Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

andai perjuangan ini mudah,pasti ramai menyertainya.. andai perjuangan ini singkat,pasti ramai yang istiqamah.. andai perjuangan ini menjanjikan kesenangan dunia,pasti ramai tertarik padanya.. tapi hakikat perjuangan bukan begitu,turun naiknya,sakit pedihnya,umpama kemanisan yang tak terhingga.. andai rebah,bangkitlah semula.. andai terluka,ingatlah janjiNya.. yakinkan dalam diri, bersama kesulitan ada kemudahan.

Kalimasada

Bersama mereka aku meniti tangga dakwah di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Rohis Kalimasada, Menapaki Asa Menuju Cita Mulia.

Linguabase

Aku menemukan cinta di sini. bahagia bersama pengusung dakwah di fakultasku tercinta, Fakultas Bahasa dan Seni. Menemukan saudara-saudara seperjuangan yang luar biasa.

KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia)

Semua rasa ada di KAMMI, aku mendapatkan semua pembelajaran dari KAMMI. Meski kredo KAMMI terlalu sempurna, tapi aku ingin berupaya untuk itu.. Kami adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersama dakwah ini kemanapun perginya..

Yang Bersabuk Dua

Julukan yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada Asma' binti Abu Bakar. Aku ingin menjadi sosok seperti Asma' binti Abu Bakar, sosok muslimah tangguh yang cerdas dan berani.

Pages

Tampilkan postingan dengan label tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Juli 2014

Aku Rindu Dakwah Sekolah...

Kemarin malam ketika hendak mengambil sebuah jahitan di tukang jahit dekat rumah, tiba-tiba aku bertemu dengan seorang kakak kelasku di SMA yang juga pernah menjabat sebagai ketua rohis di SMAku, SMA Negeri 2 Semarang. Obrolan singkat pun terjadi walaupun hanya beberapa kalimat. Namun ada sebuah pertanyaan yang dilontarkannya padaku cukup menohokku dan membuatku benar-benar terngiang di benakku sampai detik ini, “kok nggak pernah kelihatan di kegiatan syiar lagi?” dan aku tak bisa menjawab pertanyaan itu sejujurnya. Aku tak ingin memberikan alasan karena kesibukanku di kampus sehingga aku jarang atau bahkan kini tidak pernah lagi aktif dalam kegiatan syiar smanda.

Syiar Smanda merupakan kependekan dari Silaturahmi Ikatan Alumni Rohis SMA Negeri 2 Semarang. Organisasi ini merupakan organisasi yang beranggotakan seluruh alumni rohis SMAku, sedangkan untuk kepengurusannya dikelola oleh alumni rohis yang masih berdomisili dan kuliah atau kerja di Semarang dan tentunya bersedia menjadi pengurus. Selain sebagai wadah silaturahmi alumni rohis SMA 2 Semarang, Syiar hadir sebagai jembatan antara pengurus rohis SMA 2 Semarang dengan dunia luar (masyarakat) dan juga sebagai pengelola Aktivis Dakwah Sekolah (ADS) di SMAku ini, sehingga aktivis Syiar juga biasa disebut sebagai Aktivis Dakwah Sekolah meskipun sudah purna sebagai seorang siswa SMA.

Ah, tiba-tiba aku begitu rindu berkecimpung lagi di dakwah sekolah. Aku rindu dengan teman-temanku di rohis SMA, aku rindu menjalin komunikasi dengan guru-guru SMAku berkaitan dengan lembaga keislaman ini. Ah, banyak sekali rupanya yang kurindukan. Dua tahun menjadi pengurus Syiar nampaknya tak berpengaruh apa-apa bagiku, aku sama sekali tidak banyak berkontribusi di Syiar ini. Mungkin bisa dikatakan aku adalah pengurus yang non-aktif, bahkan isu yang beredar aku dinyatakan keluar dari kepengurusan Syiar (apa karena aku nggak pernah muncul sama sekali ya, hehe). Apakah aku terlalu egois memikirkan amanahku di kampus, sehingga amanahku di Syiar sering terlupakan. Padahal aku masih berdomisili dan kuliah di Semarang. Tapi kapan kuluangkan waktuku untuk Syiar? Bahkan menjadi PJ SMS ukhuwah saja jarang kulaksanakan. Sampai-sampai kadep departemenku di Syiar harus sering-sering mengingatkan, mungkin juga beliau kesal denganku (afwan ya, mas :D).

