Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

andai perjuangan ini mudah,pasti ramai menyertainya.. andai perjuangan ini singkat,pasti ramai yang istiqamah.. andai perjuangan ini menjanjikan kesenangan dunia,pasti ramai tertarik padanya.. tapi hakikat perjuangan bukan begitu,turun naiknya,sakit pedihnya,umpama kemanisan yang tak terhingga.. andai rebah,bangkitlah semula.. andai terluka,ingatlah janjiNya.. yakinkan dalam diri, bersama kesulitan ada kemudahan.

Kalimasada

Bersama mereka aku meniti tangga dakwah di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Rohis Kalimasada, Menapaki Asa Menuju Cita Mulia.

Linguabase

Aku menemukan cinta di sini. bahagia bersama pengusung dakwah di fakultasku tercinta, Fakultas Bahasa dan Seni. Menemukan saudara-saudara seperjuangan yang luar biasa.

KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia)

Semua rasa ada di KAMMI, aku mendapatkan semua pembelajaran dari KAMMI. Meski kredo KAMMI terlalu sempurna, tapi aku ingin berupaya untuk itu.. Kami adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersama dakwah ini kemanapun perginya..

Yang Bersabuk Dua

Julukan yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada Asma' binti Abu Bakar. Aku ingin menjadi sosok seperti Asma' binti Abu Bakar, sosok muslimah tangguh yang cerdas dan berani.

Pages

Jumat, 03 Oktober 2014

Euforia PPL Dekat Rumah

Semester 7, taraaa.... saatnya PPL!
Alhamdulillah tak terasa kini sudah menginjak semester 7, yang katanya sudah memasuki semester t*a -_-
Ya, kini aku sudah memasuki semester 7, sehingga mau tidak mau harus mengikuti PPL sebagai sarana latihan mengajar untuk menunjang proses pembelajaran mahasiswa program studi pendidikan. Begitu pula denganku, menjadi mahasiswa PPL Bahasa dan Sastra Indonesia.
Aku kini sedang menempuh PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) di sebuah SMP negeri yang letaknya cukup sangat dekat dengan rumahku. Aku memang sengaja memilih sekolah yang jaraknya lebih dekat, supaya lebih terjangkau. Hingga akhirnya banyak kisah yang kualami antara muridku dan rumahku yang dekat dengan sekolah.

#Kisah_1
Hampir semua murid-murid yang kuajar tau dimana rumahku..
Jadinya agak salting sendiri kalau ada murid yang lewat di depan rumah. Apalagi sambil mereka memanggil, “bu Asma....”
Berasa anak kecil yang dipanggil temennya buat diajak main :D

#Kisah_2
Mereka yang notabenenya nggak tau rumahku jadi pada kepo.. jadinya pas ngajar, mereka menyerangku dengan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan rumahku -_-
“Bu, rumahnya ndak yang warna hijau itu?”
“Bu, rumahnya yang di pojokan itu kan?”
“Bu, sama SD 04 itu rumahnya yang sebelah mana?”
“Bu, rumahnya kok deket banget to?”
“Bu, tinggal di sana sejak kapan?”
Dan aku hanya bisa menjawab dengan senyuman, karena mereka menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan itu berkali-kali. Jadi, hampir setiap bertemu mereka pertanyaannya masih sejenis. Padahal dulu pas awal-awal ngajar udah pernah tak jawab semua pertanyaan itu..

#Kisah_3
Muridku mengenalku sejak dia SD.. mungkin saja kita cukup familiar dengan orang karena kita cukup sering melihatnya, meskipun tidak mengenalnya. Nah, ternyata ini yang dialami muridku padaku.
Tiba-tiba di tengah proses pembelajaran ada murid yang bertanya tentang rumahku (lagi), kira-kira begini obrolan kecil kami,
“Bu, rumahnya yang di pojok pertigaan itu kan?”
“Iya, mbak. Kenapa?” kujawab pertanyaan tersebut seperti biasa, datar..
“Yang warnanya hijau itu kan, Bu?” dia masih melanjutkan pertanyaannya.
“Iya. Ada apa, Mbak?”
“o, pantesan... Dulu pas waktu aku SD aku sering lewat depan rumahnya bu Asma dan lihat bu Asma lho di depan rumah.” Dia tertawa kecil, sepertinya ada kebahagiaan yang ia rasakan teramat sangat.
“oh, masak?” aku heran, antara mikir sama bingung sambil ngitung berapa tahun yang lalu berarti dia SDnya.
Sekarang muridku kelas VIII SMP, berarti SDnya sekitar 3-5 tahun yang lalu, dan dia ingat sama wajahku gara-gara sering lewat dan lihat aku di depan rumah, baiklah berarti aku cukup terkenal -_-

