengerjakan salat sunnah dhuha.

Air wudhu memberikan kesegaran pikiranku, gemericiknya menentramkan kegelisahanku. Aku mendirikan dua kali rakaat dhuha. Berdoa pada Sang Penggenggam Hati Manusia, hanya berharap padaNya. Kuselipkan doa untuk kedua orang tuaku tercinta, guru-guruku, saudara-saudaraku di jalan dakwah, dan tak lupa meminta petunjuk padaNya mengenai kabar yang baru saja aku terima. Karena Ia yang akan menguatkanku dan memberikanku jawaban.

? ? ?

Sudah satu minggu berselang. Aku mulai yakin dengan jawabanku, jawaban yang diberikan Allah dalam istikharahku. Aku menganmbil telepon genggamku dan mengirimkan sebuah pesan kepada mbak Diana. Bismillahirrohmanirrohim, yaa muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik wa tho’atik. Insya Allah, Allah telah memberikan jawaban kepada Salwa mengenai proposal itu, Mbak. Kapan kira-kira bisa Salwa sampaikan hal ini ke mbak Diana? Beberapa saat kemudian, layar handphoneku menunjukkan tulisan sent, pesan telah dikirim.

Subhanallah, semoga jawaban ini jauh dari godaan syaiton ya, Nduk. Hari ini mbak free habis asar. Kalau tidak keberatan, nanti kita keluar sekalian buka bersama. Pripun, Nduk?  Pesan singkat balasan dari mbak Diana aku terima. Aku mengiyakan.

? ? ?

“Pripun, Nduk? Sudah mantap dengan jawabannya?”

“Insya Allah, Mbak.”

“Bisa disampaikan?”

“Setelah beberapa kali istikharah, entah mengapa tiba-tiba ada seseorang yang hadir dalam setiap mimpiku. Awalnya aku tak melihatnya jelas, karena wajahnya nampak buyar. Tapi, dua hari malam yang lalu wajah itu jelas terlihat dalam mimpiku, Mbak. Ternyata aku mengenalnya. Dalam mimpiku, dia langsung menemui orang tuaku untuk mengkhitbahku. Dan kedua orang tuaku menyetujuinya. Aku keheranan, dan aku bertanya padanya mengenai siapa dia. Dia menjawab, aku yang telah mengirimkan proposal untukmu. Dia adalah kakak kelasku SMA, namanya Adnan. Setelah aku bangun dan membuka proposal itu, ternyata benar dugaanku, Mbak. Identitas pribadi itu mirip dengan mas Adnan. Ketika awal menerima proposal ini aku sudah agak curiga bahwa aku sepertinya sedikit mengenali identitas itu. Kemudian aku kembali istikharah, dan insya Allah hatiku sudah mantap.”

“Jawabannya apa, Nduk?”

Insya Allah aku menerima proposal itu.”

“Walaupun misalnya ini bukan orang yang anti maksud tadi?”

“Siapapun itu, Mbak. Lewat istikharahku, Allah memberikan jawaban untuk menerima proposal itu.”

Subhanallah, Nduk. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam setiap prosesmu mengarungi bahtera rumah tangga nanti. Mbak merinding mendengar cerita anti.”

“Kenapa, Mbak?”

“Allah itu selalu menjawab doa-doa hambaNya yang senantiasa dekat denganNya ya. Setelah anti menjawab kesediaan anti mengenai proposal tadi, mbak mau menunjukkan sesuatu pada anti. Ini.” Mbak Diana menyodorkan selembar kertas kepadaku. “Ini biodata lengkap proposal yang telah anti terima.”

Subhanallah.. Ini nggak salah kan, Mbak?” tanyaku terkejut.

“Tidak, Nduk. Sama sekali tidak salah. Anti pasti mengenali wajahnya, sepertinya memang orang ini yang baru saja anti ceritakan. Namanya Muhammad Adnan, berasal dari sekolah yang sama dengan anti. Kakak tingkat SMA anti.”

“Aku merinding, Mbak. Allahu Akbar.” Air mataku tak bisa kubendung, air mataku meleleh. Jawaban Allah memang tidak salah.

“Iya, Allah memberikan jawaban yang sesuai untuk anti.”

“Aku boleh cerita sesuatu, Mbak?” tanyaku sambil mengusap air mataku.

“Boleh, Nduk. Ada apa?” tanya mbak Diana lembut.

