Rabu, 26 Maret 2014
Mahasiswa Cerdas Tanpa Golput!
Sudah tahukah kawan-kawan mengenai
perhelatan akbar negeri ini? Yap, pesta demokrasi sebentar lagi akan digelar.
Tepatnya pada tanggal 9 April 2014 untuk Pemilu Legislatif dan tanggal 9 Juli
2014 untuk Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Sebagai mahasiswa yang
katanya adalah kaum intelektual seharusnya kita sudah tahu tentang hal ini dan
ikut berpartisipasi, salah satunya dengan jalan memberikan hak suara kita untuk
pemilihan calon wakil rakyat untuk negeri ini.
Memberikan suara dalam pemilu memang
bukan suatu kewajiban, tapi itu sudah menjadi hak kita. Sehingga menggunakan
hak yang sudah diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita
sebagai mahasiswa menjadi golput (golongan putih) alias tidak memberikan hak
suara kita pada saat pemilu. Dengan berbagai alasan, sebenarnya golput bisa
diminimalisasi. Misalnya apabila alasan golput adalah TPS, mungkin karena
merasa TPS asal sangat jauh karena kita saat ini sedang menempuh studi di
daerah yang berbeda dengan TPS kita. Hal ini bisa diatasi dengan mengurus
formulir model A5, yaitu surat pindah memilih yang dikeluarkan oleh Panitia
Pemungutan Suara (PPS) dari daerah asal. Dengan mengurus formulir A5 ini kita
bisa menggunakan hak suara kita di tempat lain, misalnya di lingkungan kampus
Unnes ini.
“Mobilitas penduduk kita sangat tinggi baik karena
dinas luar, tugas belajar, pindah domisili, sakit, bencana dan persoalan hukum
yang mengakibatkan seseorang menjadi tahanan. Kejadian-kejadian itu tidak boleh
menghambat seseorang untuk menggunakan hak pilihnya. Karena itu, di manapun,
mereka dapat menggunakan hak pilih dengan catatan mengurus formulir A-5 dari
PPS asal,” kata Komisioner KPU RI Ferry Kurnia Rizkiyansyah, Kamis 20 Februari
2014.
Untuk mendapatkan formulir model A-5, pemilih wajib
menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) atau identitas lain kepada petugas PPS
di desa/ kelurahan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa orang yang mengurus
formulir model A-5 itu, benar-benar orang yang akan pindah memilih dan
terdaftar sebagai pemilih di daerah tersebut.
Apapun alasannya golput tidak dibenarkan. Karena
pemerintah sudah memfasilitasi masyarakat untuk memberikan hak suaranya pada
saat pemilu. Dalam beberapa berita yang dimuat di berbagai media massa,
disebutkan bahwa apabila golput mencapai angka 50% maka pemilu dibatalkan dan
harus diadakan pemilu ulang. Bayangkan saja kalau seperti ini, kita sama saja membuang
uang negara dengan percuma ketika pemilu harus diulang. Padahal anggaran untuk
pemilu ini tidak kecil lho, anggaran untuk pemilu mencapai 15,4 triliun rupiah.
Bayangkan saja uang sebesar itu terbuang sia-sia hanya karena banyaknya
masyarakat yang golput. Lebih baik anggaran tersebut dialokasikan untuk biaya
pendidikan daripada untuk pemilu ulang.
Golput saja tidak dibenarkan apalagi mengajak orang
lain untuk golput, apabila kita melakukan hal ini maka berhati-hatilah karena
apabila kita mengajak golput bisa
dikenai sanksi pidana. Seperti yang tetulis dalam pasal 287 Undang-Undang Nomor
10 tahun 2008 tentang Pemilu:
"Setiap
orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan dan/
atau menghalangi seseorang yang akan melakukan haknya untuk memilih atau
melakukan kegiatan yang menimbulkan gangguan ketertiban dan ketenteraman
pelaksanaan pemungutan suara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6
(enam) bulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan denda paling
sedikit Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah) dan paling banyak Rp24.000.000,00
(dua puluh empat juta rupiah)."
Lantas, masih mau untuk golput?
Yuk, sebagai mahasiswa dan warga negara yang baik kita
dukung pesta demokrasi negeri ini dengan memberikan hak suara kita pada saat
pemilu nanti. Ingat, gunakan suaramu sesuai dengan hati nurani. Kenali partai
dan wakil rakyat calon pilihanmu dan berikan suara kepada partai atau wakil
rakyat yang memiliki track record
yang paling baik dan jangan asal-asalan dalan memilih.
Senin, 03 Maret 2014
Mengertilah
Membiarkannya menari?
Tak bisa membuatnya mengejar henti
Sedu sedan biarkan makin mengiringi
Langkah bergerak gontai, lunglai
Masih berlanjut?
Membiarkannya menari tak membuatmu bergerak
Rasakan irama yang mengalun lembut...,
Gerak tegap, cepat, mantap
Haruskah?
Menilik ruang relung yang . . .
Ya sudah, baiklah, biarlah
.
Harus
Tatap batin juga jiwamu
Melayang tak berarti hilang
Masih ada, tak kan pernah pudar
Lantas?