Memoriku akan dakwah sekolah tiba-tiba memenuhi pikiranku. Kegiatan Isra’ Mi’raj, Doa Bersama, Idul Adha, Mocha (Moslem Choice Award), Pengumpulan zakat, Buka Bersama, Tarawih Berjamaah, AMT (Achievement Motivation Training), Tralis (Training of Leadership for Islamic Student), Karisma (Kajian Rohis Smanda), Musyum (Musyawarah Umum), Re-organisasi, Raker, Kajian Kemuslimahan, Bakti Masjid, Bakti Sosial, lomba-lomba, bikin mading, bikin majalah, bikin buletin, ngaji bareng, belajar bareng dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang pernah aku lakukan bersama teman-temanku di rohis ini a.k.a Roker Smanda (Rohis Keren SMA Negeri 2 Semarang), mengukir ukhuwah bersama mereka. Banyak sekali kenangan indah bersama rohis smanda ini...

Dakwah sekolah dan dakwah kampus memang sangat berbeda, karena di dakwah sekolah masih majemuk. Sehingga perbedaan-perbedaan tidak terlalu tampak seperti di kampus. Hal inilah yang membuatku benar-benar rindu kembali pada dakwah sekolah. Bersama mereka ingin berusaha untuk kembali pada dakwah sekolah, ingin kembali menyempatkan diri fokus pada dakwah sekolah.

Dakwah sekolah, aku merindukanmu...
Masih bolehkah aku kembali padamu?
Dalam dekapan ukhuwah, bersama kalian... sahabat-sahabatku...

Sabtu, 12 Juli 2014

Surat Cinta Mutarabbiku


Semarang, 11 Juli 2014
Tepat setelah waktu berbuka, senja itu.. ketika acara buka bersama rohis fakultas di kampus usai tiba-tiba seseorang menghampiriku. “Ma, ada titipan surat untukmu..”. “Dari?” tanyaku. Ia pun menyerahkan surat itu padaku sambil berbisik, “Dari anakmu..”. Aku hanya mengernyitkan dahi dan menerima sepucuk surat itu. Di depan surat itu tertulis “Untuk: Mbak Asma.” Aku terdiam, berpikir, surat dari siapa ini..

Sesampainya di kos kubuka surat tersebut. Tertulis Untuk: Murabbiku... tulisan itu mengawali isi surat yang aku terima. Aku menghela napas panjang, bismillah.. ada apa gerangan, hal apa yang akan disampaikan oleh salah satu adik binaanku ini kepadaku, sampai-sampai ia harus menulis sebuah surat untukku?

Dan aku membacanya perlahan, memaknai setiap kata yang ia torehkan pada secarik kertas putih itu. Rasa haru menyelimutiku, sungguh aku ingin menangis, menitikkan air mata. Isi surat yang membuatku ingin kembali seperti sedia kala. Sejujurnya, aku memang tengah kecewa padanya, kecewa karena ia menghindar dari sebuah proses yang seharusnya ia jalani. Ketika itu, hampir satu bulan yang lalu aku pernah benar-benar bersikap tegas padanya, bukan marah, hanya sekadar ingin membuka jalan pikirannya, membuka hatinya, menjelaskan padanya. Aku tak tahu apakah ia menangis dan marah padaku atau tidak. Yang jelas, setelah aku bersikap tegas padanya dan aku pergi meninggalkannya aku menangis. Hatiku tak pernah sesesak ini, perih. Aku memang tak pernah marah pada seorang adik, apalagi adik binaanku. Apabila aku sedang kesal pada seseorang, aku akan meninggalkannya sejenak, hingga aku kembali tenang dan kembali seperti sedia kala. Namun yang terjadi pada saat itu, aku tak ingin meninggalkannya, aku ingin memberikan penjelasan dan aku memberikan pilihan padanya terlebih dahulu hingga akhirnya hatiku tak sanggup dan aku pergi meninggalkannya, aku menangis, aku merasa gagal membina seorang adik yang sudah kubidik sejak awal bertemu dengannya. Hingga aku mengatakan padanya, aku tak akan memaksamu lagi.. pada saat itu aku menyerah.

Hingga surat ini ia kirimkan, aku merasa komunikasi kita memang belum lancar seperti sedia kala meskipun ia berada satu amanah denganku. Ia tak meminta untuk liqo lagi, ia tak menghubungiku untuk itu. Aku membiarkannya, seperti pernyataanku padanya, aku tak akan memaksamu lagi. Aku hanya ingin diam untuk saat ini, tidak ingin memaksa lagi. Padahal berbagai rencana besar jangka panjang sudah kupersiapkan untuknya, namun ia tak ingin melakukan proses itu.