“Sejujurnya, aku memendam rasa pada mas Adnan. Meski beliau kuliah di luar kota, tapi beliau sering menanyakan perkembangan rohis SMAku. Aku mengenalnya ketika beliau mengisi kajian di SMA, aku sangat kagum dengannya. Tapi aku sama sekali tak pernah berbicara padanya. Hanya sekali aku pernah berbalas komentar di facebook itu pun di grup rohis SMA, dan membahas mengenai kegiatan Aktivis Dakwah Sekolah. Itu saja, hanya sekali. Selebihnya aku tak pernah berinteraksi dengannya.”

Subhanallah, nampaknya ini serupa dengan kisah Sayyidina Ali dan putri Rasulullah Fathimah Az-Zahra ya, Nduk. Allah menyimpan perasaan anti baik-baik. Dan menjaga anti supaya tidak terlena dengan permainan setan.”

“Mbak, proses ini tidak ada yang salah kan, ketika aku sudah pernah mencintainya?” aku mulai ketakutan.

Insya Allah tidak, Nduk. Anti tidak berinteraksi lebih dari yang anti sampaikan barusan, kan?” aku menggeleng. “Semoga rahmat Allah menghiasi setiap proses ini, Nduk.”

Aku memeluk erat mbak Diana, “Jazakillah, Mbak. Afwan kalau ada yang kurang berkenan atas aku selama ini. Doakan aku semoga proses ini penuh berkah ya, Mbak.”

“Iya, Nduk. Barokallah ya.” Mbak Diana menepuk pundakku lembut.


? ? ?  Selesai  ? ? ?

Sabtu, 08 Februari 2014

Mahasiswa Seutuhnya


Tak semua orang bisa menjadi seorang mahasiswa. Mahasiswa -yang katanya- kaum intelektual saat ini banyak yang tidak benar-benar seorang mahasiswa. Dari mulai tingkah lakunya, cara berbicaranya, bahkan cara berpikirnya jauh dari kata mahasiswa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,  arti dari kata mahasiswa adalah orang yg belajar (pelajar) di perguruan tinggi. Jadi seharusnya mahasiswa itu benar-benar bisa bersikap dewasa dibanding siswa sekolah. Sehingga terkadang aku berpikir, sudahkah aku menjadi mahasiswa yang seutuhnya?

Menjadi mahasiswa merupakan salah satu kebanggan yang bisa kuhadiahkan untuk kedua orang tuaku, karena ku tahu tak semua orang bisa menjadi mahasiswa. Menjadi mahasiswa yang seutuhnya, bagaimana ini? Aku hanya ingin sedikit berbagi cerita tentang bagaimana usahaku untuk menjadi mahasiswa seutuhnya.

Pada tahun pertama aku kuliah, aku ngelaju -bolak-balik kampus- untuk menimba ilmu di kampus. Jarak dari rumah ke kampus cukup jauh, sekitar 45 menit kalau naik motor dengan kecepatan 60 km/jam, tapi kalau naik angkot bisa hampir 2 jam karena angkot yang ngetem dan jalannya lama banget. Aku senang menjadi mahasiswa, apalagi di tahun perdanaku ini. Aku bebas berekspresi, aku bebas menjadi apa yang kumau, pikirku. Di tahun pertamaku ini aku sangat semangat untuk kuliah bahkan tak hanya kuliah yang kulakukan tapi aku juga mengikuti empat organisasi di kampus, maklum namanya juga mahasiswa baru yang ingin mencicipi organisasi di kampus. Apalagi dunia kampus jauh berbeda dengan dunia sekolah, individualitas yang sangat tinggi. Tapi Alhamdulillah aku menemukan lingkungan yang cukup nyaman, sehingga hanya ada rasa ukhuwah yang membumbui setiap interaksi.

Aku tak ingin menjadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang, tak ada sesuatu yang membangkitkan semangat di kampus kalau seperti itu, aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menjadi mahasiswa apalagi di tahun pertamaku ini.