Siap tidak selalu mantap
Tegar bukan berarti hingar
Tapi,
Jejakmu tak akan pernah hilang
Mungkin
Pasti
Teruslah menari
Ikuti irama bukan berarti tak bisa berhenti
Bisa kau atur
Ini panggungmu ‘
Minggu, 16 Februari 2014
Jadwal Pemilu 2014
22:08
2 comments
Pemilu Legislatif :
1. Tgl 16 Maret - 05 April : Masa Kampanye
2. Tgl 06 - 08 April : Masa Tenang
3. Tgl 09 April : Pemungutan Suara
4. Tgl 07 - 09 Mei : Penetapan Hasil Pemilu Nasional
5. Tgl 11 - 17 Mei : Penetapan Perolehan Kursi & Calon terpilih Anggota DPR dan DPD
6. Bln Juli - Oktober : Pengucapan Sumpah Janji
Pemilu Pres & Wapres :
1. Tgl 16 - 13 Mei : Penetapan DPT Nasional
2. Tgl 10 - 16 Mei : Pendaftaran Paslon
3. Tgl 05 - 09 Juni : Penetapan Paslon
4. Tgl 14 Juni - 05 Juli : Masa Kampanye
5. Tgl 06 - 08 Juli : Masa Tenang
6. Tgl 09 Juli : Pemungutan Suara
7. Tgl 26 - 28 Juli : Penetapan Hasil Pemilu
8. Tgl 29 - 31 Juli : Pengajuan Gugatan Perselisihan Pemilu
9. Tgl 02 - 13 Agust : Penetapan Hasil Pemilu Pasca. Putusan MK
10. Tgl 15 - 24 Agust : Kampanye Putaran II
11. Tgl 09 Sept : Pemungutan Suara Putara II
12. Tgl 26 - 27 Sept : Penetapan Hasil Pemilu Putaran II
13. Tgl 27 - 29 Sept : Pengajuan Gugatan Perselisihan Pemilu Putaran II
14. Tgl 09 Okt : Penetapan Hasil Pemilu Pasca Putusan MK
15. Tgl 20 Okt : Pelantikan Pres dan Wapres terpilih.
1. Tgl 16 Maret - 05 April : Masa Kampanye
2. Tgl 06 - 08 April : Masa Tenang
3. Tgl 09 April : Pemungutan Suara
4. Tgl 07 - 09 Mei : Penetapan Hasil Pemilu Nasional
5. Tgl 11 - 17 Mei : Penetapan Perolehan Kursi & Calon terpilih Anggota DPR dan DPD
6. Bln Juli - Oktober : Pengucapan Sumpah Janji
Pemilu Pres & Wapres :
1. Tgl 16 - 13 Mei : Penetapan DPT Nasional
2. Tgl 10 - 16 Mei : Pendaftaran Paslon
3. Tgl 05 - 09 Juni : Penetapan Paslon
4. Tgl 14 Juni - 05 Juli : Masa Kampanye
5. Tgl 06 - 08 Juli : Masa Tenang
6. Tgl 09 Juli : Pemungutan Suara
7. Tgl 26 - 28 Juli : Penetapan Hasil Pemilu
8. Tgl 29 - 31 Juli : Pengajuan Gugatan Perselisihan Pemilu
9. Tgl 02 - 13 Agust : Penetapan Hasil Pemilu Pasca. Putusan MK
10. Tgl 15 - 24 Agust : Kampanye Putaran II
11. Tgl 09 Sept : Pemungutan Suara Putara II
12. Tgl 26 - 27 Sept : Penetapan Hasil Pemilu Putaran II
13. Tgl 27 - 29 Sept : Pengajuan Gugatan Perselisihan Pemilu Putaran II
14. Tgl 09 Okt : Penetapan Hasil Pemilu Pasca Putusan MK
15. Tgl 20 Okt : Pelantikan Pres dan Wapres terpilih.
Minggu, 09 Februari 2014
Merajut Kepingan Hati
“Assalamu’alaikum.
Nduk, lagi di kos tidak?” sapa mbak Diana dari balik telepon genggamku.
“Wa’alaikumussalam
warohmatullah. Iya, Mbak. Ini lagi di kos, sedang beres-beres kamar. Pripun, mbak?” jawabku lembut.
“Mbak mau main ke kos sekarang bisa? Ada hal penting yang
ingin mbak sampaikan.”
“Iya, Mbak. Ke kos aja. Memangnya ada hal penting apa
mbak?” tanyaku penasaran.
“Nanti mbak sampaikan secara langsung saja ya. Mbak ke
kos anti sekarang.” Balas mbak Diana lembut.
“Iya, Mbak.”
“Assalamu’alaikum.”
Mbak Diana menutup pembicaraan kami di telepon genggam.
“Wa’alaikumussalam
warohmatullah.” Aku menjawab dengan tanda tanya yang berterbangan di
kepalaku, aku penasaran.
Ah, ya sudahlah. Nanti aku juga tahu apa yang akan
disampaikan mbak Diana padaku. Lebih baik aku melanjutkan membereskan kamarku
dan menyiapkan jajanan dan minum untuk menjamu kedatangan mbak Diana. Mbak
Diana adalah murobiku, sudah hampir dua tahun ini aku menjadi mutarobinya. Orangnya
sangat lembut, menyenangkan dan pekataannya sangat menyentuh hati. Di lingkaran
kecilku, mbak Diana benar-benar bisa memosisikan dirinya sebagai guru, orang
tua, bahkan sahabat kami. Mbak Diana sudah menikah ketika ia berusia 23 tahun,
dan kini usianya telah menginjak 27 tahun. Memiliki dua orang mujahid kecil
yang lucu dan menggemaskan, namanya Salman dan Asma. Terkadang si kecil Asma
yang masih berusia tujuh bulan diajaknya ketika mengisi lingkaran kecil kami,
lucu sekali.