Sepucuk surat itu berisikan kesan awal ia mengenalku, perjalanannya selama hampir dua tahun ini mengenalku di jalan dakwah ini, dan permohonan maafnya padaku. Kata-katanya sederhana, namun sangat menyentuh relung hatiku.

Beberapa kalimat terakhir yang ia tuliskan pada sepucuk surat itu yang membuatku ingin membuka hatiku lagi padanya... sungguh, aku ingin memaafkanmu..

“...aku minta maaf mbak, jika hati mbak Asma terluka. Aku rindu mbak Asma insya Allah karena Allah, aku masih ingin belajar dari mbak Asma. Belajar menjadi kader dakwah yang tangguh dan istiqomah. Belajar seutuhnya mencintai dakwah, memberikan harta, jiwa dan raga untuk dakwah. Aku ingin melihat senyum mbak Asma lagi. Aku ingin memperbaiki diri.”

Yaa Rabb, apakah aku bisa ikhlas atas semua ini?
Yaa Rabb, apakah aku masih pantas dianggap sebagai sosok “mbak” yang bisa memberikan keteladanan bagi adik-adikku?
Yaa Rabb, apakah aku masih mampu mengemban amanah ini?
Yaa Rabb, aku tak mampu tanpaMu...

Rasanya sungguh ingin kembali seperti sedia kala, teruntai senyum untuk adik-adikku. Memaafkan memang bukan hal yang mudah, tapi aku ingin berusaha untuk itu.  Aku ingin mengobati perih yang tergores di hatiku. Aku ingin mengobati kekecewaan yang bersemayam di kalbu. Aku tak ingin ada yang tersakiti, aku tak ingin ada yang terluka. Afwan, belum bisa menjadi mbak baik yang untukmu...

Yaa Allah, lapangkanlah hatiku untuk bisa kembali seperti sedia kala..
Yaa Allah, bukakan kalbuku untuk mengikhlaskan semuanya...
Yaa Allah, bimbinglah aku dan adikku ini untuk mampu tegar dan bertahan di jalan dakwah ini, hingga tiada lagi lelah apalagi menyerah..

Yaa Allah, lindungilah kami...

Minggu, 29 Juni 2014

Adikku..


Adikku, pernahkah kau bayangkan bagaimana sungguh terjalnya dakwah ini?
Ya, kau tentu sudah mengetahui bahwa dakwah yang kita lalui bersama bukanlah jalan yang mudah. Jalan dakwah ini sangatlah panjang, penuh dengan rintangan dan hanya sedikit yang mau membersamainya.
Apakah kau benar-benar yakin telah memilih dakwah ini sebagai jalan hidupmu?
Apakah kau sudah ikhlas mengabdikan dirimu hanya untuk dakwah ini?
Apakah kau rela jika seluruh waktumu, tenagamu, bahkan kekayaanmu habis untuk dakwah ini?
Pernahkah kau merenung dan bertanya pada dirimu, sebenarnya dakwah yang membutuhkanmu atau kau yang membutuhkan dakwah?

Adikku...
Dakwah adalah cinta, dan cinta akan meminta segalanya dari dirimu. Bahkan sampai lelapmu dan tidurmu, semua mimpi-mimpimu pun tentang dakwah.
Dakwah tidak pernah membutuhkanmu, tapi kau yang membutuhkan dakwah. Karena jika dakwah tak bersamamu, maka ia akan bersama yang lain. Sedangkan kau, apabila kau tak bersama dakwah, maka kau akan bersama siapa?
Seseorang hanya akan disibukkan oleh salah satu hal saja, kalau tidak sedang disibukkan dalam kebaikan, maka ia akan sedang disibukkan dengan keburukan.
Menjadi bagian dari dakwah ini merupakan sebuah pilihan..

Adikku..
Bergerak merupakan sebuah kepastian, karena apabila tidak bergerak berarti mati.
Apa yang sudah kau berikan untuk dakwah ini?
Kami belum yakin kami telah memberikan segalanya untuk jalan yang kami pilih ini. Tapi kami yakin, kau mampu dan mau bergerak untuk dakwah ini, lebih dari gerak kami terhadap dakwah ini.
Bergeraklah lebih untuk dakwah ini..
Jadikan gerakanmu bukan sekadar gerakan pasif yang hanya mampu menarik penonton.
Jadikan gerakanmu memberikan resonansi juang bagi objek dakwahmu.