#Kisah_4
Aku mengajar tetanggaku sendiri.. namanya juga sekolah dekat rumah, pasti banyak tetangga kita yang lebih memilih sekolah yang dekat dengan rumah. Begitu pula dengan tetanggaku, aku mengajar tetanggaku sendiri. Rasanya itu... bingung, seneng, aneh, speechless, kurang bisa ekspresif jadinya. Hehe, bayangin aja kalau kamu mengajar tetanggamu sendiri. aneh kan? Haha :D
“Bu, ibu tetangganya ini to?” dan aku cuma diem sambil senyum...

Mungkin empat kejadian itu bisa jadi gambaran buat kalian yang sudah, sedang ataupun ingin PPL di dekat rumah. Mungkin bisa jadi bahan pertimbangan, hehe :D


Kamis, 21 Agustus 2014

Diam-diam Aku Bersama KAMMI


Cerita di bawah ini hanyalah non-fiksi. Kesamaan tokoh dan tempat memang di sengaja.
Afwan ye….

Buku Mengapa Aku Mencintai KAMMI merupakan kumpulan dari cerita-cerita inspiratif seputar KAMMI yang ditulis oleh tiga orang kader KAMMI, Imron Rosyadi, Evie Fitria, dan Aji Kurnia Dermawan. Baik yang mereka alami sendiri maupun cerita yang dialami oleh kader lain. Salah satu cerita yang cukup unik dan menarik bagi saya dalam kumpulan cerita ini adalah “No Ikhwan No Cry”.

Menceritakan tentang akhwat-akhwat KAMMI Madiun yang “ditinggal” oleh para ikhwan-ikhwan. Para ikhwan itu ada yang pulang kampung, ada pula yang harus melanjutkan studi. Jadi terpaksalah para akhwat-akhwat itu yang mengurusi KAMMI. Bahkan ada diantara mereka yang tidak pernah sekalipun berkecimpung di KAMMI, ketika pulang ke Madiun ialah yang mengurusi semua agenda KAMMI Madiun. Mereka tidak pernah mengeluh. Apalagi ketika diusulkan KAMMI Madiun untuk dibubarkan, dengan lantang mereka berkata “Tidak”.

Tentunya masih banyak cerita yang mampu untuk menyengat semangat bagi para kader KAMMI dalam buku ini, tapi tidak semuanya akan ditulis di sini.

Kembali lagi ke judul yang sangat menarik bagi saya di atas, “No Ikhwan No Cry”. Saat ini saya bermanah di sebuah LDF di salah satu fakultas di Unnes. Posisi saya saat ini adalah sebagai ketua departemen, Departemen Kaderisasi. Sebuah posisi yang tidak ringan tentunya. Sebuah posisi yang sangat strategis dalam sebuah lembaga. Ialah orang yang paling bertanggung jawab akan keberlangsungan sebuah lembaga. Posisi sekretaris departemenpun ditempati oleh seorang yang luar biasa, saudari saya Ukh Asma’ Hanifah. Beliau adalah akhwat KAMMI, iya akhwat KAMMI. Posisinya di KAMMIpun tidak main-main, sekretaris departemen Kastrat KAMMI komisariat Unnes. Dua posisi yang sangat berat, harus beliau emban secara bersamaan. Bahkan di tahun sebelumnya tiga posisi PH+ di tiga lembaga berbeda mampu beliau emban dengan baik.