“Assalamu’alaikum.”
Mbak Diana mengetuk pintu kosku.
“Wa’alaikumussalam
warohmatullah. Iya, Mbak. Sebentar.” Aku
sudah sangat mengenali suara mbak Diana, sehingga aku sudah mengetahui bahwa
yang datang adalah mbak Diana. Aku membukakan pintu dan mempersilakan mbak Diana masuk. “Mau
di sini atau di kamarku saja, Mbak?”
“Di kamar saja, Nduk.” Jawab mbak Diana pelan-pelan. Sepertinya
yang akan dibicarakan adalah sesuatu yang penting.
“Ya sudah, ayo mbak kita ke kamarku.” Aku menutup pintu
kos dan berjalan di belakang mbak Diana menuju kamarku.
“Mbak sudah sarapan?” tanyaku.
“Sudah, tadi sekalian masak buat orang-orang rumah.” Mbak
Diana menatapku, air mukanya teduh sekali.
“Ini sedikit jajanan. Afwan ya mbak, hanya ini yang bisa
kuhidangkan. Maklum anak kos.” Aku menyodorkan biskuit kering dan teh hangat
untuk mbak Diana.
“Jazakillah ya, Nduk.” Mbak Diana meminum seteguk teh
hangat buatanku. Ia kembali menatap padaku.
“Usia anti berapa, Salwa?”
“22 tahun, Mbak.” Jawabku singkat.
“22 tahun ya.”
“Iya, Mbak.”
“Barokallah, Nduk.
Ternyata di usiamu yang masih cukup muda Allah menjawab doa-doamu. Kemarin sore
ada seorang ikhwan yang mengajukan proposal untuk anti. Usianya 25 tahun, insya Allah dia aktivis dakwah yang luar
biasa. Kalau anti tidak keberatan, proposal anti mbak sampaikan ke ikhwan
tersebut.” Mbak Diana mengusap lembut punggungku.
Deg! Masya Allah...
Aku sama sekali tak menduga bahwa ada seorang ikhwan yang mengajukan
proposalnya untukku. “Aku tak bisa menjawab hari ini, Mbak.” Jawabku lirih,
mataku berkaca-kaca. “Kalau boleh tahu apakah aku mengenalnya, Mbak?”
“Anti bisa menjawabnya satu minggu lagi, istikharah ya, Nduk.
Untuk masalah anti kenal dengannya atau tidak, mbak kurang tahu. Beliau berasal
dari luar kota, lulusan Universitas Indonesia. Sekarang dia bekerja di Bekasi.
Tapi asalnya sama denganmu, dari Yogyakarta.” Mbak Diana menyerahkan sebuah map
plastik berwarna hijau. “Ini proposalnya, bisa dilihat dan mintalah petunjuk
kepada Allah.”
Aku terdiam sejenak. Tak ada kata yang mampu aku
keluarkan. Air mataku mengalir lembut. Aku gemetar memegang map itu. Antara siap
dan tidak siap untuk menikah di usia yang masih cukup muda ini. Siapkah aku.
“Mbak percaya anti bisa memutuskan. Menikah sekarang atau
nanti sama saja, Allah yang telah menentukan jodoh untukmu.” Mbak Diana kembali
tersenyum, sembari meminum teh hangat yang sepertinya mulai dingin. “Mbak
tunggu jawaban anti satu minggu lagi ya, Nduk?”
“Iya, Mbak. Insya
Allah.” Mataku masih basah.
“Skripsinya anti bagaimana kabarnya?” tanya mbak Diana
mengalihkan pembicaraan.
“Alhamdulillah
sudah selesai, Mbak. Dua hari yang lalu baru diACC. Insya Allah dua minggu lagi ujian, Mbak. Doakan ya, Mbak.”
“Wah, Barokallah, Nduk.
Kok nggak bilang ke mbak kalau sudah diACC
skripsinya? Mau ngasih kejutan ya?”
Aku tersenyum, “Iya, Mbak. Sebenarnya aku mau bilangnya
besok. Sekalian bilang ke teman-teman di lingkaran.”
“Berarti ini teman-teman juga belum pada tahu ya? Wah,
benar-benar kejutan ini.”
Aku kembali tersenyum. Pikiranku masih berkutat dengan
proposal yang baru saja mbak Diana sampaikan padaku.
“Mbak pulang dulu ya, Nduk. Sudah ada agenda lain yang
menunggu. Afwan kalau ada yang kurang berkenan. Insya Allah apapun keputusan anti nantinya, itu atas kehendak
Allah.”
“Iya, Mbak. Insya Allah.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam warohmatullah. Titip salam buat Salman
dan Asma ya, Mbak. Kangen dengan mereka.”
“Iya, Insya Allah.”
“Hati-hati, Mbak.” Mbak Diana tersenyum padaku.
? ? ?
Kubaca proposal tersebut secara mendetail, aku tak ingin
ada yang terlewat satu pun. Sepertinya aku tak asing dengan beberapa hal yang ditulis
dalam proposal ini. Meski dalam proposal ini identitas pribadi tidak ditulis
secara lengkap, tapi aku nampak bisa mengenalinya. Aku terdiam, kuletakkan
proposal itu di atas rak buku. Aku bergegas mengambil air wudhu untuk
mengerjakan salat sunnah dhuha.