Adikku..
Saat ini mungkin kau sedang dalam proses belajar. Belajar mengerti, belajar memahami, bahkan belajar menerima tentang konsekuensi yang harus diterima ketika berada di dalam jalan ini.
Sebagai kakak, kami tak ingin kau merasa dipaksa, kami tak ingin kau terus bermuram durja.
Kami hanya ingin kau mengikuti proses, menikmati proses dan belajar dari proses yang tengah kau lalui saat ini. Agar kau menjadi pribadi kokoh yang mampu mengemban amanah dakwah yang lebih besar di kemudian hari.
Tak selamanya kami menemanimu di sini..

Adikku...
Bersikaplah dewasa, karena kedewasaan akan mengajarimu banyak hal.
Apa yang kau takutkan?
Dakwah tidak akan memperburuk kehidupanmu, dakwah tidak akan menjatuhkan harga dirimu.
Pertolongan Allah akan selalu bersamamu...




Sabtu, 08 Februari 2014

Mahasiswa Seutuhnya


Tak semua orang bisa menjadi seorang mahasiswa. Mahasiswa -yang katanya- kaum intelektual saat ini banyak yang tidak benar-benar seorang mahasiswa. Dari mulai tingkah lakunya, cara berbicaranya, bahkan cara berpikirnya jauh dari kata mahasiswa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,  arti dari kata mahasiswa adalah orang yg belajar (pelajar) di perguruan tinggi. Jadi seharusnya mahasiswa itu benar-benar bisa bersikap dewasa dibanding siswa sekolah. Sehingga terkadang aku berpikir, sudahkah aku menjadi mahasiswa yang seutuhnya?

Menjadi mahasiswa merupakan salah satu kebanggan yang bisa kuhadiahkan untuk kedua orang tuaku, karena ku tahu tak semua orang bisa menjadi mahasiswa. Menjadi mahasiswa yang seutuhnya, bagaimana ini? Aku hanya ingin sedikit berbagi cerita tentang bagaimana usahaku untuk menjadi mahasiswa seutuhnya.

Pada tahun pertama aku kuliah, aku ngelaju -bolak-balik kampus- untuk menimba ilmu di kampus. Jarak dari rumah ke kampus cukup jauh, sekitar 45 menit kalau naik motor dengan kecepatan 60 km/jam, tapi kalau naik angkot bisa hampir 2 jam karena angkot yang ngetem dan jalannya lama banget. Aku senang menjadi mahasiswa, apalagi di tahun perdanaku ini. Aku bebas berekspresi, aku bebas menjadi apa yang kumau, pikirku. Di tahun pertamaku ini aku sangat semangat untuk kuliah bahkan tak hanya kuliah yang kulakukan tapi aku juga mengikuti empat organisasi di kampus, maklum namanya juga mahasiswa baru yang ingin mencicipi organisasi di kampus. Apalagi dunia kampus jauh berbeda dengan dunia sekolah, individualitas yang sangat tinggi. Tapi Alhamdulillah aku menemukan lingkungan yang cukup nyaman, sehingga hanya ada rasa ukhuwah yang membumbui setiap interaksi.

Aku tak ingin menjadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang, tak ada sesuatu yang membangkitkan semangat di kampus kalau seperti itu, aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menjadi mahasiswa apalagi di tahun pertamaku ini.

Untuk tahun pertamaku menjadi mahasiswa bisa dikatakan aku memiliki aktivitas yang cukup padat, dan dari sinilah aku belajar mengatur waktuku dengan baik. Aku berangkat ke kampus dari rumah pukul 05.00 dan sampai kampus pukul 06.00 karena biasanya ada syuro atau rapat di pagi hari. Kemudian kuliah pukul 07.00 sampai pukul 15.00, meski tidak full tapi kurang lebih seperti itulah jadwal kuliahku di tahun pertamaku. Seusai kuliah aku langsung melaju kendaraanku untuk mengajar TPQ di kompleks Bea Cukai Semarang. Mengajar TPQ dari pukul 16.00 sampai maghrib menjelang. Setelah pulang ke rumah aku bersih diri, salat dan berisitirahat sejenak. Karena pukul 18.30 aku harus ngelesi sampai pukul 20.00. Setelah pulang ngelesi aku baru makan malam dan mengerjakan tugas kampus. Itulah rutinitas yang kulakukan hampir setiap hari. Kalau dipikir-pikir, kok bisa ya aku melakukan hal itu. Memulai aktivitas pukul 05.00 dan baru beristirahat pukul 20.00. Aku terkadang khawatir dengan hasil dengan hasil UASku, karena jujur aku jarang belajar kalau memang tak ada tugas. Apalagi dengan rutinitas yang menurutku sangat padat itu terkadang aku langsung tidur setelah pulang ngelesi karena badan yang terasa sangat lelah. Tapi Allah memang sayang padaku, aku teringat dengan janjiNya yang berada di QS. Muhammad: 7. Saat yudisium pertamaku, aku diberikan kesempatan untuk mendapatkan indeks prestasi pertama dengan predikat cumlaude. Alhamdulillah..Tapi di semester kedua indeks prestasiku turun drastis, tidak lagi cumlaude meski masih di tingkat aman (lebih dari 3,0) karena mungkin aku terlalu bersemangat berorganisasi sehingga jarang sekali belajar apalagi menjelang UAS.

