Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

andai perjuangan ini mudah,pasti ramai menyertainya.. andai perjuangan ini singkat,pasti ramai yang istiqamah.. andai perjuangan ini menjanjikan kesenangan dunia,pasti ramai tertarik padanya.. tapi hakikat perjuangan bukan begitu,turun naiknya,sakit pedihnya,umpama kemanisan yang tak terhingga.. andai rebah,bangkitlah semula.. andai terluka,ingatlah janjiNya.. yakinkan dalam diri, bersama kesulitan ada kemudahan.

Kalimasada

Bersama mereka aku meniti tangga dakwah di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Rohis Kalimasada, Menapaki Asa Menuju Cita Mulia.

Linguabase

Aku menemukan cinta di sini. bahagia bersama pengusung dakwah di fakultasku tercinta, Fakultas Bahasa dan Seni. Menemukan saudara-saudara seperjuangan yang luar biasa.

KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia)

Semua rasa ada di KAMMI, aku mendapatkan semua pembelajaran dari KAMMI. Meski kredo KAMMI terlalu sempurna, tapi aku ingin berupaya untuk itu.. Kami adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersama dakwah ini kemanapun perginya..

Yang Bersabuk Dua

Julukan yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada Asma' binti Abu Bakar. Aku ingin menjadi sosok seperti Asma' binti Abu Bakar, sosok muslimah tangguh yang cerdas dan berani.

Pages

Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Juli 2014

Surat Cinta Mutarabbiku


Semarang, 11 Juli 2014
Tepat setelah waktu berbuka, senja itu.. ketika acara buka bersama rohis fakultas di kampus usai tiba-tiba seseorang menghampiriku. “Ma, ada titipan surat untukmu..”. “Dari?” tanyaku. Ia pun menyerahkan surat itu padaku sambil berbisik, “Dari anakmu..”. Aku hanya mengernyitkan dahi dan menerima sepucuk surat itu. Di depan surat itu tertulis “Untuk: Mbak Asma.” Aku terdiam, berpikir, surat dari siapa ini..

Sesampainya di kos kubuka surat tersebut. Tertulis Untuk: Murabbiku... tulisan itu mengawali isi surat yang aku terima. Aku menghela napas panjang, bismillah.. ada apa gerangan, hal apa yang akan disampaikan oleh salah satu adik binaanku ini kepadaku, sampai-sampai ia harus menulis sebuah surat untukku?

Dan aku membacanya perlahan, memaknai setiap kata yang ia torehkan pada secarik kertas putih itu. Rasa haru menyelimutiku, sungguh aku ingin menangis, menitikkan air mata. Isi surat yang membuatku ingin kembali seperti sedia kala. Sejujurnya, aku memang tengah kecewa padanya, kecewa karena ia menghindar dari sebuah proses yang seharusnya ia jalani. Ketika itu, hampir satu bulan yang lalu aku pernah benar-benar bersikap tegas padanya, bukan marah, hanya sekadar ingin membuka jalan pikirannya, membuka hatinya, menjelaskan padanya. Aku tak tahu apakah ia menangis dan marah padaku atau tidak. Yang jelas, setelah aku bersikap tegas padanya dan aku pergi meninggalkannya aku menangis. Hatiku tak pernah sesesak ini, perih. Aku memang tak pernah marah pada seorang adik, apalagi adik binaanku. Apabila aku sedang kesal pada seseorang, aku akan meninggalkannya sejenak, hingga aku kembali tenang dan kembali seperti sedia kala. Namun yang terjadi pada saat itu, aku tak ingin meninggalkannya, aku ingin memberikan penjelasan dan aku memberikan pilihan padanya terlebih dahulu hingga akhirnya hatiku tak sanggup dan aku pergi meninggalkannya, aku menangis, aku merasa gagal membina seorang adik yang sudah kubidik sejak awal bertemu dengannya. Hingga aku mengatakan padanya, aku tak akan memaksamu lagi.. pada saat itu aku menyerah.

Hingga surat ini ia kirimkan, aku merasa komunikasi kita memang belum lancar seperti sedia kala meskipun ia berada satu amanah denganku. Ia tak meminta untuk liqo lagi, ia tak menghubungiku untuk itu. Aku membiarkannya, seperti pernyataanku padanya, aku tak akan memaksamu lagi. Aku hanya ingin diam untuk saat ini, tidak ingin memaksa lagi. Padahal berbagai rencana besar jangka panjang sudah kupersiapkan untuknya, namun ia tak ingin melakukan proses itu.

Sepucuk surat itu berisikan kesan awal ia mengenalku, perjalanannya selama hampir dua tahun ini mengenalku di jalan dakwah ini, dan permohonan maafnya padaku. Kata-katanya sederhana, namun sangat menyentuh relung hatiku.

Beberapa kalimat terakhir yang ia tuliskan pada sepucuk surat itu yang membuatku ingin membuka hatiku lagi padanya... sungguh, aku ingin memaafkanmu..

“...aku minta maaf mbak, jika hati mbak Asma terluka. Aku rindu mbak Asma insya Allah karena Allah, aku masih ingin belajar dari mbak Asma. Belajar menjadi kader dakwah yang tangguh dan istiqomah. Belajar seutuhnya mencintai dakwah, memberikan harta, jiwa dan raga untuk dakwah. Aku ingin melihat senyum mbak Asma lagi. Aku ingin memperbaiki diri.”

Yaa Rabb, apakah aku bisa ikhlas atas semua ini?
Yaa Rabb, apakah aku masih pantas dianggap sebagai sosok “mbak” yang bisa memberikan keteladanan bagi adik-adikku?
Yaa Rabb, apakah aku masih mampu mengemban amanah ini?
Yaa Rabb, aku tak mampu tanpaMu...

Rasanya sungguh ingin kembali seperti sedia kala, teruntai senyum untuk adik-adikku. Memaafkan memang bukan hal yang mudah, tapi aku ingin berusaha untuk itu.  Aku ingin mengobati perih yang tergores di hatiku. Aku ingin mengobati kekecewaan yang bersemayam di kalbu. Aku tak ingin ada yang tersakiti, aku tak ingin ada yang terluka. Afwan, belum bisa menjadi mbak baik yang untukmu...

Yaa Allah, lapangkanlah hatiku untuk bisa kembali seperti sedia kala..
Yaa Allah, bukakan kalbuku untuk mengikhlaskan semuanya...
Yaa Allah, bimbinglah aku dan adikku ini untuk mampu tegar dan bertahan di jalan dakwah ini, hingga tiada lagi lelah apalagi menyerah..

Yaa Allah, lindungilah kami...