Air wudhu memberikan kesegaran pikiranku, gemericiknya
menentramkan kegelisahanku. Aku mendirikan dua kali rakaat dhuha. Berdoa pada
Sang Penggenggam Hati Manusia, hanya berharap padaNya. Kuselipkan doa untuk kedua
orang tuaku tercinta, guru-guruku, saudara-saudaraku di jalan dakwah, dan tak
lupa meminta petunjuk padaNya mengenai kabar yang baru saja aku terima. Karena
Ia yang akan menguatkanku dan memberikanku jawaban.
? ? ?
Sudah satu minggu berselang. Aku mulai yakin dengan
jawabanku, jawaban yang diberikan Allah dalam istikharahku. Aku menganmbil
telepon genggamku dan mengirimkan sebuah pesan kepada mbak Diana. Bismillahirrohmanirrohim, yaa muqollibal
quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik wa tho’atik. Insya Allah, Allah telah
memberikan jawaban kepada Salwa mengenai proposal itu, Mbak. Kapan kira-kira
bisa Salwa sampaikan hal ini ke mbak Diana? Beberapa saat kemudian, layar handphoneku menunjukkan tulisan sent, pesan telah dikirim.
Subhanallah,
semoga jawaban ini jauh dari godaan syaiton ya, Nduk. Hari ini mbak free habis asar. Kalau
tidak keberatan, nanti kita keluar sekalian buka bersama. Pripun, Nduk? Pesan singkat balasan dari mbak Diana aku
terima. Aku mengiyakan.
? ? ?
“Pripun, Nduk? Sudah mantap dengan jawabannya?”
“Insya Allah, Mbak.”
“Bisa disampaikan?”
“Setelah beberapa kali istikharah, entah mengapa
tiba-tiba ada seseorang yang hadir dalam setiap mimpiku. Awalnya aku tak
melihatnya jelas, karena wajahnya nampak buyar. Tapi, dua hari malam yang lalu wajah
itu jelas terlihat dalam mimpiku, Mbak. Ternyata aku mengenalnya. Dalam
mimpiku, dia langsung menemui orang tuaku untuk mengkhitbahku. Dan kedua orang
tuaku menyetujuinya. Aku keheranan, dan aku bertanya padanya mengenai siapa
dia. Dia menjawab, aku yang telah mengirimkan proposal untukmu. Dia adalah
kakak kelasku SMA, namanya Adnan. Setelah aku bangun dan membuka proposal itu,
ternyata benar dugaanku, Mbak. Identitas pribadi itu mirip dengan mas Adnan. Ketika
awal menerima proposal ini aku sudah agak curiga bahwa aku sepertinya sedikit mengenali
identitas itu. Kemudian aku kembali istikharah, dan insya Allah hatiku sudah mantap.”
“Jawabannya apa, Nduk?”
“Insya Allah
aku menerima proposal itu.”
“Walaupun misalnya ini bukan orang yang anti maksud tadi?”
“Siapapun itu, Mbak. Lewat istikharahku, Allah memberikan
jawaban untuk menerima proposal itu.”
“Subhanallah,
Nduk. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam setiap prosesmu mengarungi
bahtera rumah tangga nanti. Mbak merinding mendengar cerita anti.”
“Kenapa, Mbak?”
“Allah itu selalu menjawab doa-doa hambaNya yang
senantiasa dekat denganNya ya. Setelah anti menjawab kesediaan anti mengenai
proposal tadi, mbak mau menunjukkan sesuatu pada anti. Ini.” Mbak Diana
menyodorkan selembar kertas kepadaku. “Ini biodata lengkap proposal yang telah
anti terima.”
“Subhanallah.. Ini
nggak salah kan, Mbak?” tanyaku terkejut.
“Tidak, Nduk. Sama sekali tidak salah. Anti pasti
mengenali wajahnya, sepertinya memang orang ini yang baru saja anti ceritakan.
Namanya Muhammad Adnan, berasal dari sekolah yang sama dengan anti. Kakak
tingkat SMA anti.”
“Aku merinding, Mbak. Allahu
Akbar.” Air mataku tak bisa kubendung, air mataku meleleh. Jawaban Allah
memang tidak salah.
“Iya, Allah memberikan jawaban yang sesuai untuk anti.”
“Aku boleh cerita sesuatu, Mbak?” tanyaku sambil mengusap
air mataku.
“Boleh, Nduk. Ada apa?” tanya mbak Diana lembut.
“Sejujurnya, aku memendam rasa pada mas Adnan. Meski
beliau kuliah di luar kota, tapi beliau sering menanyakan perkembangan rohis
SMAku. Aku mengenalnya ketika beliau mengisi kajian di SMA, aku sangat kagum
dengannya. Tapi aku sama sekali tak pernah berbicara padanya. Hanya sekali aku
pernah berbalas komentar di facebook
itu pun di grup rohis SMA, dan membahas mengenai kegiatan Aktivis Dakwah
Sekolah. Itu saja, hanya sekali. Selebihnya aku tak pernah berinteraksi
dengannya.”
“Subhanallah,
nampaknya ini serupa dengan kisah Sayyidina Ali dan putri Rasulullah Fathimah
Az-Zahra ya, Nduk. Allah menyimpan perasaan anti baik-baik. Dan menjaga anti
supaya tidak terlena dengan permainan setan.”
“Mbak, proses ini tidak ada yang salah kan, ketika aku
sudah pernah mencintainya?” aku mulai ketakutan.
“Insya Allah
tidak, Nduk. Anti tidak berinteraksi lebih dari yang anti sampaikan barusan,
kan?” aku menggeleng. “Semoga rahmat Allah menghiasi setiap proses ini, Nduk.”