Di awal amanah beliau berpesan kepada saya bahwa beliau akan lebih sering “menghilang” untuk mengurusi KAMMI. Tidak apa, karena saya pikir amanah di KAMMI lebih berat dibanding di LDF, dan sayapun sangat mengetahui passion beliau lebih ke KAMMI. Di tengah kepengurusan terjadi konflik di kubu akhwat di LDF saya. Yang mana saya tidak bisa mengurusinya secara intensif karena posisi saya sebagai ikhwan. Kepercayaan saya akan kapasitas Ukh Asma’lah yang membuat saya meminta beliau untuk mengurusi konflik itu. saya juga meminta beliau untuk lebih dekat dengan akhwat-akhwat di LDF, karena akhwat LDF sangat berbeda dengan akhwat KAMMI. Jika akhwat KAMMI sudah sekuat baja, maka akhwat LDF masih bagaikan kaca yang harus penuh kelembutan untuk membersihkannya ketika berdebu. “Antum keren Ukh, tapi ya masih keren saya lah... Ups....”.

Tentu bukan hanya Ukh Asma’, setidaknya di fakultas saya masih ada empat saudara saya yang sangat luar biasa. Iya, mereka adalah aktivis KAMMI, Akh Ghulam Arif Rizal, Akh Hamid Zulkifli, Ukh Arum Setianingsih, dan Ukh Ira Damayanti. Keempatnya merupakan aktivis KAMMI yang sangat loyal.

Akh Arif adalah orang pertama yang memahamkan saya seperti apa perjuangan di KAMMI itu, seperti apa aktivitas di KAMMI itu, dan seperti apa kader KAMMI itu. saat ini beliau menjabat sebagai ketua departemen humas KAMMI komisariat Unnes. Awalnya saya tidak paham apa itu KAMMI, dan untuk apa KAMMI. Beliau lebih dulu mengikuti DM 1 dari pada saya. Karena waktu semester dua saya diajak ikut DM 1 tidak mau. Masih saya ingat betul malam itu, Akh Arif bercerita tentang kader KAMMI. Beliau mengatakan kader KAMMI itu, rajin baca buku dan kalau salat lima waktu tidak berjama’ah di masjid bukan kader KAMMI namanya. Dalam pikiran saya “‘Monster’ seperti apakah kader KAMMI itu?” Cerita dari Akh Arif inilah yang membuat saya selalu mencontoh beliau. Beliau adalah lawan bagi saya. Lawan yang harus dikalahkan karena kehebatannya sebagai kader KAMMI. “Antum jos Akh!”

Saudara saya yang kedua yang juga aktivis KAMMI adalah Akh Hamid Zulkifli. Beliau asli dari Pacitan Jawa Timur. Posisi sebagai ketua departemen Ekonomi Kreatif beliau emban tahun ini. Bagi saya Akh Hamid adalah orang yang selalu ceria. Meskipun terkadang saya jengkel terhadap beliau. Tapi bagi saya beliau adalah aktivis KAMMI yang luar biasa. Kepada beliaulah saya sering cemburu karena aktivitasnya di KAMMI. Sama dengan Akh Arif, dari Akh Hamidlah sering saya bertanya-tanya tentang KAMMI. Keberterimaan beliau terhadap KAMMI lebih dahulu dibandingkan dengan saya. Beliau satu angkatan DM1 dengan Akh Arif. “Selalu istiqomah ya Akh Bro!”

Saudari saya yang satu ini orang yang cukup menyebalkan bagi saya. Suatu ketika beliau pernah bilang bahwa saya itu “qowiy” di hadapan teman-teman aktivis satu angkatan yang lain. Entah bagaimana, hingga detik ini saya mendapatkan cap sebagai “ikhwan terqowiy se-FBS (fakultas saya)”. Setiap kali bertemu dengan ikhwah lain, cap itu yang selalu saya dapat. Tapi terlepas dari itu beliau adalah kader KAMMI luar biasa. Saat ini beliau beramanah di DPM KM Unnes sebagai sekjen (kalau nggak salah). Salah satu kecakapan beliau adalah dalam hal menganalisis, analisisnya begitu tajam. Terutama dalam hal perpolitikan kampus. Tidak diragukan lagi, Ukh Arum Setianingsih mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Jepanglah orangnya. “Ajari analisisnya dong Ukh!”