Selasa, 08 Juli 2014

diam


Diam..
Kini sedang mencoba untuk diam dan lebih banyak mendengar.
Bukan karena tak ingin berbicara, hanya sedang ingin lebih merasakan menjadi pendengar.
Bukan tidak ingin menjadi aktif, tapi sedang ingin memberi kesempatan pada yang lain.
Bukan karena tak punya pendapat, aku sedang ingin mendengar pendapat yang lain.

Diam.. seribu bahasa
Tak sekadar diam secara verbal, namun juga diam dalam tindakan.
Bukan tak mau tau, tapi ingin mengenal mereka lebih dekat..mengamati
Bukan tak punya keinginan, tapi menahan hingga mereka bertindak
ya, aku terdiam

Diam.. diam
Sedang ingin terdiam..
Ingin melihat sejauh mana kepekaan dan tanggung jawabnya, kamu.. mereka

maaf, 

Sabtu, 08 Februari 2014

Mahasiswa Seutuhnya


Tak semua orang bisa menjadi seorang mahasiswa. Mahasiswa -yang katanya- kaum intelektual saat ini banyak yang tidak benar-benar seorang mahasiswa. Dari mulai tingkah lakunya, cara berbicaranya, bahkan cara berpikirnya jauh dari kata mahasiswa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,  arti dari kata mahasiswa adalah orang yg belajar (pelajar) di perguruan tinggi. Jadi seharusnya mahasiswa itu benar-benar bisa bersikap dewasa dibanding siswa sekolah. Sehingga terkadang aku berpikir, sudahkah aku menjadi mahasiswa yang seutuhnya?

Menjadi mahasiswa merupakan salah satu kebanggan yang bisa kuhadiahkan untuk kedua orang tuaku, karena ku tahu tak semua orang bisa menjadi mahasiswa. Menjadi mahasiswa yang seutuhnya, bagaimana ini? Aku hanya ingin sedikit berbagi cerita tentang bagaimana usahaku untuk menjadi mahasiswa seutuhnya.

Pada tahun pertama aku kuliah, aku ngelaju -bolak-balik kampus- untuk menimba ilmu di kampus. Jarak dari rumah ke kampus cukup jauh, sekitar 45 menit kalau naik motor dengan kecepatan 60 km/jam, tapi kalau naik angkot bisa hampir 2 jam karena angkot yang ngetem dan jalannya lama banget. Aku senang menjadi mahasiswa, apalagi di tahun perdanaku ini. Aku bebas berekspresi, aku bebas menjadi apa yang kumau, pikirku. Di tahun pertamaku ini aku sangat semangat untuk kuliah bahkan tak hanya kuliah yang kulakukan tapi aku juga mengikuti empat organisasi di kampus, maklum namanya juga mahasiswa baru yang ingin mencicipi organisasi di kampus. Apalagi dunia kampus jauh berbeda dengan dunia sekolah, individualitas yang sangat tinggi. Tapi Alhamdulillah aku menemukan lingkungan yang cukup nyaman, sehingga hanya ada rasa ukhuwah yang membumbui setiap interaksi.

Aku tak ingin menjadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang, tak ada sesuatu yang membangkitkan semangat di kampus kalau seperti itu, aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menjadi mahasiswa apalagi di tahun pertamaku ini.

Untuk tahun pertamaku menjadi mahasiswa bisa dikatakan aku memiliki aktivitas yang cukup padat, dan dari sinilah aku belajar mengatur waktuku dengan baik. Aku berangkat ke kampus dari rumah pukul 05.00 dan sampai kampus pukul 06.00 karena biasanya ada syuro atau rapat di pagi hari. Kemudian kuliah pukul 07.00 sampai pukul 15.00, meski tidak full tapi kurang lebih seperti itulah jadwal kuliahku di tahun pertamaku. Seusai kuliah aku langsung melaju kendaraanku untuk mengajar TPQ di kompleks Bea Cukai Semarang. Mengajar TPQ dari pukul 16.00 sampai maghrib menjelang. Setelah pulang ke rumah aku bersih diri, salat dan berisitirahat sejenak. Karena pukul 18.30 aku harus ngelesi sampai pukul 20.00. Setelah pulang ngelesi aku baru makan malam dan mengerjakan tugas kampus. Itulah rutinitas yang kulakukan hampir setiap hari. Kalau dipikir-pikir, kok bisa ya aku melakukan hal itu. Memulai aktivitas pukul 05.00 dan baru beristirahat pukul 20.00. Aku terkadang khawatir dengan hasil dengan hasil UASku, karena jujur aku jarang belajar kalau memang tak ada tugas. Apalagi dengan rutinitas yang menurutku sangat padat itu terkadang aku langsung tidur setelah pulang ngelesi karena badan yang terasa sangat lelah. Tapi Allah memang sayang padaku, aku teringat dengan janjiNya yang berada di QS. Muhammad: 7. Saat yudisium pertamaku, aku diberikan kesempatan untuk mendapatkan indeks prestasi pertama dengan predikat cumlaude. Alhamdulillah..Tapi di semester kedua indeks prestasiku turun drastis, tidak lagi cumlaude meski masih di tingkat aman (lebih dari 3,0) karena mungkin aku terlalu bersemangat berorganisasi sehingga jarang sekali belajar apalagi menjelang UAS.

Di tahun kedua aku memutuskan untuk ngekos, karena jarak rumah-kampus cukup jauh dan bisa dibilang cukup melelahkan. Di kos inilah aku -kata orang- menjadi seorang aktivis, aktivis organisasi tentunya. Karena amanahku di organisasi bertambah, bukan bertambah secara kuantitas tapi bertambah bebannya. Aku mengikuti empat organisasi (2 organisasi da’awi, 1 organisasi siyasi, 1 organisasi ilmi), beberapa organisasi yang kuikuti di tahun keduaku ini berbeda. Tapi posisinya bisa dibilang strategis secara struktur keorganisasian. Dari empat organisasi ini, aku berada di posisi PH+. Jujur, cukup berat apalagi di pertengahan periode kepengurusan karena banyaknya pengurus yang mulai bergelimpangan. Meski rutinitas tak sepadat ketika di tahun pertama, aku merasakan tahun kedua ini cukup berat. Karena tugas kuliah yang semakin menggunung dan kerja-kerja amanah yang tak ada henti-hentinya. Di tahun kedua ini aku mengajar sebuah TPQ kecil di dekat kampus, setelah ditawari oleh seorang mbak dan aku mengiyakan. Aktivitasku dimulai pukul 06.00 dan berakhir pada waktu maghrib, terkadang ada rapat yang mengharuskanku pulang hingga larut malam atau bahkan pagi, pulang rapat pukul 23.00 atau bahkan pukul 03.00 itu membuatku mulai terbiasa. Pada tahun ini aku cukup bisa mengatur waktuku, meski tak sesempurna yang kuinginkan. Dan aku cukup menikmati ritme di semester tiga dan empat ini. Hasilnya pun kutuai dengan indeks prestasi yang meningkat. Sekali lagi, aku percaya dengan janji Allah yang termaktub dalam QS. Muhammad: 7.