Aku memeluk erat mbak Diana, “Jazakillah, Mbak. Afwan kalau ada yang kurang berkenan atas aku
selama ini. Doakan aku semoga proses ini penuh berkah ya, Mbak.”
“Iya, Nduk. Barokallah
ya.” Mbak Diana menepuk pundakku lembut.
? ? ? Selesai ? ? ?
Sabtu, 08 Februari 2014
Mahasiswa Seutuhnya
Tak semua orang
bisa menjadi seorang mahasiswa. Mahasiswa -yang katanya- kaum intelektual saat
ini banyak yang tidak benar-benar seorang mahasiswa. Dari mulai tingkah
lakunya, cara berbicaranya, bahkan cara berpikirnya jauh dari kata mahasiswa.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti dari kata mahasiswa adalah orang
yg belajar (pelajar) di perguruan tinggi. Jadi seharusnya mahasiswa itu
benar-benar bisa bersikap dewasa dibanding siswa sekolah. Sehingga terkadang
aku berpikir, sudahkah aku menjadi mahasiswa yang seutuhnya?
Menjadi mahasiswa
merupakan salah satu kebanggan yang bisa kuhadiahkan untuk kedua orang tuaku,
karena ku tahu tak semua orang bisa menjadi mahasiswa. Menjadi mahasiswa yang
seutuhnya, bagaimana ini? Aku hanya ingin sedikit berbagi cerita tentang
bagaimana usahaku untuk menjadi mahasiswa seutuhnya.
Pada tahun pertama
aku kuliah, aku ngelaju -bolak-balik kampus- untuk menimba ilmu di kampus.
Jarak dari rumah ke kampus cukup jauh, sekitar 45 menit kalau naik motor dengan
kecepatan 60 km/jam, tapi kalau naik angkot bisa hampir 2 jam karena angkot
yang ngetem dan jalannya lama banget. Aku senang menjadi mahasiswa, apalagi di
tahun perdanaku ini. Aku bebas berekspresi, aku bebas menjadi apa yang kumau,
pikirku. Di tahun pertamaku ini aku sangat semangat untuk kuliah bahkan tak
hanya kuliah yang kulakukan tapi aku juga mengikuti empat organisasi di kampus,
maklum namanya juga mahasiswa baru yang ingin mencicipi organisasi di kampus.
Apalagi dunia kampus jauh berbeda dengan dunia sekolah, individualitas yang
sangat tinggi. Tapi Alhamdulillah aku
menemukan lingkungan yang cukup nyaman, sehingga hanya ada rasa ukhuwah yang membumbui setiap interaksi.
Aku tak ingin
menjadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang, tak ada sesuatu
yang membangkitkan semangat di kampus kalau seperti itu, aku tak ingin
menyia-nyiakan kesempatan menjadi mahasiswa apalagi di tahun pertamaku ini.
Untuk tahun
pertamaku menjadi mahasiswa bisa dikatakan aku memiliki aktivitas yang cukup
padat, dan dari sinilah aku belajar mengatur waktuku dengan baik. Aku berangkat
ke kampus dari rumah pukul 05.00 dan sampai kampus pukul 06.00 karena biasanya
ada syuro atau rapat di pagi hari.
Kemudian kuliah pukul 07.00 sampai pukul 15.00, meski tidak full tapi kurang lebih seperti itulah
jadwal kuliahku di tahun pertamaku. Seusai kuliah aku langsung melaju
kendaraanku untuk mengajar TPQ di kompleks Bea Cukai Semarang. Mengajar TPQ
dari pukul 16.00 sampai maghrib menjelang. Setelah pulang ke rumah aku bersih
diri, salat dan berisitirahat sejenak. Karena pukul 18.30 aku harus ngelesi
sampai pukul 20.00. Setelah pulang ngelesi aku baru makan malam dan mengerjakan
tugas kampus. Itulah rutinitas yang kulakukan hampir setiap hari. Kalau
dipikir-pikir, kok bisa ya aku melakukan hal itu. Memulai aktivitas pukul 05.00
dan baru beristirahat pukul 20.00. Aku terkadang khawatir dengan hasil dengan
hasil UASku, karena jujur aku jarang belajar kalau memang tak ada tugas.
Apalagi dengan rutinitas yang menurutku sangat padat itu terkadang aku langsung
tidur setelah pulang ngelesi karena badan yang terasa sangat lelah. Tapi Allah
memang sayang padaku, aku teringat dengan janjiNya yang berada di QS. Muhammad:
7. Saat yudisium pertamaku, aku diberikan kesempatan untuk mendapatkan indeks
prestasi pertama dengan predikat cumlaude.
Alhamdulillah..Tapi di semester kedua
indeks prestasiku turun drastis, tidak lagi cumlaude
meski masih di tingkat aman (lebih dari 3,0) karena mungkin aku terlalu
bersemangat berorganisasi sehingga jarang sekali belajar apalagi menjelang UAS.