Yang terakhir ini juga tidak kalah hebatnya. Beliau adalah Ukh Ira Damayanti, mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saat ini beliau bermanah sebagai sekretaris kementrian PSDM BEM KM Unnes (“Iya nggak sih?”). Saudari saya yang satu ini juga jebolan DM1 KAMMI. Soal jumlah buku yang pernah dibaca tidak diragukan lagi. Sempat akan beramanah di LDF, beliau justru diamanahi di BEM, lebih berat tentunya. Tapi tidak jadi soal bagi kader KAMMI. Saat resume ini saya tulis, beliau dikabarkan mengalami kecelakaan. Semoga Allah lekas menyembuhkan beliau. “Syafakillah Ukhti.”


Itulah kelima “Power Ranggers” KAMMI dari Fakultas Bahasa dan Seni. Jika selama ini banyak orang yang menganggap saya itu luar biasa, bagi saya merekalah pemantik bagi saya untuk senantiasa menjadi luar biasa. Dari merekalah saya belajar, dari merekalah saya mengerti. Mungkin jika tidak karena mereka, saya tidak akan pernah ikut DM1, saya tidak akan paham apa itu KAMMI, dan masih banyak lagi. Jujur saja saya iri dan cemburu terhadap mereka berlima yang aktif di KAMMI. “Syukron Jazakumullah Akhi Ukhti....”.

oleh: Agung Wahyu Saputro

catatan:
Tulisan ini dibuat sendiri oleh akh Agung, saudara saya di FBS. Padahal sebenarnya saya memintanya untuk membuat resume buku yang berjudul "Mengapa Aku Mencintai KAMMI" untuk kebutuhan suatu hal. Tapi ternyata jadinya bukan resume malah menceritakan saudara-saudaranya di fakultas kami (FBS) yang menjadi aktivis KAMMI di kampus Unnes. Tak apalah, mungkin itu salah satu bukti cintanya pada KAMMI walaupun dia bukan merupakan aktivis KAMMI. Semoga senantiasa istiqomah di jalan dakwah, baik itu lewat KAMMI ataupun lewat lembaga dakwah yang lainnya, aaamiin.. 
Ternyata, banyak yang mencintai KAMMI dalam diamnya ^_^

Sabtu, 26 Juli 2014

Aku Rindu Dakwah Sekolah...

Kemarin malam ketika hendak mengambil sebuah jahitan di tukang jahit dekat rumah, tiba-tiba aku bertemu dengan seorang kakak kelasku di SMA yang juga pernah menjabat sebagai ketua rohis di SMAku, SMA Negeri 2 Semarang. Obrolan singkat pun terjadi walaupun hanya beberapa kalimat. Namun ada sebuah pertanyaan yang dilontarkannya padaku cukup menohokku dan membuatku benar-benar terngiang di benakku sampai detik ini, “kok nggak pernah kelihatan di kegiatan syiar lagi?” dan aku tak bisa menjawab pertanyaan itu sejujurnya. Aku tak ingin memberikan alasan karena kesibukanku di kampus sehingga aku jarang atau bahkan kini tidak pernah lagi aktif dalam kegiatan syiar smanda.

Syiar Smanda merupakan kependekan dari Silaturahmi Ikatan Alumni Rohis SMA Negeri 2 Semarang. Organisasi ini merupakan organisasi yang beranggotakan seluruh alumni rohis SMAku, sedangkan untuk kepengurusannya dikelola oleh alumni rohis yang masih berdomisili dan kuliah atau kerja di Semarang dan tentunya bersedia menjadi pengurus. Selain sebagai wadah silaturahmi alumni rohis SMA 2 Semarang, Syiar hadir sebagai jembatan antara pengurus rohis SMA 2 Semarang dengan dunia luar (masyarakat) dan juga sebagai pengelola Aktivis Dakwah Sekolah (ADS) di SMAku ini, sehingga aktivis Syiar juga biasa disebut sebagai Aktivis Dakwah Sekolah meskipun sudah purna sebagai seorang siswa SMA.