Di tahun ketigaku inilah semuanya kembali bergejolak. Masih dengan suasana ngekos, meski dengan kos yang berbeda. Berbeda dengan kos sebelumnya yang memang aku termasuk anak kos yang masih “diasuh” oleh mbak-mbak kos yang lebih tua, tapi di kos yang baru ini aku merupakan mahasiswa dengan semester paling tua, padahal baru semester 5. Penghuni kos ini ada 8 orang, separuh dari jumlah kosku pertama yang berjumlah 16 orang. Di kos yang baru ini ada aku dan sahabatku, Arum yang kita seangkatan. Kemudian satu orang adik semester 3 dan sisanya semester 1. Bayangkan saja, di kos ini aku dan Arum harus “mengasuh” adik-adik kos yang lain. Karena memang aku tinggal di kos binaan, sehingga sistem pembinaan harus berjalan dengan baik. Arum sebagai PJ pembinaan dan aku sebagai ketua kos. Amanah tambahan di semester ini yang menurutku cukup rumit, tapi kusikapi dengan menyenangkan. Karena amanah itu akan terasa indah kalau dijalankan, bukan sekadar diratapi. Di semester ini tugas kuliah semakin menggunung, apalagi aku mengambil mata kuliah drama yang di mata kuliah ini sangat menguras tenaga, pikiran bahkan materi. Beberapa amanah mulai tak fokus, meski aku berusaha untuk fokus. Tugas-tugas kuliah pun mulai keteteran, bahkan untuk mengerjakan tugas pun kalau nggak the power of kepepet nggak bakalan jadi itu tugas. Mata kuliah drama ini sangat menguras tenaga, bagaimana tidak, hampir setiap hari latihan drama dari pukul 19.30 sampai pukul 23.00 tak jarang kami harus pulang pukul 03.00 pagi. Dan pagi sampai maghrib harus beraktivitas untuk kuliah dan organisasi.

Bahkan di akhir-akhir semester empat ini aku mengalami kekacauan yang luar biasa. Karena (mungkin) terlalu lelah dengan drama itu. Semua tugas tertumpuk dan semuanya hanya digarap dalam waktu semalam suntuk ketika deadline adalah esok harinya. Hingga menjelang yudisium aku benar-benar khawatir dengan indeks prestasiku. Karena aku merasa sangat tidak maksimal dalam menjalani semester ini. Manajemen waktu yang nyaris kacau, entahlah. Hingga pada saat yudisium pun aku sangat takut, takut ketika indek prestasiku merosot tajam. Ketika aku membuka hasil yudisiumku.. deg! Nilaiku justru meningkat tajam, alhamdulillah nilai cumlaude berhasil kukantongi kembali. Aku kembali teringat janjiNya, QS. Muhammad: 7. Aku merasakan benar-benar janji Allah ini.. Ya Allah, semoga indeks prestasiku kembali meningkat dan barokah. Aaamiin...

Jadi, yuk kita bersama-sama berusaha menjadi mahasiswa seutuhnya. Mahasiswa dengan indeks prestasi baik, organisasi lancar dan berada di jalan dakwah. Insya Allah..

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menolong agama Allah maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

QS. Muhammad: 7

Jumat, 31 Januari 2014

Bolehkan Aku Bersikap??


Katanya amanah itu tak boleh diminta, tapi bolehkah aku memilih??
Katanya amanah itu dibebankan untuk pundak yang tepat, tapi bolehkah aku berharap??

Entahlah, akhir-akhir ini begitu galau dengan amanah yang baru saja diberikan untuk pundak yang lemah ini. Amanah-amanah yang bagiku sangat berat dan aku hanya berharap Allah memberikan kekuatan bagi pundakku agar mampu menopangnya. Dalam satu minggu aku diminta untuk menjadi bagian dalam struktural (inti) dua buah organisasi yang membuatku jatuh cinta terhadap keduanya. Organisasi yang membuatku tak mampu memilih salah satu di antara keduanya. Dengan posisi yang sama, menjadi sekretaris departemen.

Untuk amanah yang datang pertama aku sudah menebaknya dan tebakanku benar, bahkan untuk ketua departemennya pun aku sudah bisa menebaknya. Karena memang kami pernah berada dalam amanah yang sama. Meski agak sedikit ragu, tapi aku berusaha untuk memantapkan hatiku bahwa aku bisa dan aku mampu. Karena partner amanahku tidak diragukan lagi kapasitasnya di departemen yang akan kami gawangi. Dan insya Allah tidak ada masalah yang akan membersamai amanah kami di organisasi ini.

Selanjutnya untuk amanah kedua, yang sampai detik ini aku masih sangat ragu. Keraguan itu sudah hadir semenjak aku ‘dipinang’ untuk berada dalam amanah ini. Amanah yang berat, bahkan sangat berat. Aku sangat ragu, karena aku (bisa dianggap) sama sekali tidak memahami departemen ini. Apalagi mengingat posisiku yang dijadikan sebagai sekretaris departemen, yang –kata mereka- dianggap mampu untuk berada dalam posisi ini. Kegalauanku pun memuncak, ketika sosialisasi PH+ ternyata departemenku belum mendapatkan ketua, bayangkan saja di saat aku tengah galau dengan posisiku sebagai sekretaris departemen yang tak paham seluk belum departemen ini aku belum memiliki seorang ketua.  

Seusai sosialisasi, aku mengirimkan sebuah pesan singkat kepada orang yang memang sudah paham dengan departemen tersebut. Setelah aku menyampaikan kegalauanku tentang ketidakpahamanku terhadap kerja departemen tersebut, aku dipersilakan untuk bisa berdiskusi dengannya dan aku pun mengiyakan. Akhirnya aku berdiskusi dengan dua orang yang memang mereka sudah sangat paham sekali dengan departemen tersebut, pikiranku pun terbuka dan aku mulai memahami departemen tersebut. Di akhir diskusi aku menanyakan mengenai kepastian siapa yang akan menjadi ketua departemenku, aku sangat teringat jawaban yang dilontarkan dengan candaan oleh mereka berdua, “Lha Asma’ maunya siapa?” aku menjawab, “terserah mau siapa saja, asal jangan si X”. “Lho, lha kenapa? Atau kalau nggak nemu kadep, Asma’ yang jadi kadepnya ya..” aku pun menjawab dengan mantap, “nggak mau, terlalu berat berada dalam posisi itu.” Meski jawaban mereka nampak tidak serius, tapi aku menganggapnya serius, karena ini amanah yang menurutku sangat berat. “ditunggu 6 hari lagi,” jawab mereka serius tapi masih dengan suasana bercanda. Aku terdiam...