Di tahun kedua aku
memutuskan untuk ngekos, karena jarak rumah-kampus cukup jauh dan bisa dibilang
cukup melelahkan. Di kos inilah aku -kata orang- menjadi seorang aktivis,
aktivis organisasi tentunya. Karena amanahku di organisasi bertambah, bukan
bertambah secara kuantitas tapi bertambah bebannya. Aku mengikuti empat
organisasi (2 organisasi da’awi, 1 organisasi siyasi, 1 organisasi ilmi),
beberapa organisasi yang kuikuti di tahun keduaku ini berbeda. Tapi posisinya
bisa dibilang strategis secara struktur keorganisasian. Dari empat organisasi
ini, aku berada di posisi PH+. Jujur, cukup berat apalagi di pertengahan
periode kepengurusan karena banyaknya pengurus yang mulai bergelimpangan. Meski
rutinitas tak sepadat ketika di tahun pertama, aku merasakan tahun kedua ini
cukup berat. Karena tugas kuliah yang semakin menggunung dan kerja-kerja amanah
yang tak ada henti-hentinya. Di tahun kedua ini aku mengajar sebuah TPQ kecil
di dekat kampus, setelah ditawari oleh seorang mbak dan aku mengiyakan.
Aktivitasku dimulai pukul 06.00 dan berakhir pada waktu maghrib, terkadang ada
rapat yang mengharuskanku pulang hingga larut malam atau bahkan pagi, pulang
rapat pukul 23.00 atau bahkan pukul 03.00 itu membuatku mulai terbiasa. Pada
tahun ini aku cukup bisa mengatur waktuku, meski tak sesempurna yang
kuinginkan. Dan aku cukup menikmati ritme di semester tiga dan empat ini.
Hasilnya pun kutuai dengan indeks prestasi yang meningkat. Sekali lagi, aku
percaya dengan janji Allah yang termaktub dalam QS. Muhammad: 7.
Di tahun ketigaku
inilah semuanya kembali bergejolak. Masih dengan suasana ngekos, meski dengan
kos yang berbeda. Berbeda dengan kos sebelumnya yang memang aku termasuk anak
kos yang masih “diasuh” oleh mbak-mbak kos yang lebih tua, tapi di kos yang
baru ini aku merupakan mahasiswa dengan semester paling tua, padahal baru
semester 5. Penghuni kos ini ada 8 orang, separuh dari jumlah kosku pertama
yang berjumlah 16 orang. Di kos yang baru ini ada aku dan sahabatku, Arum yang
kita seangkatan. Kemudian satu orang adik semester 3 dan sisanya semester 1.
Bayangkan saja, di kos ini aku dan Arum harus “mengasuh” adik-adik kos yang
lain. Karena memang aku tinggal di kos binaan, sehingga sistem pembinaan harus
berjalan dengan baik. Arum sebagai PJ pembinaan dan aku sebagai ketua kos.
Amanah tambahan di semester ini yang menurutku cukup rumit, tapi kusikapi
dengan menyenangkan. Karena amanah itu akan terasa indah kalau dijalankan,
bukan sekadar diratapi. Di semester ini tugas kuliah semakin menggunung,
apalagi aku mengambil mata kuliah drama yang di mata kuliah ini sangat menguras
tenaga, pikiran bahkan materi. Beberapa amanah mulai tak fokus, meski aku
berusaha untuk fokus. Tugas-tugas kuliah pun mulai keteteran, bahkan untuk
mengerjakan tugas pun kalau nggak the
power of kepepet nggak bakalan jadi itu tugas. Mata kuliah drama ini sangat
menguras tenaga, bagaimana tidak, hampir setiap hari latihan drama dari pukul
19.30 sampai pukul 23.00 tak jarang kami harus pulang pukul 03.00 pagi. Dan
pagi sampai maghrib harus beraktivitas untuk kuliah dan organisasi.
Bahkan di
akhir-akhir semester empat ini aku mengalami kekacauan yang luar biasa. Karena (mungkin)
terlalu lelah dengan drama itu. Semua tugas tertumpuk dan semuanya hanya
digarap dalam waktu semalam suntuk ketika deadline
adalah esok harinya. Hingga menjelang yudisium aku benar-benar khawatir dengan
indeks prestasiku. Karena aku merasa sangat tidak maksimal dalam menjalani
semester ini. Manajemen waktu yang nyaris kacau, entahlah. Hingga pada saat
yudisium pun aku sangat takut, takut ketika indek prestasiku merosot tajam.
Ketika aku membuka hasil yudisiumku.. deg! Nilaiku justru meningkat tajam, alhamdulillah nilai cumlaude berhasil kukantongi kembali. Aku kembali teringat
janjiNya, QS. Muhammad: 7. Aku merasakan benar-benar janji Allah ini.. Ya
Allah, semoga indeks prestasiku kembali meningkat dan barokah. Aaamiin...
Jadi, yuk kita bersama-sama berusaha menjadi mahasiswa seutuhnya. Mahasiswa dengan indeks prestasi baik, organisasi lancar dan berada di jalan dakwah. Insya Allah..
Jadi, yuk kita bersama-sama berusaha menjadi mahasiswa seutuhnya. Mahasiswa dengan indeks prestasi baik, organisasi lancar dan berada di jalan dakwah. Insya Allah..
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
menolong agama Allah maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
QS. Muhammad: 7
Jumat, 31 Januari 2014
Bolehkan Aku Bersikap??
Katanya amanah itu tak boleh diminta, tapi bolehkah aku
memilih??
Katanya amanah itu dibebankan untuk pundak yang tepat,
tapi bolehkah aku berharap??
Entahlah, akhir-akhir ini begitu galau dengan amanah yang
baru saja diberikan untuk pundak yang lemah ini. Amanah-amanah yang bagiku
sangat berat dan aku hanya berharap Allah memberikan kekuatan bagi pundakku
agar mampu menopangnya. Dalam satu minggu aku diminta untuk menjadi bagian
dalam struktural (inti) dua buah organisasi yang membuatku jatuh cinta terhadap
keduanya. Organisasi yang membuatku tak mampu memilih salah satu di antara
keduanya. Dengan posisi yang sama, menjadi sekretaris departemen.