Ah, tiba-tiba aku begitu rindu berkecimpung lagi di dakwah sekolah. Aku rindu dengan teman-temanku di rohis SMA, aku rindu menjalin komunikasi dengan guru-guru SMAku berkaitan dengan lembaga keislaman ini. Ah, banyak sekali rupanya yang kurindukan. Dua tahun menjadi pengurus Syiar nampaknya tak berpengaruh apa-apa bagiku, aku sama sekali tidak banyak berkontribusi di Syiar ini. Mungkin bisa dikatakan aku adalah pengurus yang non-aktif, bahkan isu yang beredar aku dinyatakan keluar dari kepengurusan Syiar (apa karena aku nggak pernah muncul sama sekali ya, hehe). Apakah aku terlalu egois memikirkan amanahku di kampus, sehingga amanahku di Syiar sering terlupakan. Padahal aku masih berdomisili dan kuliah di Semarang. Tapi kapan kuluangkan waktuku untuk Syiar? Bahkan menjadi PJ SMS ukhuwah saja jarang kulaksanakan. Sampai-sampai kadep departemenku di Syiar harus sering-sering mengingatkan, mungkin juga beliau kesal denganku (afwan ya, mas :D).

Memoriku akan dakwah sekolah tiba-tiba memenuhi pikiranku. Kegiatan Isra’ Mi’raj, Doa Bersama, Idul Adha, Mocha (Moslem Choice Award), Pengumpulan zakat, Buka Bersama, Tarawih Berjamaah, AMT (Achievement Motivation Training), Tralis (Training of Leadership for Islamic Student), Karisma (Kajian Rohis Smanda), Musyum (Musyawarah Umum), Re-organisasi, Raker, Kajian Kemuslimahan, Bakti Masjid, Bakti Sosial, lomba-lomba, bikin mading, bikin majalah, bikin buletin, ngaji bareng, belajar bareng dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang pernah aku lakukan bersama teman-temanku di rohis ini a.k.a Roker Smanda (Rohis Keren SMA Negeri 2 Semarang), mengukir ukhuwah bersama mereka. Banyak sekali kenangan indah bersama rohis smanda ini...

Dakwah sekolah dan dakwah kampus memang sangat berbeda, karena di dakwah sekolah masih majemuk. Sehingga perbedaan-perbedaan tidak terlalu tampak seperti di kampus. Hal inilah yang membuatku benar-benar rindu kembali pada dakwah sekolah. Bersama mereka ingin berusaha untuk kembali pada dakwah sekolah, ingin kembali menyempatkan diri fokus pada dakwah sekolah.

Dakwah sekolah, aku merindukanmu...
Masih bolehkah aku kembali padamu?
Dalam dekapan ukhuwah, bersama kalian... sahabat-sahabatku...

Sabtu, 12 Juli 2014

Surat Cinta Mutarabbiku


Semarang, 11 Juli 2014
Tepat setelah waktu berbuka, senja itu.. ketika acara buka bersama rohis fakultas di kampus usai tiba-tiba seseorang menghampiriku. “Ma, ada titipan surat untukmu..”. “Dari?” tanyaku. Ia pun menyerahkan surat itu padaku sambil berbisik, “Dari anakmu..”. Aku hanya mengernyitkan dahi dan menerima sepucuk surat itu. Di depan surat itu tertulis “Untuk: Mbak Asma.” Aku terdiam, berpikir, surat dari siapa ini..

Sesampainya di kos kubuka surat tersebut. Tertulis Untuk: Murabbiku... tulisan itu mengawali isi surat yang aku terima. Aku menghela napas panjang, bismillah.. ada apa gerangan, hal apa yang akan disampaikan oleh salah satu adik binaanku ini kepadaku, sampai-sampai ia harus menulis sebuah surat untukku?