Untuk tahun pertamaku menjadi mahasiswa bisa dikatakan aku memiliki aktivitas yang cukup padat, dan dari sinilah aku belajar mengatur waktuku dengan baik. Aku berangkat ke kampus dari rumah pukul 05.00 dan sampai kampus pukul 06.00 karena biasanya ada syuro atau rapat di pagi hari. Kemudian kuliah pukul 07.00 sampai pukul 15.00, meski tidak full tapi kurang lebih seperti itulah jadwal kuliahku di tahun pertamaku. Seusai kuliah aku langsung melaju kendaraanku untuk mengajar TPQ di kompleks Bea Cukai Semarang. Mengajar TPQ dari pukul 16.00 sampai maghrib menjelang. Setelah pulang ke rumah aku bersih diri, salat dan berisitirahat sejenak. Karena pukul 18.30 aku harus ngelesi sampai pukul 20.00. Setelah pulang ngelesi aku baru makan malam dan mengerjakan tugas kampus. Itulah rutinitas yang kulakukan hampir setiap hari. Kalau dipikir-pikir, kok bisa ya aku melakukan hal itu. Memulai aktivitas pukul 05.00 dan baru beristirahat pukul 20.00. Aku terkadang khawatir dengan hasil dengan hasil UASku, karena jujur aku jarang belajar kalau memang tak ada tugas. Apalagi dengan rutinitas yang menurutku sangat padat itu terkadang aku langsung tidur setelah pulang ngelesi karena badan yang terasa sangat lelah. Tapi Allah memang sayang padaku, aku teringat dengan janjiNya yang berada di QS. Muhammad: 7. Saat yudisium pertamaku, aku diberikan kesempatan untuk mendapatkan indeks prestasi pertama dengan predikat cumlaude. Alhamdulillah..Tapi di semester kedua indeks prestasiku turun drastis, tidak lagi cumlaude meski masih di tingkat aman (lebih dari 3,0) karena mungkin aku terlalu bersemangat berorganisasi sehingga jarang sekali belajar apalagi menjelang UAS.

Di tahun kedua aku memutuskan untuk ngekos, karena jarak rumah-kampus cukup jauh dan bisa dibilang cukup melelahkan. Di kos inilah aku -kata orang- menjadi seorang aktivis, aktivis organisasi tentunya. Karena amanahku di organisasi bertambah, bukan bertambah secara kuantitas tapi bertambah bebannya. Aku mengikuti empat organisasi (2 organisasi da’awi, 1 organisasi siyasi, 1 organisasi ilmi), beberapa organisasi yang kuikuti di tahun keduaku ini berbeda. Tapi posisinya bisa dibilang strategis secara struktur keorganisasian. Dari empat organisasi ini, aku berada di posisi PH+. Jujur, cukup berat apalagi di pertengahan periode kepengurusan karena banyaknya pengurus yang mulai bergelimpangan. Meski rutinitas tak sepadat ketika di tahun pertama, aku merasakan tahun kedua ini cukup berat. Karena tugas kuliah yang semakin menggunung dan kerja-kerja amanah yang tak ada henti-hentinya. Di tahun kedua ini aku mengajar sebuah TPQ kecil di dekat kampus, setelah ditawari oleh seorang mbak dan aku mengiyakan. Aktivitasku dimulai pukul 06.00 dan berakhir pada waktu maghrib, terkadang ada rapat yang mengharuskanku pulang hingga larut malam atau bahkan pagi, pulang rapat pukul 23.00 atau bahkan pukul 03.00 itu membuatku mulai terbiasa. Pada tahun ini aku cukup bisa mengatur waktuku, meski tak sesempurna yang kuinginkan. Dan aku cukup menikmati ritme di semester tiga dan empat ini. Hasilnya pun kutuai dengan indeks prestasi yang meningkat. Sekali lagi, aku percaya dengan janji Allah yang termaktub dalam QS. Muhammad: 7.

Di tahun ketigaku inilah semuanya kembali bergejolak. Masih dengan suasana ngekos, meski dengan kos yang berbeda. Berbeda dengan kos sebelumnya yang memang aku termasuk anak kos yang masih “diasuh” oleh mbak-mbak kos yang lebih tua, tapi di kos yang baru ini aku merupakan mahasiswa dengan semester paling tua, padahal baru semester 5. Penghuni kos ini ada 8 orang, separuh dari jumlah kosku pertama yang berjumlah 16 orang. Di kos yang baru ini ada aku dan sahabatku, Arum yang kita seangkatan. Kemudian satu orang adik semester 3 dan sisanya semester 1. Bayangkan saja, di kos ini aku dan Arum harus “mengasuh” adik-adik kos yang lain. Karena memang aku tinggal di kos binaan, sehingga sistem pembinaan harus berjalan dengan baik. Arum sebagai PJ pembinaan dan aku sebagai ketua kos. Amanah tambahan di semester ini yang menurutku cukup rumit, tapi kusikapi dengan menyenangkan. Karena amanah itu akan terasa indah kalau dijalankan, bukan sekadar diratapi. Di semester ini tugas kuliah semakin menggunung, apalagi aku mengambil mata kuliah drama yang di mata kuliah ini sangat menguras tenaga, pikiran bahkan materi. Beberapa amanah mulai tak fokus, meski aku berusaha untuk fokus. Tugas-tugas kuliah pun mulai keteteran, bahkan untuk mengerjakan tugas pun kalau nggak the power of kepepet nggak bakalan jadi itu tugas. Mata kuliah drama ini sangat menguras tenaga, bagaimana tidak, hampir setiap hari latihan drama dari pukul 19.30 sampai pukul 23.00 tak jarang kami harus pulang pukul 03.00 pagi. Dan pagi sampai maghrib harus beraktivitas untuk kuliah dan organisasi.