Untuk amanah yang datang pertama aku sudah menebaknya dan
tebakanku benar, bahkan untuk ketua departemennya pun aku sudah bisa
menebaknya. Karena memang kami pernah berada dalam amanah yang sama. Meski agak
sedikit ragu, tapi aku berusaha untuk memantapkan hatiku bahwa aku bisa dan aku
mampu. Karena partner amanahku tidak diragukan lagi kapasitasnya di departemen
yang akan kami gawangi. Dan insya Allah tidak
ada masalah yang akan membersamai amanah kami di organisasi ini.
Selanjutnya untuk amanah kedua, yang sampai detik ini aku
masih sangat ragu. Keraguan itu sudah hadir semenjak aku ‘dipinang’ untuk
berada dalam amanah ini. Amanah yang berat, bahkan sangat berat. Aku sangat
ragu, karena aku (bisa dianggap) sama sekali tidak memahami departemen ini. Apalagi
mengingat posisiku yang dijadikan sebagai sekretaris departemen, yang –kata mereka-
dianggap mampu untuk berada dalam posisi ini. Kegalauanku pun memuncak, ketika
sosialisasi PH+ ternyata departemenku belum mendapatkan ketua, bayangkan saja
di saat aku tengah galau dengan posisiku sebagai sekretaris departemen yang tak
paham seluk belum departemen ini aku belum memiliki seorang ketua.
Seusai sosialisasi, aku mengirimkan sebuah pesan singkat
kepada orang yang memang sudah paham dengan departemen tersebut. Setelah aku
menyampaikan kegalauanku tentang ketidakpahamanku terhadap kerja departemen
tersebut, aku dipersilakan untuk bisa berdiskusi dengannya dan aku pun
mengiyakan. Akhirnya aku berdiskusi dengan dua orang yang memang mereka sudah
sangat paham sekali dengan departemen tersebut, pikiranku pun terbuka dan aku
mulai memahami departemen tersebut. Di akhir diskusi aku menanyakan mengenai
kepastian siapa yang akan menjadi ketua departemenku, aku sangat teringat
jawaban yang dilontarkan dengan candaan oleh mereka berdua, “Lha Asma’ maunya siapa?” aku menjawab, “terserah mau siapa saja, asal jangan si X”.
“Lho, lha kenapa? Atau kalau nggak nemu
kadep, Asma’ yang jadi kadepnya ya..” aku pun menjawab dengan mantap, “nggak mau, terlalu berat berada dalam posisi
itu.” Meski jawaban mereka nampak tidak serius, tapi aku menganggapnya
serius, karena ini amanah yang menurutku sangat berat. “ditunggu 6 hari lagi,” jawab mereka serius tapi masih dengan
suasana bercanda. Aku terdiam...
Setelah 6 hari aku menunggu kepastian, aku menanyakan
mengenai kepastian ketua departemenku melalui pesan singkat. Ternyata masih
belum dapat juga, aku menghela napas panjang sambil kembali aku memberikan
pernyataan, “asal jangan si X” karena
sepertinya kemungkinan si X untuk menjadi ketua departemen itu sangat besar. Kembali
lagi aku ditanya apa alasannya, aku menjawab sejujurnya dan alasan yang
kuberikan adalah alasan syar’i yang
sama sekali tidak mengada-ada. Alasan karena pemikiranku dan pemikiran si X
tidak sejalan, bahkan pemikiran si X itu terlalu frontal bahkan sampai (mungkin)
sampai bisa menjadi boomerang bagi
organisasi ini. Alasanku itu pun diterima, tapi ini sudah menjadi keputusan
syuro dan insya Allah dengan si X itu
dilibatkan lebih dalam organisasi ini dia akan membaik keadaannya, jawab pesan
singkat yang kukirimkan tadi. Artinya, kemungkinan besar memang si X itu yang
akan menjadi ketua departemenku walaupun itu bukan keputusan akhir. Dan....
rasanya ingin sekali menangis.
Aku mencintai organisasi ini sehingga aku menginginkan
yang terbaik (menurutku) untuk organisasi, aku tidak rela kalau organisasi ini
berada di tangan yang tidak tepat. Tapi aku (masih) berharap bahwa bukan dia
yang menjadi ketua departemen ini. Apakah karena aku merasa tidak siap, atau
memang karena nyaliku yang kerdil,, entahlah..
Ya Rabb,,, bolehkah aku meminta... berikan yang terbaik untuk kami...
Aku jadi teringat sebuah potongan ayat yang terdapat
dalam QS. Al-Baqarah: 216, “boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu
baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik
bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Terkadang kita menganggap yang kita
lakukan itu baik jika menguntungkan, terkadang juga menganggap tidak baik jika
merugikan. Tapi ingat Allah Maha
Tahu atas segala hal….
Astaghfirullah,, wallahu a’lam bishawab.
Kini Aku Telah Memilih
Baru aja selesai nonton “Interupsi” di Indosiar,
tentang calon presiden yang diusung oleh partai bernomor urut 3 di pemilu 2014
ini. Partai Keadilan Sejahtera atau yang lebih akrab disebut PKS, partai
berlambang ka’bah-bulan sabit-padi ini merupakan salah satu partai peserta
pemilu 2014 ini. Jujur, sangat terpukau dengan jawaban-jawaban cerdas dari
ketiga bakal calon presiden yang diusung oleh partai bertagline “cinta, kerja, harmoni”. Hidayat Nur Wahid dengan
kecerdasannya dalam menjawab setiap pertanyaan, Anis Matta yang kini menjabat
sebagai presiden PKS begitu nampak memukau, dan Ahmad Heryawan yang kini
menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat ternyata sangat lincah dalam beretorika,
salut dengan ketiganya.