Dan aku membacanya perlahan, memaknai setiap kata yang ia torehkan pada secarik kertas putih itu. Rasa haru menyelimutiku, sungguh aku ingin menangis, menitikkan air mata. Isi surat yang membuatku ingin kembali seperti sedia kala. Sejujurnya, aku memang tengah kecewa padanya, kecewa karena ia menghindar dari sebuah proses yang seharusnya ia jalani. Ketika itu, hampir satu bulan yang lalu aku pernah benar-benar bersikap tegas padanya, bukan marah, hanya sekadar ingin membuka jalan pikirannya, membuka hatinya, menjelaskan padanya. Aku tak tahu apakah ia menangis dan marah padaku atau tidak. Yang jelas, setelah aku bersikap tegas padanya dan aku pergi meninggalkannya aku menangis. Hatiku tak pernah sesesak ini, perih. Aku memang tak pernah marah pada seorang adik, apalagi adik binaanku. Apabila aku sedang kesal pada seseorang, aku akan meninggalkannya sejenak, hingga aku kembali tenang dan kembali seperti sedia kala. Namun yang terjadi pada saat itu, aku tak ingin meninggalkannya, aku ingin memberikan penjelasan dan aku memberikan pilihan padanya terlebih dahulu hingga akhirnya hatiku tak sanggup dan aku pergi meninggalkannya, aku menangis, aku merasa gagal membina seorang adik yang sudah kubidik sejak awal bertemu dengannya. Hingga aku mengatakan padanya, aku tak akan memaksamu lagi.. pada saat itu aku menyerah.

Hingga surat ini ia kirimkan, aku merasa komunikasi kita memang belum lancar seperti sedia kala meskipun ia berada satu amanah denganku. Ia tak meminta untuk liqo lagi, ia tak menghubungiku untuk itu. Aku membiarkannya, seperti pernyataanku padanya, aku tak akan memaksamu lagi. Aku hanya ingin diam untuk saat ini, tidak ingin memaksa lagi. Padahal berbagai rencana besar jangka panjang sudah kupersiapkan untuknya, namun ia tak ingin melakukan proses itu.

Sepucuk surat itu berisikan kesan awal ia mengenalku, perjalanannya selama hampir dua tahun ini mengenalku di jalan dakwah ini, dan permohonan maafnya padaku. Kata-katanya sederhana, namun sangat menyentuh relung hatiku.

Beberapa kalimat terakhir yang ia tuliskan pada sepucuk surat itu yang membuatku ingin membuka hatiku lagi padanya... sungguh, aku ingin memaafkanmu..

“...aku minta maaf mbak, jika hati mbak Asma terluka. Aku rindu mbak Asma insya Allah karena Allah, aku masih ingin belajar dari mbak Asma. Belajar menjadi kader dakwah yang tangguh dan istiqomah. Belajar seutuhnya mencintai dakwah, memberikan harta, jiwa dan raga untuk dakwah. Aku ingin melihat senyum mbak Asma lagi. Aku ingin memperbaiki diri.”

Yaa Rabb, apakah aku bisa ikhlas atas semua ini?
Yaa Rabb, apakah aku masih pantas dianggap sebagai sosok “mbak” yang bisa memberikan keteladanan bagi adik-adikku?
Yaa Rabb, apakah aku masih mampu mengemban amanah ini?
Yaa Rabb, aku tak mampu tanpaMu...

Rasanya sungguh ingin kembali seperti sedia kala, teruntai senyum untuk adik-adikku. Memaafkan memang bukan hal yang mudah, tapi aku ingin berusaha untuk itu.  Aku ingin mengobati perih yang tergores di hatiku. Aku ingin mengobati kekecewaan yang bersemayam di kalbu. Aku tak ingin ada yang tersakiti, aku tak ingin ada yang terluka. Afwan, belum bisa menjadi mbak baik yang untukmu...

Yaa Allah, lapangkanlah hatiku untuk bisa kembali seperti sedia kala..
Yaa Allah, bukakan kalbuku untuk mengikhlaskan semuanya...
Yaa Allah, bimbinglah aku dan adikku ini untuk mampu tegar dan bertahan di jalan dakwah ini, hingga tiada lagi lelah apalagi menyerah..

Yaa Allah, lindungilah kami...

Selasa, 08 Juli 2014

diam


Diam..
Kini sedang mencoba untuk diam dan lebih banyak mendengar.
Bukan karena tak ingin berbicara, hanya sedang ingin lebih merasakan menjadi pendengar.
Bukan tidak ingin menjadi aktif, tapi sedang ingin memberi kesempatan pada yang lain.
Bukan karena tak punya pendapat, aku sedang ingin mendengar pendapat yang lain.