Setelah 6 hari aku menunggu kepastian, aku menanyakan mengenai kepastian ketua departemenku melalui pesan singkat. Ternyata masih belum dapat juga, aku menghela napas panjang sambil kembali aku memberikan pernyataan, “asal jangan si X” karena sepertinya kemungkinan si X untuk menjadi ketua departemen itu sangat besar. Kembali lagi aku ditanya apa alasannya, aku menjawab sejujurnya dan alasan yang kuberikan adalah alasan syar’i yang sama sekali tidak mengada-ada. Alasan karena pemikiranku dan pemikiran si X tidak sejalan, bahkan pemikiran si X itu terlalu frontal bahkan sampai (mungkin) sampai bisa menjadi boomerang bagi organisasi ini. Alasanku itu pun diterima, tapi ini sudah menjadi keputusan syuro dan insya Allah dengan si X itu dilibatkan lebih dalam organisasi ini dia akan membaik keadaannya, jawab pesan singkat yang kukirimkan tadi. Artinya, kemungkinan besar memang si X itu yang akan menjadi ketua departemenku walaupun itu bukan keputusan akhir. Dan.... rasanya ingin sekali menangis.

Aku mencintai organisasi ini sehingga aku menginginkan yang terbaik (menurutku) untuk organisasi, aku tidak rela kalau organisasi ini berada di tangan yang tidak tepat. Tapi aku (masih) berharap bahwa bukan dia yang menjadi ketua departemen ini. Apakah karena aku merasa tidak siap, atau memang karena nyaliku yang kerdil,, entahlah..

Ya Rabb,,, bolehkah aku meminta... berikan yang terbaik untuk kami...
Aku jadi teringat sebuah potongan ayat yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 216, “boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Terkadang kita menganggap yang kita lakukan itu baik jika menguntungkan, terkadang juga menganggap tidak baik jika merugikan. Tapi ingat Allah Maha Tahu atas segala hal….

Astaghfirullah,, wallahu a’lam bishawab. 

Kamis, 23 Januari 2014

Aku Mencintai Keduanya



Musyawarah Anggota (Musyara) Linguabase pun selesai, dan kini telah terpilih ketua baru untuk menjadi nahkoda dalam mengarungi bahtera dakwah di fakultas tercinta, FBS. Sosok ketua yang luar biasa, memberikan sambutan pertamanya setelah terpilih untuk mengemban amanah dakwah yang mulia ini.

Lingubase merupakan lembaga dakwah kampus tingkat fakultas, fakultas luar biasa dengan sejuta warna. Selama berada dalam kepengurusan aku merasa belum terlalu fokus di linguabase, karena pada saat itu posisiku di linguabase belum terlalu urgent dibandingkan tiga amanahku di lain tempat karena secara posisi struktural. Menjadi staf departemen kaderisasi Linguabase pun belum mampu membuatku bekerja lebih untuk linguabase. Mungkin karena seringnya aku tak memprioritaskan Linguabase. Afwan, atas hal ini untuk semua pengusung Linguabase. 

Senin, 20 Januari 2014

2011 Punya Cerita


Di awal kita bersua, mencoba untuk mengenali satu sama lain mencoba untuk mulai memahami sesuatu yang akan terjadi di antara kita. Awal berada dalam forum 2011 FBS yang terpikirkan hanyalah, apakah kita akan bisa melangkah bersama, berjuan bersama di kampus ungu yang luar biasa ini?
Mengenal satu persatu sosok luar biasa... dan tak terasa satu tahun telah terlewati. Dan kini masanya kita, teman-teman 2011 untuk mulai mengelola fakultas. Diberikan tanggung jawab lebih untuk menjadi motor di lembaga dakwah tingkat fakultas. Dipertemukan dengan orang-orang luar biasa.
Subhanallah... rasanya bangga sekali memiliki saudara-saudara seperti kalian;

Rabu, 20 November 2013

Hijabku Muliakanku


Sedikit bercerita tentang pengalaman berhijab ya.. menurut cerita orang tua, aku sudah dikenalkan dengan kerudung sejak usia 2 hari, tepatnya setelah aku boleh keluar dari rumah persalinan setelah 9 bulan 10 hari berada di rahim umiku tercinta. Ya, meski di usia 2 hari itu aku belum mengetahui sama sekali tentang aurat, tapi kata umiku untuk menanamkan akhlaqul karimah itu bisa dilaksanakan sejak dini. Dan sejak saat itu aku sudah dibiasakan untuk selalu mengenakan jilbab ketika keluar rumah ataupun bertemu dengan yang bukan muhrim.

Tapi sejujurnya, aku baru bisa berhijab secara sempurna (mengenakan rok, jilbab syar’i dan menggunakan kaos kaki) dan istiqomah (insya Allah) sejak SMA. Karena sejak saat itulah aku baru benar-benar MEMAHAMI dan MENYADARI tentang hijabku ini sebagai identitasku karena aku seorang muslimah.

Hijab yang baik dan benar bagi seorang muslimah itu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi; kerudung menutup dada, longgar dan tidak ketat, tebal, tidak menyerupai kaum lain, tidak bermegah-megahan dan yang terpenting adalah karena Allah.

Nah, ada punya beberapa tips berdasarkan cerita yang kualami sendiri tentang berhijab yang baik, benar dan yang terpenting tidak mengundang pertanyaan dari orang lain terutama dari lawan jenis kita (ikhwan).

Yang pertama, apabila mengenakan pakaian sesuaikan dengan ukuran tubuh kita. Tidak kekecilan dan juga tidak terlalu besar sehingga nampak tidak proporsional. Karena suatu saat pernah aku mengenakan jaket yang ukurannya terlihat besar di mata orang lain (sebenarnya nggak terlalu besar juga sih kalau menurutku, karena aku sudah terbiasa dan nyaman dengan jaket itu). Tiba-tiba ketika aku sedang mengenakan jaket itu ada ikhwan yang menanyakan secara langsung, “Ukh, itu jaketnya ukuran apa? Kalau jaketnya diganti yang satu ukuran lebih kecil kayaknya lebih pas deh.” Karena agak kesal dengan pernyataan tersebut maka kujawab, “Mending kebesaran daripada kekecilan.”

Selasa, 27 Agustus 2013

Alam, Yes!



“Siapa yang mau ikut ke pasar malam hari ini?” seluruh penghuni kos langsung ramai. Mereka langsung ribut membicarakan persiapan buat ke pasar malam. Sedangkan aku dan dua orang penghuni kos hanya stay cool dan tetap asyik menonton tv daripada mengiyakan ajakan teman-teman kos itu.

“Memangnya ke pasar malam ngapain? Paling juga Cuma lihat-lihat orang jualan aja, nggak ada yang bisa dinikmati juga. Mau naik mainan di sana juga sangat tidak memungkinkan. Dan yang paling bikin males adalah ramai dan terkesan sumpek.” Pikirku dalam hati.