Bahkan di akhir-akhir semester empat ini aku mengalami kekacauan yang luar biasa. Karena (mungkin) terlalu lelah dengan drama itu. Semua tugas tertumpuk dan semuanya hanya digarap dalam waktu semalam suntuk ketika deadline adalah esok harinya. Hingga menjelang yudisium aku benar-benar khawatir dengan indeks prestasiku. Karena aku merasa sangat tidak maksimal dalam menjalani semester ini. Manajemen waktu yang nyaris kacau, entahlah. Hingga pada saat yudisium pun aku sangat takut, takut ketika indek prestasiku merosot tajam. Ketika aku membuka hasil yudisiumku.. deg! Nilaiku justru meningkat tajam, alhamdulillah nilai cumlaude berhasil kukantongi kembali. Aku kembali teringat janjiNya, QS. Muhammad: 7. Aku merasakan benar-benar janji Allah ini.. Ya Allah, semoga indeks prestasiku kembali meningkat dan barokah. Aaamiin...

Jadi, yuk kita bersama-sama berusaha menjadi mahasiswa seutuhnya. Mahasiswa dengan indeks prestasi baik, organisasi lancar dan berada di jalan dakwah. Insya Allah..

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menolong agama Allah maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

QS. Muhammad: 7

Jumat, 31 Januari 2014

Bolehkan Aku Bersikap??


Katanya amanah itu tak boleh diminta, tapi bolehkah aku memilih??
Katanya amanah itu dibebankan untuk pundak yang tepat, tapi bolehkah aku berharap??

Entahlah, akhir-akhir ini begitu galau dengan amanah yang baru saja diberikan untuk pundak yang lemah ini. Amanah-amanah yang bagiku sangat berat dan aku hanya berharap Allah memberikan kekuatan bagi pundakku agar mampu menopangnya. Dalam satu minggu aku diminta untuk menjadi bagian dalam struktural (inti) dua buah organisasi yang membuatku jatuh cinta terhadap keduanya. Organisasi yang membuatku tak mampu memilih salah satu di antara keduanya. Dengan posisi yang sama, menjadi sekretaris departemen.

Untuk amanah yang datang pertama aku sudah menebaknya dan tebakanku benar, bahkan untuk ketua departemennya pun aku sudah bisa menebaknya. Karena memang kami pernah berada dalam amanah yang sama. Meski agak sedikit ragu, tapi aku berusaha untuk memantapkan hatiku bahwa aku bisa dan aku mampu. Karena partner amanahku tidak diragukan lagi kapasitasnya di departemen yang akan kami gawangi. Dan insya Allah tidak ada masalah yang akan membersamai amanah kami di organisasi ini.

Selanjutnya untuk amanah kedua, yang sampai detik ini aku masih sangat ragu. Keraguan itu sudah hadir semenjak aku ‘dipinang’ untuk berada dalam amanah ini. Amanah yang berat, bahkan sangat berat. Aku sangat ragu, karena aku (bisa dianggap) sama sekali tidak memahami departemen ini. Apalagi mengingat posisiku yang dijadikan sebagai sekretaris departemen, yang –kata mereka- dianggap mampu untuk berada dalam posisi ini. Kegalauanku pun memuncak, ketika sosialisasi PH+ ternyata departemenku belum mendapatkan ketua, bayangkan saja di saat aku tengah galau dengan posisiku sebagai sekretaris departemen yang tak paham seluk belum departemen ini aku belum memiliki seorang ketua.  