Di tahun kedua aku memutuskan untuk ngekos, karena jarak rumah-kampus cukup jauh dan bisa dibilang cukup melelahkan. Di kos inilah aku -kata orang- menjadi seorang aktivis, aktivis organisasi tentunya. Karena amanahku di organisasi bertambah, bukan bertambah secara kuantitas tapi bertambah bebannya. Aku mengikuti empat organisasi (2 organisasi da’awi, 1 organisasi siyasi, 1 organisasi ilmi), beberapa organisasi yang kuikuti di tahun keduaku ini berbeda. Tapi posisinya bisa dibilang strategis secara struktur keorganisasian. Dari empat organisasi ini, aku berada di posisi PH+. Jujur, cukup berat apalagi di pertengahan periode kepengurusan karena banyaknya pengurus yang mulai bergelimpangan. Meski rutinitas tak sepadat ketika di tahun pertama, aku merasakan tahun kedua ini cukup berat. Karena tugas kuliah yang semakin menggunung dan kerja-kerja amanah yang tak ada henti-hentinya. Di tahun kedua ini aku mengajar sebuah TPQ kecil di dekat kampus, setelah ditawari oleh seorang mbak dan aku mengiyakan. Aktivitasku dimulai pukul 06.00 dan berakhir pada waktu maghrib, terkadang ada rapat yang mengharuskanku pulang hingga larut malam atau bahkan pagi, pulang rapat pukul 23.00 atau bahkan pukul 03.00 itu membuatku mulai terbiasa. Pada tahun ini aku cukup bisa mengatur waktuku, meski tak sesempurna yang kuinginkan. Dan aku cukup menikmati ritme di semester tiga dan empat ini. Hasilnya pun kutuai dengan indeks prestasi yang meningkat. Sekali lagi, aku percaya dengan janji Allah yang termaktub dalam QS. Muhammad: 7.

Di tahun ketigaku inilah semuanya kembali bergejolak. Masih dengan suasana ngekos, meski dengan kos yang berbeda. Berbeda dengan kos sebelumnya yang memang aku termasuk anak kos yang masih “diasuh” oleh mbak-mbak kos yang lebih tua, tapi di kos yang baru ini aku merupakan mahasiswa dengan semester paling tua, padahal baru semester 5. Penghuni kos ini ada 8 orang, separuh dari jumlah kosku pertama yang berjumlah 16 orang. Di kos yang baru ini ada aku dan sahabatku, Arum yang kita seangkatan. Kemudian satu orang adik semester 3 dan sisanya semester 1. Bayangkan saja, di kos ini aku dan Arum harus “mengasuh” adik-adik kos yang lain. Karena memang aku tinggal di kos binaan, sehingga sistem pembinaan harus berjalan dengan baik. Arum sebagai PJ pembinaan dan aku sebagai ketua kos. Amanah tambahan di semester ini yang menurutku cukup rumit, tapi kusikapi dengan menyenangkan. Karena amanah itu akan terasa indah kalau dijalankan, bukan sekadar diratapi. Di semester ini tugas kuliah semakin menggunung, apalagi aku mengambil mata kuliah drama yang di mata kuliah ini sangat menguras tenaga, pikiran bahkan materi. Beberapa amanah mulai tak fokus, meski aku berusaha untuk fokus. Tugas-tugas kuliah pun mulai keteteran, bahkan untuk mengerjakan tugas pun kalau nggak the power of kepepet nggak bakalan jadi itu tugas. Mata kuliah drama ini sangat menguras tenaga, bagaimana tidak, hampir setiap hari latihan drama dari pukul 19.30 sampai pukul 23.00 tak jarang kami harus pulang pukul 03.00 pagi. Dan pagi sampai maghrib harus beraktivitas untuk kuliah dan organisasi.