Mungkin berbeda dengan kebanyakan perempuan yang hobinya jalan-jalan ke mall atau tempat perbelanjaan lainnya. Aku sangat tidak suka diajak pergi ke tempat seperti itu. 

Jumat, 19 Juli 2013

Apa yang membuatku ingin menulis?


Aku ingin menulis karena aku ingin menuangkan setiap gagasanku ke dalam sebuah tulisan. Ya, tulisan. Tulisan yang akan menjadi saksi ketika aku ingin menuangkan sesuatu.

Aku ingin menulis apa pun yang kumau, aku tak ingin dikekang oleh siapa pun. Karena dengan menulis, aku dapat menumpahkan seluruh pikiranku. Ke dalam sebuah tulisan, ketika aku tak mampu mengungkapkannya kepada seorang pun.

Aku ingin menulis karena aku dengan menulis aku bisa menjadi apapun. Ya, apapun yang aku mau. Katanya seorang penulis itu bebas, bebas mengungkapkan isi hatinya. Meski ia sendiri tak tahu mengapa tulisan itu harus dibuatnya.

Aku ingin menulis dengan sepenuh jiwaku. Sepenuh pikiranku dan sepenuh perasaanku. Dengan menulis, aku mnejadi lebih bisa legowo. Ketika aku merasa ada sesuatu yang tengah menahan egoku.

Aku ingin menulis, hanya ingin menulis. Menulis dan menulis, aku mau menulis.  

Rabu, 08 Agustus 2012

[Episode 18] Meletakkan Cinta





 “Farah…” teriak Rina yang baru saja keluar dari kantor jurusan. Aku yang asyik membaca beberapa pengumuman di mading tak menghiraukannya sama sekali.

            “Hei, kamu dipanggil kok malah diem sih. Lagi baca apaan?” Tanya Rina sambil melemparkan pandangannya ke arah mading.
            “Ini, ada lowongan beasiswa Rin. Minat nggak?”
            “Minat sih, tapi…” sambil memikirkan sesuatu, Rina langsung teringat tujuan utamanya memanggilku. “Ayo, katanya mau ke perpus pusat. Sekarang yuk..”
            “Oh iya ya, aku lupa. Hehe.. sekarang?” aku sedikit menggodanya.
            “Ih.. tahun depan! Ya sekarang dong, ayo..”
            “Baik tuan putri cantik….” Aku dan Rina pun bergegas menuju tempat parkir motor dan mengambil kuda besi merah kesayanganku.

===

            Perpustakaan pusat Unnes memang lebih terlihat sepi dibandingkan dengan perpustakaan di jurusan. Mungkin karena ruangannya yang lebih besar sehingga terlihat lebih longgar dengan pengunjung yang hamper sama jumlahnya.
            “Kamu nyari buku apaan sih?” tanyaku pada Rina yang sibuk mengitari rak-rak buku bagian sastra.
            “Kan tadi pagi aku udah bilang, referensi buat tugas Teori Sastra.”
            “Memang kamu dapat materi bagian apa?”
            “Pendekatan sastra berdasarkan biografi pengarang, aku bingung nih.. Dari kemarin nyari nggak ketemu juga.”
            “Yah, kalau Cuma tentang itu aku juga punya. Kirain tentang yang Pendekatan berdasarkan psikologi atau yang fantasi.”
            “Kamu kenapa nggak bilang sih…” Rina berkacak pinggang padaku, raut mukanya mulai kusut. Sepertinya Rina sedikit marah padaku.
            “Hehe, piss Rin..” aku hanya nyengir kuda. Sengaja memang kukerjain Rina. “Jangan marah ya, kamu cantik deh. Laper nggak? Makan mie ayam yuk..” ajakku sambil menggandeng tangannya yang masih melingkar di pinggangnya. Rina hanya tersenyum, tanda dirinya setuju dengan ajakanku.
            “Ayo, cepetan Rin.” Desakku karena aku melihat sosok yang cukup mencurigakan.
            “Assalamu’alaikum, ukhti..” yah, terlambat, pikirku dalam hati. Akh Yusuf yang tengah bersama temannya di dalam perpustakaan menyapa kami berdua. Padahal aku baru saja hendak menghindar darinya.

[Episode 17] Meletakkan Cinta


  “Assalamu’alaikum ukhti, afwan atas ketidaknyamanan yang anti rasakan karena saya. Saya hanya tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Syukron.”

                “Isi smsnya aneh ya mbak?” tanyaku meminta pendapat pada mbak Ica.

                “Kok malah aneh, memang aneh gimana dek?”

                “Aku jadi tambah bingung mbak, bukannya ikhwan itu tidak terlalu main perasaan ya mbak? Kok ini aku ngerasanya akh Yusuf yang lebih sensitif. Padahal kan akunya biasa aja mbak..”

                “Ooohh.. hehe, mungkin beliau takut melukai perasaan anti, jadinya nggak ingin masalah ini berlarut-larut.”

                “Aku sebenernya sudah mulai melupakan masalah ini mbak, tapi akh Yusuf yang sering meminta maaf gitu malah bikin aku terus ingat mbak. Harusnya akh Yusuf nggak perlu kayak gitu banget...”

                “Iya dek, mungkin akh Yusuf takut.”

                “Takut, takut kenapa mbak?”

                “Takut emm, takut apa ya... takut kehilangan anti mungkin.... hehehe” mbak Ica dengan santainya mengucapkan kalimat itu dan tiba-tiba pergi meninggalkan kamar.

                Ah, mbak Ica kebiasaan. Kalau diajak bicara serius sukanya malah bercanda kayak gitu. Tapi tanpa kusadari perkataan mbak Ica baru saja terus saja terngiang-ngiang di pikiranku. Mengapa seakan-akan aku mengiyakan kalimat mbak Ica tersebut ya.

===

                “Dek, dek Farah bangun. Katanya mau shaum, ayo sahur bersama teman-teman yang lain..” mbak Ica perlahan membangunkanku. Rasa malas masih saja menggelayutiku.

                “Pukul berapa sekarang mbak?” aku membalikkan badanku ke arah mbak Ica.

                “Pukul 02.30. Ayo buruan, belum qiyamul lail juga, kan?” mbak Ica menarik gulingku yang masih saja erat kurangkul.

                “Iya mbak, ehm... pagi sekali..”

                “Ayo, katanya mau jadi akhwat beneran..” mbak Ica selalu saja ada ide untuk menggodaku.

                “Memang sekarang aku belum jadi akhwat beneran ya mbak?”

                “Insya Allah sudah kok, kan sudah bisa menjaga hijab dengan...... kabuuuuuuurrrrr...” mbak Ica tiba-tiba menghilang dari hadapanku.