Diam.. seribu bahasa
Tak sekadar diam secara verbal, namun juga diam dalam tindakan.
Bukan tak mau tau, tapi ingin mengenal mereka lebih dekat..mengamati
Bukan tak punya keinginan, tapi menahan hingga mereka bertindak
ya, aku terdiam

Diam.. diam
Sedang ingin terdiam..
Ingin melihat sejauh mana kepekaan dan tanggung jawabnya, kamu.. mereka

maaf, 

Minggu, 29 Juni 2014

Adikku..


Adikku, pernahkah kau bayangkan bagaimana sungguh terjalnya dakwah ini?
Ya, kau tentu sudah mengetahui bahwa dakwah yang kita lalui bersama bukanlah jalan yang mudah. Jalan dakwah ini sangatlah panjang, penuh dengan rintangan dan hanya sedikit yang mau membersamainya.
Apakah kau benar-benar yakin telah memilih dakwah ini sebagai jalan hidupmu?
Apakah kau sudah ikhlas mengabdikan dirimu hanya untuk dakwah ini?
Apakah kau rela jika seluruh waktumu, tenagamu, bahkan kekayaanmu habis untuk dakwah ini?
Pernahkah kau merenung dan bertanya pada dirimu, sebenarnya dakwah yang membutuhkanmu atau kau yang membutuhkan dakwah?

Adikku...
Dakwah adalah cinta, dan cinta akan meminta segalanya dari dirimu. Bahkan sampai lelapmu dan tidurmu, semua mimpi-mimpimu pun tentang dakwah.
Dakwah tidak pernah membutuhkanmu, tapi kau yang membutuhkan dakwah. Karena jika dakwah tak bersamamu, maka ia akan bersama yang lain. Sedangkan kau, apabila kau tak bersama dakwah, maka kau akan bersama siapa?
Seseorang hanya akan disibukkan oleh salah satu hal saja, kalau tidak sedang disibukkan dalam kebaikan, maka ia akan sedang disibukkan dengan keburukan.
Menjadi bagian dari dakwah ini merupakan sebuah pilihan..

Adikku..
Bergerak merupakan sebuah kepastian, karena apabila tidak bergerak berarti mati.
Apa yang sudah kau berikan untuk dakwah ini?
Kami belum yakin kami telah memberikan segalanya untuk jalan yang kami pilih ini. Tapi kami yakin, kau mampu dan mau bergerak untuk dakwah ini, lebih dari gerak kami terhadap dakwah ini.
Bergeraklah lebih untuk dakwah ini..
Jadikan gerakanmu bukan sekadar gerakan pasif yang hanya mampu menarik penonton.
Jadikan gerakanmu memberikan resonansi juang bagi objek dakwahmu.

Adikku..
Saat ini mungkin kau sedang dalam proses belajar. Belajar mengerti, belajar memahami, bahkan belajar menerima tentang konsekuensi yang harus diterima ketika berada di dalam jalan ini.
Sebagai kakak, kami tak ingin kau merasa dipaksa, kami tak ingin kau terus bermuram durja.
Kami hanya ingin kau mengikuti proses, menikmati proses dan belajar dari proses yang tengah kau lalui saat ini. Agar kau menjadi pribadi kokoh yang mampu mengemban amanah dakwah yang lebih besar di kemudian hari.
Tak selamanya kami menemanimu di sini..

Adikku...
Bersikaplah dewasa, karena kedewasaan akan mengajarimu banyak hal.
Apa yang kau takutkan?
Dakwah tidak akan memperburuk kehidupanmu, dakwah tidak akan menjatuhkan harga dirimu.
Pertolongan Allah akan selalu bersamamu...




Rabu, 26 Maret 2014

Mahasiswa Cerdas Tanpa Golput!