Tapi bukan itu fokus utama pembahasan dalam
tulisan ini. Ketika menonton acara tersebut jadi teringat sesuatu. Partai
Keadilan Sejahtera ini memiliki sebuah wadah untuk anak-anak muda, yang tak
lain anak-anak muda tersebut adalah anak-anak dari kader PKS, yaitu Garuda
Keadilan. Garuda Keadilan ini merupakan gerakan yang bertujuan untuk memberikan
wadah kepada anak kader supaya tetap berada dalam barisan dakwah yang rapi dan
kokoh, istilah gampangnya biar orang tuanya lebih mudah mengontrol anak-anaknya
–kurang lebih seperti itu-. Garuda Keadilan atau GK telah memiliki struktur
kepengurusan, dari mulai tingkat nasional, tingkat wilayah, bahkan tingkat
kota. Dan kemarin pada tanggal 28-29 Desember 2013, Garuda Keadilan Jawa Tengah
baru saja mengadakan Musyawarah Kerja Wilayah yang dihadiri oleh perwakilan
delegasi dari masing-masing kota. Acara ini diadakan di Markas Dakwah Building DPD PKS Kota Semarang. Dan kebetulan
aku diamanahi untuk menjadi panitianya.
Rapat pertama diadakan di kantor DPW PKS Jawa
Tengah, dalam rapat koordinasi pelaksanaan Muskerwil GK Jateng ini dihadiri
oleh Pak Fris, Pak Aris, Pak Ali Umar Dani selaku perwakilan untuk GM-pro dan
dari teman-teman GK Jateng yang pada saat itu ada Azam, mas Galang, Salma,
Fatimah dan tentunya aku sendiri. Masih teringat jelas dan cukup #jleb sekali
dengan pernyataan dari GM-pro, bahwa anak
kader itu diharapkan juga mampu membantu perolehan suara PKS. Misalnya saja
dengan mencoba mengajak teman-teman di sekitarnya untuk milih PKS. Nggak usah
jauh-jauh lah DSnya, minimal teman dari SD-SMP-SMA sama kuliah. Itu kalau
dikumpulin kan juga udah banyak to. Jadinya anak kader juga merasakan apa yang
sedang dirasakan oleh orang tua kalian. Kenapa pernyataan itu bisa #jleb
sekali? Karena selama ini memang kayaknya kita masih ragu-ragu untuk
mempromosikan PKS ke teman-teman dekat kita, kita hanya berani untuk DS ke
orang yang belum kita kenal. Padahal teman-teman kita sendiri bisa jadi lahan
yang siapa tahu justru akan memilih PKS karena kenal dengan kita.
Ini yang membuat aku menjadi berpikir, beranikah
aku untuk mengajak teman-teman yang sudah kukenal untuk memilih PKS. Apalagi pemilu
2014 ini memiliki suara terbanyak dari kaum anak muda. Seharusnya aku bisa
melakukan itu, mungkin perasaan takut itu muncul karena belum pernah mencoba.
Hmm,, akan kucoba untuk memulainya, insya
Allah..
profil singkat PKS
Kamis, 23 Januari 2014
Aku Mencintai Keduanya
Musyawarah Anggota (Musyara) Linguabase pun selesai, dan
kini telah terpilih ketua baru untuk menjadi nahkoda dalam mengarungi bahtera
dakwah di fakultas tercinta, FBS. Sosok ketua yang luar biasa, memberikan
sambutan pertamanya setelah terpilih untuk mengemban amanah dakwah yang mulia
ini.
Lingubase merupakan lembaga dakwah kampus tingkat
fakultas, fakultas luar biasa dengan sejuta warna. Selama berada dalam
kepengurusan aku merasa belum terlalu fokus di linguabase, karena pada saat itu
posisiku di linguabase belum terlalu urgent
dibandingkan tiga amanahku di lain tempat karena secara posisi struktural.
Menjadi staf departemen kaderisasi Linguabase pun belum mampu membuatku bekerja
lebih untuk linguabase. Mungkin karena seringnya aku tak memprioritaskan
Linguabase. Afwan, atas hal ini untuk semua pengusung Linguabase.
Senin, 20 Januari 2014
2011 Punya Cerita
Di awal kita bersua, mencoba untuk mengenali satu sama
lain mencoba untuk mulai memahami sesuatu yang akan terjadi di antara kita. Awal
berada dalam forum 2011 FBS yang terpikirkan hanyalah, apakah kita akan bisa
melangkah bersama, berjuan bersama di kampus ungu yang luar biasa ini?
Mengenal satu persatu sosok luar biasa... dan tak terasa
satu tahun telah terlewati. Dan kini masanya kita, teman-teman 2011 untuk mulai
mengelola fakultas. Diberikan tanggung jawab lebih untuk menjadi motor di
lembaga dakwah tingkat fakultas. Dipertemukan dengan orang-orang luar biasa.
Subhanallah... rasanya bangga sekali memiliki
saudara-saudara seperti kalian;
Langganan:
Postingan (Atom)
