                “Ah, mbak Ica..” tanpa kusadari senyum mengembang di bibirku. “Astaghfirullah, kenapa aku ini jadi mikir yang enggak-enggak sih..”

Sabtu, 26 Mei 2012

'kamu'



"Subhanallah..
Aku kagum dengan mindsetmu,
dengan perilakumu,
dengan prestasimu,
dengan perjuanganmu,
dengan semangatmu,
dengan komitmenmu,
dengan sosokmu..

Dan aku ingin menjadi sepertimu, bahkan LEBIH BAIK darimu^^"

Ketika pertama mengenal sosokmu, memang tiada sesuatu yang istimewa. Semuanya terlihat biasa saja, bahkan mungkin terkesan tidak penting ketika aku menyaksikan sosokmu.

Tapi semakin hari, semakin aku mengetahui namamu, identitas kecilmu.
Hingga suatu saat, aku mulai mengetahui tentang perjuanganmu. Prestasimu yang menjulang, amanahmu yang menggunung, tingkat kepercayaan pihak birokrasi padamu dan komitmen nyatamu.

Tahukah kamu, sejak saat itu aku benar-benar mengagumimu.
Kesederhanaanmu masih tetap,
kewibawaanmu makin terpancar,
ketawadhuanmu semakin bertambah,
keramahanmu terus kau tebar..

Dan aku menjadi iri denganmu,
dengan mindsetmu,
dengan perilakumu,
dengan prestasimu,
dengan perjuanganmu,
dengan semangatmu,
dengan komitmenmu,
dengan sosokmu..

Dan kau masih sanggup mengayomiku, dia, dan kami semua..

Ketika aku berada di dekatmu,
aku merasa sangat tak pantas bersanding denganmu..

Ajari aku,
ajari aku,
ajari aku,
untuk bisa menjadi sepertimu,
bahkan lebih baik darimu..

'kamu'

Sabtu, 14 April 2012

[episode 16] Meletakkan Cinta


Aku memandang senja di ufuk barat, terlalu indah untuk dilukiskan dengan kata-kata. Ketika sang surya mulai istirahat ke peraduannya, rasa syukurku tak akan dapat kusampaikan padaNya karena begitu luas rahmat dan kasih sayang yang diberikanNya padaku. Aku merasa begitu tenang, hatiku menjadi tenteram.
Setelah mendirikan sholat asar, aku ingin sejenak menyegarkan pikiran dan perasaanku. Kulangkahkan kakiku menuju embung tak jauh dari fakultasku. Tak henti-hentinya kuucapkan dzikir dengan lirih. Sambil menikmati udara sore yang sangat sejuk ini.
Embung sore ini tak nampak ramai seperti biasanya, sehingga kuberanikan diriku menuju ke embung seorang diri. Menghilang dari kesibukanku sejenak, karena aku benar-benar butuh waktu untuk menyendiri dan bermuhasabah.
Kulangkahkan kakiku ke gazebo tengah embung, menyusuri taman-taman di sekeliling embung dan menapakkan kakiku ke jembatan kayu menuju gazebo tengah embung. Aku berdiri di ujung kanan gazebo memandang kolam di bawah gazebo. Ikan-ikan kecil nampak berenang riang dan aku ikut merasakan kesenangan mereka. Bola mataku menyapu sekeliling embung, dan tiba-tiba pandanganku berhenti pada sosok agak tinggi di ujung kiri gazebo. Postur tubuhnya yang tak asing bagiku membuatku sedikit berpikir, nampaknya aku mengenali sosok ini. Sedikit penasaran, namun akhirnya aku kembali melemparkan pandanganku ke arah ikan-ikan kecil di bawah gazebo ini.
“Suka ke sini juga ukhti?” sosok itu mengawali pembicaraannya. Nampaknya Ia sadar kalau tadi aku sempat memerhatikannya.

Selasa, 20 Maret 2012

[episode 14] Meletakkan Cinta


“Sebenarnya idenya biasa aja sih dek, sama dengan kebanyakan ikhwan atau akhwat lain kalau yang bermasalah. Kita laporkan ke murobbinya aja, gimana?”

“Memang mbak Ica tahu siapa murobbinya akh Yusuf?” tanyaku sambil menyeka air mataku yang mulai bisa kutahan.

“Kalau itu masalah gampang, dek. Banyak jalan menuju Roma, iya nggak anak Bahasa Indonesia..” mbak Ica paling bisa menghiburku. Dan aku hanya mengangguk perlahan, tanda setuju terhadap ide yang dicetuskan mbak Ica. Dan menurutku memang jalan ini sangat tepat. Kalau memang akh Yusuf itu ‘ikhwan beneran’, iya pasti akan sangat memperhatikan nasihat murobbinya.

===

Belum genap satu minggu mbak Ica sudah mendapatkan info tentang murobbi akh Yusuf dan juga sudah melaporkan hal ini kepada murobbinya tersebut. Entah bagaimana caranya, yang jelas mbak Ica sudah menyelesaikan masalah ini ke murobbi akh Yusuf.

“Alhamdulillah dek, tugas mbak untuk pemberitahuan ke murobbi akh Yusuf sudah beres. Tinggal kita menunggu reaksinya aja.” Ucap mbak Ica mengawali pembicaraan kami.

“Cepet banget mbak.. Siap mbakku sayang, setelah ada aksi kita tinggal nunggu reaksinya aja ya. Kayak pelajaran Fisika waktu SMA dulu aja.” Aku tersenyum pada mbak Ica.

“Tugas apa lagi yang siap saya terima nyonya?” Mbak Ica membalas senyumanku dengan senyuman yang lebih manis.

Selasa, 06 Maret 2012

[episode 12] Meletakkan Cinta



Tapi kali ini aku tak boleh gegabah. Aku teringat kata-kata yang diucapkan mbak Ica kepadaku, “Bukan dengan cara seperti ini anti mengingatkan, adek sayang. Lebih baik, anti mengatakan hal ini pada mbak-mbak yang lain dulu. Butuh proses untuk meluruskannya. Tidak bisa gegabah seperti ini. Anti nggak mau malah timbul fitnah kan?” Aku bisa memahami kalimat mbak Ica ini.

===

Seminggu berselang, akhirnya ujian tengah semester selesai juga. Hari Ahad ini tidak ada kesibukan seperti ahad-ahad biasanya. Tak ada agenda yang cukup penting, sehingga bisa santai di kos. Melepas lelah setelah menempuh ujian tengah semester.

“Mbak Ica, Farah boleh bilang sesuatu ke mbak Ica nggak?” tanyaku mendekati mbak Ica yang sedang membereskan kasur karena hari ini jadwal piketnya.

“Bilang apa dek? Bilang aja..” mbak Ica masih memegang sapu lidi untuk membereskan debu-debu yang menempel di seprei.

“Emm, penting mbak...” jawabku terbata-bata penuh keraguan.