Bahkan di akhir-akhir semester empat ini aku mengalami kekacauan yang luar biasa. Karena (mungkin) terlalu lelah dengan drama itu. Semua tugas tertumpuk dan semuanya hanya digarap dalam waktu semalam suntuk ketika deadline adalah esok harinya. Hingga menjelang yudisium aku benar-benar khawatir dengan indeks prestasiku. Karena aku merasa sangat tidak maksimal dalam menjalani semester ini. Manajemen waktu yang nyaris kacau, entahlah. Hingga pada saat yudisium pun aku sangat takut, takut ketika indek prestasiku merosot tajam. Ketika aku membuka hasil yudisiumku.. deg! Nilaiku justru meningkat tajam, alhamdulillah nilai cumlaude berhasil kukantongi kembali. Aku kembali teringat janjiNya, QS. Muhammad: 7. Aku merasakan benar-benar janji Allah ini.. Ya Allah, semoga indeks prestasiku kembali meningkat dan barokah. Aaamiin...

Jadi, yuk kita bersama-sama berusaha menjadi mahasiswa seutuhnya. Mahasiswa dengan indeks prestasi baik, organisasi lancar dan berada di jalan dakwah. Insya Allah..

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menolong agama Allah maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

QS. Muhammad: 7

Jumat, 31 Januari 2014

Bolehkan Aku Bersikap??


Katanya amanah itu tak boleh diminta, tapi bolehkah aku memilih??
Katanya amanah itu dibebankan untuk pundak yang tepat, tapi bolehkah aku berharap??

Entahlah, akhir-akhir ini begitu galau dengan amanah yang baru saja diberikan untuk pundak yang lemah ini. Amanah-amanah yang bagiku sangat berat dan aku hanya berharap Allah memberikan kekuatan bagi pundakku agar mampu menopangnya. Dalam satu minggu aku diminta untuk menjadi bagian dalam struktural (inti) dua buah organisasi yang membuatku jatuh cinta terhadap keduanya. Organisasi yang membuatku tak mampu memilih salah satu di antara keduanya. Dengan posisi yang sama, menjadi sekretaris departemen.

Untuk amanah yang datang pertama aku sudah menebaknya dan tebakanku benar, bahkan untuk ketua departemennya pun aku sudah bisa menebaknya. Karena memang kami pernah berada dalam amanah yang sama. Meski agak sedikit ragu, tapi aku berusaha untuk memantapkan hatiku bahwa aku bisa dan aku mampu. Karena partner amanahku tidak diragukan lagi kapasitasnya di departemen yang akan kami gawangi. Dan insya Allah tidak ada masalah yang akan membersamai amanah kami di organisasi ini.

Selanjutnya untuk amanah kedua, yang sampai detik ini aku masih sangat ragu. Keraguan itu sudah hadir semenjak aku ‘dipinang’ untuk berada dalam amanah ini. Amanah yang berat, bahkan sangat berat. Aku sangat ragu, karena aku (bisa dianggap) sama sekali tidak memahami departemen ini. Apalagi mengingat posisiku yang dijadikan sebagai sekretaris departemen, yang –kata mereka- dianggap mampu untuk berada dalam posisi ini. Kegalauanku pun memuncak, ketika sosialisasi PH+ ternyata departemenku belum mendapatkan ketua, bayangkan saja di saat aku tengah galau dengan posisiku sebagai sekretaris departemen yang tak paham seluk belum departemen ini aku belum memiliki seorang ketua.  

Seusai sosialisasi, aku mengirimkan sebuah pesan singkat kepada orang yang memang sudah paham dengan departemen tersebut. Setelah aku menyampaikan kegalauanku tentang ketidakpahamanku terhadap kerja departemen tersebut, aku dipersilakan untuk bisa berdiskusi dengannya dan aku pun mengiyakan. Akhirnya aku berdiskusi dengan dua orang yang memang mereka sudah sangat paham sekali dengan departemen tersebut, pikiranku pun terbuka dan aku mulai memahami departemen tersebut. Di akhir diskusi aku menanyakan mengenai kepastian siapa yang akan menjadi ketua departemenku, aku sangat teringat jawaban yang dilontarkan dengan candaan oleh mereka berdua, “Lha Asma’ maunya siapa?” aku menjawab, “terserah mau siapa saja, asal jangan si X”. “Lho, lha kenapa? Atau kalau nggak nemu kadep, Asma’ yang jadi kadepnya ya..” aku pun menjawab dengan mantap, “nggak mau, terlalu berat berada dalam posisi itu.” Meski jawaban mereka nampak tidak serius, tapi aku menganggapnya serius, karena ini amanah yang menurutku sangat berat. “ditunggu 6 hari lagi,” jawab mereka serius tapi masih dengan suasana bercanda. Aku terdiam...