Seusai sosialisasi, aku mengirimkan sebuah pesan singkat kepada orang yang memang sudah paham dengan departemen tersebut. Setelah aku menyampaikan kegalauanku tentang ketidakpahamanku terhadap kerja departemen tersebut, aku dipersilakan untuk bisa berdiskusi dengannya dan aku pun mengiyakan. Akhirnya aku berdiskusi dengan dua orang yang memang mereka sudah sangat paham sekali dengan departemen tersebut, pikiranku pun terbuka dan aku mulai memahami departemen tersebut. Di akhir diskusi aku menanyakan mengenai kepastian siapa yang akan menjadi ketua departemenku, aku sangat teringat jawaban yang dilontarkan dengan candaan oleh mereka berdua, “Lha Asma’ maunya siapa?” aku menjawab, “terserah mau siapa saja, asal jangan si X”. “Lho, lha kenapa? Atau kalau nggak nemu kadep, Asma’ yang jadi kadepnya ya..” aku pun menjawab dengan mantap, “nggak mau, terlalu berat berada dalam posisi itu.” Meski jawaban mereka nampak tidak serius, tapi aku menganggapnya serius, karena ini amanah yang menurutku sangat berat. “ditunggu 6 hari lagi,” jawab mereka serius tapi masih dengan suasana bercanda. Aku terdiam...

Setelah 6 hari aku menunggu kepastian, aku menanyakan mengenai kepastian ketua departemenku melalui pesan singkat. Ternyata masih belum dapat juga, aku menghela napas panjang sambil kembali aku memberikan pernyataan, “asal jangan si X” karena sepertinya kemungkinan si X untuk menjadi ketua departemen itu sangat besar. Kembali lagi aku ditanya apa alasannya, aku menjawab sejujurnya dan alasan yang kuberikan adalah alasan syar’i yang sama sekali tidak mengada-ada. Alasan karena pemikiranku dan pemikiran si X tidak sejalan, bahkan pemikiran si X itu terlalu frontal bahkan sampai (mungkin) sampai bisa menjadi boomerang bagi organisasi ini. Alasanku itu pun diterima, tapi ini sudah menjadi keputusan syuro dan insya Allah dengan si X itu dilibatkan lebih dalam organisasi ini dia akan membaik keadaannya, jawab pesan singkat yang kukirimkan tadi. Artinya, kemungkinan besar memang si X itu yang akan menjadi ketua departemenku walaupun itu bukan keputusan akhir. Dan.... rasanya ingin sekali menangis.

Aku mencintai organisasi ini sehingga aku menginginkan yang terbaik (menurutku) untuk organisasi, aku tidak rela kalau organisasi ini berada di tangan yang tidak tepat. Tapi aku (masih) berharap bahwa bukan dia yang menjadi ketua departemen ini. Apakah karena aku merasa tidak siap, atau memang karena nyaliku yang kerdil,, entahlah..

Ya Rabb,,, bolehkah aku meminta... berikan yang terbaik untuk kami...
Aku jadi teringat sebuah potongan ayat yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 216, “boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Terkadang kita menganggap yang kita lakukan itu baik jika menguntungkan, terkadang juga menganggap tidak baik jika merugikan. Tapi ingat Allah Maha Tahu atas segala hal….

Astaghfirullah,, wallahu a’lam bishawab. 

Kini Aku Telah Memilih


Baru aja selesai nonton “Interupsi” di Indosiar, tentang calon presiden yang diusung oleh partai bernomor urut 3 di pemilu 2014 ini. Partai Keadilan Sejahtera atau yang lebih akrab disebut PKS, partai berlambang ka’bah-bulan sabit-padi ini merupakan salah satu partai peserta pemilu 2014 ini. Jujur, sangat terpukau dengan jawaban-jawaban cerdas dari ketiga bakal calon presiden yang diusung oleh partai bertagline “cinta, kerja, harmoni”. Hidayat Nur Wahid dengan kecerdasannya dalam menjawab setiap pertanyaan, Anis Matta yang kini menjabat sebagai presiden PKS begitu nampak memukau, dan Ahmad Heryawan yang kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat ternyata sangat lincah dalam beretorika, salut dengan ketiganya.

Tapi bukan itu fokus utama pembahasan dalam tulisan ini. Ketika menonton acara tersebut jadi teringat sesuatu. Partai Keadilan Sejahtera ini memiliki sebuah wadah untuk anak-anak muda, yang tak lain anak-anak muda tersebut adalah anak-anak dari kader PKS, yaitu Garuda Keadilan. Garuda Keadilan ini merupakan gerakan yang bertujuan untuk memberikan wadah kepada anak kader supaya tetap berada dalam barisan dakwah yang rapi dan kokoh, istilah gampangnya biar orang tuanya lebih mudah mengontrol anak-anaknya –kurang lebih seperti itu-. Garuda Keadilan atau GK telah memiliki struktur kepengurusan, dari mulai tingkat nasional, tingkat wilayah, bahkan tingkat kota. Dan kemarin pada tanggal 28-29 Desember 2013, Garuda Keadilan Jawa Tengah baru saja mengadakan Musyawarah Kerja Wilayah yang dihadiri oleh perwakilan delegasi dari masing-masing kota. Acara ini diadakan di Markas Dakwah Building DPD PKS Kota Semarang. Dan kebetulan aku diamanahi untuk menjadi panitianya.