Jumat, 17 Februari 2012

[episode 11] Meletakkan Cinta




Hmmh.. aku menarik nafas panjang, kuberanikan diri untuk menjawab pertanyaan mbak Ica. “Tadi saat aku bertanya pada akh Yusuf, aku yakin bahwa apa yang aku lakukan benar mbak. Karena rasa penasaranku telah bergemuruh dalam dadaku. Iya, aku memang bukan siapa-siapanya akh Yusuf. Benar juga apa yang ditanyakan mbak Ica, aku juga belum mengenal sosok akh Yusuf itu bagaimana.”

“Apakah benar-benar yakin dengan keputusan tadi itu?” nampaknya mbak Ica belum puas dengan jawabanku.

Aku hanya dapat mengangguk perlahan, mbak Ica membuatku semakin bingung. “Sebenarnya memang ada sedikit rasa ragu untuk menanyakan hal ini pada akh Yusuf mbak.”

“Nah, sudah tahu begitu kenapa ditanyakan, dek Farah manis..?” mbak Ica memandangku. Aku menghindari bertatap dengan mata bulatnya.

“Tapi aku penasaran mbak...” aku mulai membela diriku, nada rendah kusampaikan dengan suara gemetar.

“Begini dek Farah sayang, anti sadarkan dengan apa yang anti lakukan ini? Tidak baik menanyakan sesuatu yang seperti itu kepada lawan jenis. Kalau memang anti penasaran, tanyakan dulu pada mbak-mbak atau teman akhwat yang lain. Karena apa, ketika anti menanyakan hal itu bukankah seakan-akan juga tidak ada hijab antara anti dan akh Yusuf? Ber-sms dengan lawan jenis itu ada batasnya. Selama tidak penting, lebih baik tidak saling mengirim atau membalas sms tersebut. Bagaimana?” mbak Ica menjelaskan tentang apa yang seharusnya kulakukan. Aku hanya bisa diam membisu.

“Tapi bukannya apa yang dilakukan akh Yusuf itu salah mbak? Dia tidak menjaga hijabnya dengan lawan jenis. Apalagi akh Yusuf itu ketua BEM yang juga anak rohis yang seharusnya mengetahui bagaimana menjaga hijab itu. Di sini aku memosisikan diri untuk mengingatkannya, mbak..”

“Bukan dengan cara seperti ini anti mengingatkan, adek sayang. Lebih baik,

Jumat, 10 Februari 2012

[episode 10] Meletakkan Cinta



“Nggak kenapa-kenapa akh, hanya ingin tahu saja. Kalau memang tidak berkenan untuk menjawab tidak apa-apa. Afwan,” aku memutuskan untuk mengakhiri sms ini. Rasa bersalah yang semakin membuncah dalam dada sudah tak dapat kubendung lagi. Bayang-bayang sesuatu yang tidak nyaman telah memenuhi ruang pikiranku. Aku kembali pesimis dengan keputusanku barusan yang mendadak aku ambil. Aku memang terlalu terburu-buru mengambil keputusan ini.

“Bukan gitu maksud saya ukh, afwan jika anti kurang berkenan. Boleh langsung saya jawab pertanyaan anti tadi?” akh Yusuf memastikan pertanyaanku sebelumnya.

“Enggak apa-apa, Akh. Tafadhol kalau memang mau dijawab.” Balasku datar. Kali ini harapanku akh Yusuf akan menjawab pertanyaanku tidak terlalu besar. Pikiran dan perasaanku terus saja beradu dengan begitu hebatnya.

Kulangkahkan kakiku menyusuri jalan setapak samping kampus FBS. Tak ada ekspresi yang ditampakkan dari wajahku. Hanya bingkai-bingkai rasa penyesalan yang membubuh di dada. Belum ada tiga menit kususuri jalanan kampus FBS, hpku kembali bergetar. Satu pesan singkat masuk, dari akh Yusuf. Harapan yang sempat hilang, sedikit muncul diantara tumpukan penyesalan. Kubuka perlahan sms dari akh Yusuf tersebut, perlahan tapi pasti.

“Bismillah, semoga jawaban saya tidak mengecewakan anti. Selama ini saya masih berusaha menjaga hijab dengan lawan jenis saya. Masih berusaha gadhul bashar dengan mereka. Saya pun masih belum bisa seperti ikhwan lain yang sudah benar-benar bisa menjaga hijab mereka. Sekiranya ini jawaban yang bisa saya berikan, ukhti.” Sms dari akh Yusuf nampaknya memunculkan sebuah keseriusan menjawab. Tapi, aku masih belum puas atas jawaban akh Yusuf ini. Aku masih sangat penasaran pada jawaban yang sepertinya ada yang masih disembunyikan akh Yusuf.

“Bolehkah saya bertanya lagi, Akh?” aku langsung membalas sms akh Yusuf secepat kilat. Rona penasaran kembali tersirat dalam hatiku. Seakan-akan aku melupakan kekecewaan yang baru saja terbias dalam hatiku.

Rabu, 08 Februari 2012

[episode 9] Meletakkan Cinta


Aku semakin merasakan sesuatu yang aneh pada diri akh Yusuf, dia semakin berbeda dengan akh Yusuf yang aku lihat sebelum-sebelumnya. Menurut pendapat kebanyakan orang akh Yusuf begitu menjaga hijabnya, terutama dengan para akhwat. Tapi nampaknya, pribadi seperti itu tidak kulihat pada diri akh Yusuf. akh Yusuf masih berinteraksi dengan lawan jenis layaknya mahasiswa yang lain layaknya mahasiswa pada umumnya, mungkin karena akh Yusuf seorang ketua BEM yang tak ingin dinilai buruk oleh mahasiswa lain. aku melihat dua sisi yang sangat jauh berbeda pada diri akh Yusuf, yang menjadikanku justru semakin penasaran padanya. Sungguh aneh memang. Namun lebih tepatnya aku bukan penasaran pada dirinya tapi penasaran terhadap tingkah laku akh Yusuf.

Sudah hampir dua minggu ini, sms akh Yusuf selalu menghampiri hp merah marunku. Tak pernah sekalipun aku membalas sms-sms taujih tersebut. Hingga akhirnya kuberanikan diri untuk membalas sms tersebut, tujuannya hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya berada di benak akh Yusuf.

“Syukron ^_^” sebenarnya tak terlalu berharap sms ini dibalas oleh orang sesibuk Aah Yusuf, apalagi hanya ucapan terimakasih yang aku kirimkan padanya. Belum ada dua menit, hpku tiba-tiba bergetar. Satu pesan singkat aku terima, sms balasan dari akh Yusuf sepertinya. Tak salah dugaanku, sms ucapan terimakasihku dibalas olehnya. Tiba-tiba jantungku berdegub lebih kencang, iramanya sama sekali tak bisa ku kontrol. Hanya untuk sekedar membukanya pun butuh cukup perjuangan, memang sedikit berlebihan. Tapi memang keanehan ini sedang kurasakan. Kutarik nafas sedalam-dalamnya sembari mengatur irama degub jantung yang semakin tidak menentu. Kutekan tombol untuk membuka sms itu secara perlahan tapi pasti.