Setelah 6 hari aku menunggu kepastian, aku menanyakan mengenai kepastian ketua departemenku melalui pesan singkat. Ternyata masih belum dapat juga, aku menghela napas panjang sambil kembali aku memberikan pernyataan, “asal jangan si X” karena sepertinya kemungkinan si X untuk menjadi ketua departemen itu sangat besar. Kembali lagi aku ditanya apa alasannya, aku menjawab sejujurnya dan alasan yang kuberikan adalah alasan syar’i yang sama sekali tidak mengada-ada. Alasan karena pemikiranku dan pemikiran si X tidak sejalan, bahkan pemikiran si X itu terlalu frontal bahkan sampai (mungkin) sampai bisa menjadi boomerang bagi organisasi ini. Alasanku itu pun diterima, tapi ini sudah menjadi keputusan syuro dan insya Allah dengan si X itu dilibatkan lebih dalam organisasi ini dia akan membaik keadaannya, jawab pesan singkat yang kukirimkan tadi. Artinya, kemungkinan besar memang si X itu yang akan menjadi ketua departemenku walaupun itu bukan keputusan akhir. Dan.... rasanya ingin sekali menangis.

Aku mencintai organisasi ini sehingga aku menginginkan yang terbaik (menurutku) untuk organisasi, aku tidak rela kalau organisasi ini berada di tangan yang tidak tepat. Tapi aku (masih) berharap bahwa bukan dia yang menjadi ketua departemen ini. Apakah karena aku merasa tidak siap, atau memang karena nyaliku yang kerdil,, entahlah..

Ya Rabb,,, bolehkah aku meminta... berikan yang terbaik untuk kami...
Aku jadi teringat sebuah potongan ayat yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 216, “boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Terkadang kita menganggap yang kita lakukan itu baik jika menguntungkan, terkadang juga menganggap tidak baik jika merugikan. Tapi ingat Allah Maha Tahu atas segala hal….

Astaghfirullah,, wallahu a’lam bishawab. 

Kamis, 23 Januari 2014

Aku Mencintai Keduanya



Musyawarah Anggota (Musyara) Linguabase pun selesai, dan kini telah terpilih ketua baru untuk menjadi nahkoda dalam mengarungi bahtera dakwah di fakultas tercinta, FBS. Sosok ketua yang luar biasa, memberikan sambutan pertamanya setelah terpilih untuk mengemban amanah dakwah yang mulia ini.

Lingubase merupakan lembaga dakwah kampus tingkat fakultas, fakultas luar biasa dengan sejuta warna. Selama berada dalam kepengurusan aku merasa belum terlalu fokus di linguabase, karena pada saat itu posisiku di linguabase belum terlalu urgent dibandingkan tiga amanahku di lain tempat karena secara posisi struktural. Menjadi staf departemen kaderisasi Linguabase pun belum mampu membuatku bekerja lebih untuk linguabase. Mungkin karena seringnya aku tak memprioritaskan Linguabase. Afwan, atas hal ini untuk semua pengusung Linguabase. 

Sabtu, 27 Juli 2013

Inikah Ramadanku?



Ramadan menyapaku dengan lembut
Kala aku terbuai dalam keriuhan fatamorgana
Ia memandangku penuh tanya
Tapi aku memalingkan muka darinya
Ia tak memincingkan matanya

Rindu memberikan yang terbaik
Tapi tak dapat mengalahkan nafsunya
Sebatas keinginan palsu yang menerkam relung
Rindu hanya sebatas mau, tanpa peluh
Muslihat kian sempurna, berkacak memangku Ramadan

Kamis, 09 Mei 2013

Rasa Kehidupan



“Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS.
Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR.
Jika setiap doa kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR

Seseorang yang dekat dengan Allah, bukan berarti tidak ada air mata.

Seseorang yang taat pada Allah, bukan berarti tidak ada kekurangan.

Seseorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa sulit.

Biarlah Allah yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Dia tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.

Jumat, 27 Januari 2012

[copas] Resume Buku Judul buku : Komitmen Da'i Sejati Pengarang : Muhammad Abduh Penerbit : Terbitan Al-I'tishom Cahaya Umat tar




"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui."
(QS. At Taubah: 41)

Assalamu’alaikum..
Dakwah merupakan jalan hidup yang membuat kita mulia dan menjadikan kita adalah salah seorang dari tentara Allah yang berjuang di jalanNya. Maka perlulah kit a berbangga dan tegar dalam jalan terjal ini. Dan aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para da’i dan da’iyah itu merupakan bentuk sebuah kesadaran tentang peran mereka dan kita. mungkin kita memiliki aktifitas yang luar biasa. Tak hanya kegiatan yang diperuntukkan kepentingan pribadi namun kegiatan sosial bahkan dakwah mengisi hari-hari kita. begitulah waktu demi waktu, hari demi hari dilewati dengan aktifitas yang telah menyita waktu, pikiran, tenaga hingga materi.
Demikian adalah isi dari buku “Komirmen Da’i Sejati” yang merupakan sebuah bentuk susunan kata renungan :
• Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka tidak akan banyak da’i yang berguguran di tengah jalan. Dakwah akan terus melaju dengan mulus untuk meraih tujuan-tujuannya dan mampu memancangkan prinsip-prinsipnya dengan kokoh.
• Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, dan fenomena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat, akan jarang terjadi.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka sikap toleran akan semarak, rasa saling mencintai akan merbak, hubungan persaudaraan semakin kuat, dan barisan para da’i akan menjadi bangunan yang berdiri kokoh dan saling menopang.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka dia tidak akan peduli saat ditempatkan di barisan depan atau belakang. Komitmennya tidak akan berubah ketika ia diangkat menjadi pemimpin yang berwenang mengeluarkan keputusan dan ditaati atau hanya sebagai jundi yang tidak dikenal atau tidak dihormati.
• Jika komitmennya benar-benar tulus…, maka

Jumat, 05 Agustus 2011

Pahala Puasa hari ke 1 sampai 30


Puasa Ramadhan wajib hukumnya bagi umat muslim diseluruh dunia jika tidak terhalang oleh sesuatu hal. Tahukah kalian apa saja keutamaan puasa dari hari pertama sampai dengan hari terakhir. Kita lihat bersama-sama.

Malam ke-1

Orang mukmin keluar dari dosanya, seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.

Malam ke-2

Dia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.

Malam ke-3

Seorang malaikat berseru dibawah ‘Arsy: “Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat”.

Malam ke-4

Dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan (Al-Quran).

Malam ke-5

Allah Ta’ala memeberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjidil Haram, masjid Madinah dan Masjidil Aqsha.

Minggu, 19 Juni 2011

IKHLAS

hmm.., sedikit bingung nih buat nyari tugas liqo. Dapet materi tentang IKHLAS. Gampang-gampang sulit nih. Akhirnya kuputuskan buat nyari di internet, googling-googling gitu laahh...
dapatlah...

NIAT YANG IKHLAS
Setiap hamba Allah memiliki kemampuan dan kemauan dalma beribadah yang berbeda-beda. Sedangkan nilai ibadah seorang hamba di hadapan Allah ditunjukkan dengan ikhlasnya dalam beramal. Tanpa keikhlasan takkan berarti apa-apa amal seorang hamba. Tidak akan ada nilainya di sisi Allah jika tidak ikhlas dalam beramal.

Niat adalah pengikat amal.

Rabu, 29 September 2010

Gambaran Remaja Saat Ini

Para remaja muda-mudi kita adalah warisan kita bagi masa depan. Mereka adalah aset yang berharga agar agama Islam tetap dihayati dan dipraktikkan oleh masyarakat Islam di masa yang akan datang. Mereka adalah harapan

Rabu, 11 Agustus 2010

Semangat Ramadhan !!

Ya, inilah tujuan diciptakan setiap manusia. Yaitu, melaksanakan tugas ibadah hanya pada Allah swt. saja. Menyembah Tuhan, Pencipta langit tujuh tanpa atap. Pencipta manusia dengan struktur unik.

Sabtu, 19 Juni 2010

Sepuluh Langkah menyambut Ramadhan

1. Berdoalah agar Allah swt. memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal di bulan itu, baik puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan.” Artinya, ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani)

Powered By Blogger