Rapat pertama diadakan di kantor DPW PKS Jawa Tengah, dalam rapat koordinasi pelaksanaan Muskerwil GK Jateng ini dihadiri oleh Pak Fris, Pak Aris, Pak Ali Umar Dani selaku perwakilan untuk GM-pro dan dari teman-teman GK Jateng yang pada saat itu ada Azam, mas Galang, Salma, Fatimah dan tentunya aku sendiri. Masih teringat jelas dan cukup #jleb sekali dengan pernyataan dari GM-pro, bahwa anak kader itu diharapkan juga mampu membantu perolehan suara PKS. Misalnya saja dengan mencoba mengajak teman-teman di sekitarnya untuk milih PKS. Nggak usah jauh-jauh lah DSnya, minimal teman dari SD-SMP-SMA sama kuliah. Itu kalau dikumpulin kan juga udah banyak to. Jadinya anak kader juga merasakan apa yang sedang dirasakan oleh orang tua kalian. Kenapa pernyataan itu bisa #jleb sekali? Karena selama ini memang kayaknya kita masih ragu-ragu untuk mempromosikan PKS ke teman-teman dekat kita, kita hanya berani untuk DS ke orang yang belum kita kenal. Padahal teman-teman kita sendiri bisa jadi lahan yang siapa tahu justru akan memilih PKS karena kenal dengan kita.

Ini yang membuat aku menjadi berpikir, beranikah aku untuk mengajak teman-teman yang sudah kukenal untuk memilih PKS. Apalagi pemilu 2014 ini memiliki suara terbanyak dari kaum anak muda. Seharusnya aku bisa melakukan itu, mungkin perasaan takut itu muncul karena belum pernah mencoba. Hmm,, akan kucoba untuk memulainya, insya Allah..

profil singkat PKS

Jadi, teman-teman yang baca tulisan ini jangan lupa pada tanggal 9 April 2014 ini pilih PKS nomor 3 ya.. Partai Keren Sekali, Partai Kita Semua. Oh iya sedikit curhat ah, tahun ini merupakan tahun pertamaku untuk memberikan suara di pemilu lho, hehe :D

Kamis, 23 Januari 2014

Aku Mencintai Keduanya



Musyawarah Anggota (Musyara) Linguabase pun selesai, dan kini telah terpilih ketua baru untuk menjadi nahkoda dalam mengarungi bahtera dakwah di fakultas tercinta, FBS. Sosok ketua yang luar biasa, memberikan sambutan pertamanya setelah terpilih untuk mengemban amanah dakwah yang mulia ini.

Lingubase merupakan lembaga dakwah kampus tingkat fakultas, fakultas luar biasa dengan sejuta warna. Selama berada dalam kepengurusan aku merasa belum terlalu fokus di linguabase, karena pada saat itu posisiku di linguabase belum terlalu urgent dibandingkan tiga amanahku di lain tempat karena secara posisi struktural. Menjadi staf departemen kaderisasi Linguabase pun belum mampu membuatku bekerja lebih untuk linguabase. Mungkin karena seringnya aku tak memprioritaskan Linguabase. Afwan, atas hal ini untuk semua pengusung Linguabase. 

Senin, 20 Januari 2014

2011 Punya Cerita


Di awal kita bersua, mencoba untuk mengenali satu sama lain mencoba untuk mulai memahami sesuatu yang akan terjadi di antara kita. Awal berada dalam forum 2011 FBS yang terpikirkan hanyalah, apakah kita akan bisa melangkah bersama, berjuan bersama di kampus ungu yang luar biasa ini?
Mengenal satu persatu sosok luar biasa... dan tak terasa satu tahun telah terlewati. Dan kini masanya kita, teman-teman 2011 untuk mulai mengelola fakultas. Diberikan tanggung jawab lebih untuk menjadi motor di lembaga dakwah tingkat fakultas. Dipertemukan dengan orang-orang luar biasa.
Subhanallah... rasanya bangga sekali memiliki saudara-saudara seperti kalian;

Powered By Blogger