“Waiyyaki, Ukh. Kaifa khaluki?” isi pesan singkat itu justru membuat irama jantungku semakin tak karuan. Nampaknya keragu-raguanku terhadap keikhwanan akh Yusuf benar, akh Yusuf tidak seperti sosok ikhwan yang kulihat awal-awal aku berjumpa dengannya. Ingin rasanya untuk tidak membalas sms dari akh Yusuf tersebut, namun aku teringat dengan kalimat yang dilontarkan oleh sahabatku Rina, “Nggak baik kalau ditanya sama orang nggak dijawab” hatiku dirundung dilema tingkat tinggi. Pikiran dan hatiku tak bisa berkompromi dengan baik.

Sambil mengucap kalimat istighfar berkali-kali kutekan tombol-tombol hpku membalas sms dari akh Yusuf tersebut, “Alhamdulillah..” hanya seuntai kata yang kukirimkan padanya. Aku tak ingin akh Yusuf menghujaniku dengan sms-sms darinya yang membuatku semakin tak karuan. Aku merasa heran dan semakin heran dengan diriku sendiri. Apa yang sebenernya terjadi dengan diriku. Belum selesai aku merenungi apa yang sedang terjadi dalam diriku, hpku bergetar cukup mengagetkanku yang masih melamun. “Alhamdulillah kalau gitu ukh, keep hamasah ukhti! Umat membutuhkan anti.

[episode 8] Meletakkan Cinta


“Mari masuk ukh,” ajak akh Yusuf kepadaku. Mas Yusuf melangkahkan kakinya dengan terburu-buru memasuki PKMU, aku yang mengikuti langkah kakinya dari belakang hanya bisa memperhatikannya saja sambil berjalan menunduk.

“Afwan dek, saya terburu-buru. Jadi langkahnya agak saya percepat.” Kalimat yang diujarkan dari akh Yusuf mengagetkanku yang sedang memperhatikan langkahnya. Kelihatannya akh Yusuf tahu bahwa aku tengah memperhatikannya.

“Oh, iya akh.” Aku berusaha mengalihkan pandanganku ke sebuah papan di dalam PKMU ini. Nampak sekali bahwa aku dibuat salah tingkah olehnya. Aku juga heran, kenapa aku bisa menjadi seperti ini. Kuusir bayang-bayang yang ada dalam lamunanku sejauh mungkin.

Setelah sampai di PKMU, seorang akhwat dengan seyuman manisnya mendekatiku dan mengarahkan apa yang harus aku lakukan. Setelah mengisi presensi kehadiran, aku diarahkan duduk di sebuah kursi kosong agak depan karena memang bagian itu belum ada yang menempati.

Kupandangi seisi ruangan PKMU, dari deretan akhwat yang kuamati tak ada satupun yang kukenal. Hanya beberapa mbak-mbak pengurus yang wajahnya tak asing bagiku, meskipun aku juga tak mengenalnya. Kusapa teman yang berada di samping kiriku, mengajaknya berkenalan sambil mendengarkan pewara yang sedang membuka acara.

“Assalamu’alaikum,” sapaku lembut.

“Wa’alaikumussalam warohmatullah,” senyumnya terukir manis di wajahnya. Nampaknya tak asing melihat mahasiswa baru ini di sampingku ini, gumamku dalam hati.

“Kayaknya pernah tau ya?” tanyaku padanya.

“Iya, kayaknya. Aku juga lupa, hehe. Namamu siapa? Aku Yasmin, mahasiswa Bahasa Jepang semester satu.” Jawabnya sambil mengingat-ingat sesuatu.

“Oh iya, kita yang pernah ketemu waktu verifikasi data mahasiswa baru itu ya? Aku Farah, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, semester satu juga.” Jawabku menyakinkannya.

“Oh iya, aku ingat sekarang.” Dia menghadapkan sedikit badannya dan menatapku.

Rabu, 18 Januari 2012

[episode 7] Meletakkan Cinta



Udara masih terlalu sejuk untuk dirasakan, embun sepertinya enggan menetes pada dedaunan hijau. Matahari belum ingin menampakkan keangkuhannya. Hujan deras yang mengguyur semalam masih menyisakan tanah-tanah yang basah dengan aroma khasnya. Hari ini jadual masuk siang, sehingga lebih santai untuk pagi ini. Apalagi udara masih terasa menusuk tulang, rasa malas perlahan menyelimutiku.

“Farah.. kamu udah dapat info lolos beasiswa UKKI belum?” teriak Rina dari kamarnya yang letaknya selisih satu kamar denganku. Teriakannya tiba-tiba membuatku untuk semangat empat-lima dan bersegera meluncur ke kamar Rina. Rina yang sedang asyik duduk di depan laptopnya dikagetkan oleh kedatangan Farah yang secepat kilat sudah berada di sampingnya.

“Kamu udah dapat, Rin?” tanyaku dengan nada sedikit mengharap.

“Udah. Nih, barusan dapat sms dari anak UKKI kayaknya. Tapi sayang aku nggak lolos.” Rina menjawab dengan ekspresi datar sambil menyodorkan handphonenya ke aku.

“Aduh, kok aku nggak dapat sms apa-apa ya?” sambil membaca isi sms dari handphonenya Rina aku berharap-harap cemas.

“Santai aja, paling sebentar lagi kamu dapat sms pemberitahuan. Semoga aja lolos, habis itu ntar aku ditraktir ya..” Mata Rina tetap saja tidak lepas dari layar laptop di hadapannya.

“Apa hubungannya lolos sama traktiran? Kamu tuh lho, lagian dari tadi ngapain sih di depan laptop serius amat?” tanyaku penasaran pada Rina.

“Ya pokoknya adalah.. ini aku lagi lihat website kampus, kemungkinan ada info beasiswa lagi. Mungkin ada yang pas buat aku,” Rina menjelaskan.

“Hmm.. yaudah deh, aku balik ke kamar dulu ya. Semangat, Rin!” kulangkahkan kakiku keluar dari kamar Rina menuju kamarku kembali. Tepat saat kulangkahkan kakiku menuju kamar, handphoneku bergetar tanda satu sms masuk. Langsung saja kubuka sms itu, jantungku semakin berdegub kencang ketika melihat bahwa pengirim sms adalah sebuah nomor. Artinya, nomor tersebut tidak ada di kontak handphoneku. Pikirankupun dengan sendirinya melayang,

Powered By Blogger