Sudah tahukah kawan-kawan mengenai perhelatan akbar negeri ini? Yap, pesta demokrasi sebentar lagi akan digelar. Tepatnya pada tanggal 9 April 2014 untuk Pemilu Legislatif dan tanggal 9 Juli 2014 untuk Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Sebagai mahasiswa yang katanya adalah kaum intelektual seharusnya kita sudah tahu tentang hal ini dan ikut berpartisipasi, salah satunya dengan jalan memberikan hak suara kita untuk pemilihan calon wakil rakyat untuk negeri ini.
Memberikan suara dalam pemilu memang bukan suatu kewajiban, tapi itu sudah menjadi hak kita. Sehingga menggunakan hak yang sudah diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita sebagai mahasiswa menjadi golput (golongan putih) alias tidak memberikan hak suara kita pada saat pemilu. Dengan berbagai alasan, sebenarnya golput bisa diminimalisasi. Misalnya apabila alasan golput adalah TPS, mungkin karena merasa TPS asal sangat jauh karena kita saat ini sedang menempuh studi di daerah yang berbeda dengan TPS kita. Hal ini bisa diatasi dengan mengurus formulir model A5, yaitu surat pindah memilih yang dikeluarkan oleh Panitia Pemungutan Suara (PPS) dari daerah asal. Dengan mengurus formulir A5 ini kita bisa menggunakan hak suara kita di tempat lain, misalnya di lingkungan kampus Unnes ini.
“Mobilitas penduduk kita sangat tinggi baik karena dinas luar, tugas belajar, pindah domisili, sakit, bencana dan persoalan hukum yang mengakibatkan seseorang menjadi tahanan. Kejadian-kejadian itu tidak boleh menghambat seseorang untuk menggunakan hak pilihnya. Karena itu, di manapun, mereka dapat menggunakan hak pilih dengan catatan mengurus formulir A-5 dari PPS asal,” kata Komisioner KPU RI Ferry Kurnia Rizkiyansyah, Kamis 20 Februari 2014.
Untuk mendapatkan formulir model A-5, pemilih wajib menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) atau identitas lain kepada petugas PPS di desa/ kelurahan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa orang yang mengurus formulir model A-5 itu, benar-benar orang yang akan pindah memilih dan terdaftar sebagai pemilih di daerah tersebut.
Apapun alasannya golput tidak dibenarkan. Karena pemerintah sudah memfasilitasi masyarakat untuk memberikan hak suaranya pada saat pemilu. Dalam beberapa berita yang dimuat di berbagai media massa, disebutkan bahwa apabila golput mencapai angka 50% maka pemilu dibatalkan dan harus diadakan pemilu ulang. Bayangkan saja kalau seperti ini, kita sama saja membuang uang negara dengan percuma ketika pemilu harus diulang. Padahal anggaran untuk pemilu ini tidak kecil lho, anggaran untuk pemilu mencapai 15,4 triliun rupiah. Bayangkan saja uang sebesar itu terbuang sia-sia hanya karena banyaknya masyarakat yang golput. Lebih baik anggaran tersebut dialokasikan untuk biaya pendidikan daripada untuk pemilu ulang.
Golput saja tidak dibenarkan apalagi mengajak orang lain untuk golput, apabila kita melakukan hal ini maka berhati-hatilah karena apabila kita mengajak golput bisa dikenai sanksi pidana. Seperti yang tetulis dalam pasal 287 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilu:
"Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan dan/ atau menghalangi seseorang yang akan melakukan haknya untuk memilih atau melakukan kegiatan yang menimbulkan gangguan ketertiban dan ketenteraman pelaksanaan pemungutan suara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan denda paling sedikit Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah) dan paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah)."
Lantas, masih mau untuk golput?

Yuk, sebagai mahasiswa dan warga negara yang baik kita dukung pesta demokrasi negeri ini dengan memberikan hak suara kita pada saat pemilu nanti. Ingat, gunakan suaramu sesuai dengan hati nurani. Kenali partai dan wakil rakyat calon pilihanmu dan berikan suara kepada partai atau wakil rakyat yang memiliki track record yang paling baik dan jangan asal-asalan dalan memilih.  

Senin, 03 Maret 2014

Mengertilah


Membiarkannya menari?
Tak bisa membuatnya mengejar henti
Sedu sedan biarkan makin mengiringi
Langkah bergerak gontai, lunglai

Masih berlanjut?
Membiarkannya menari tak membuatmu bergerak
Rasakan irama yang mengalun lembut...,
Gerak tegap, cepat, mantap
Haruskah?

Menilik ruang relung yang . . .
Ya sudah, baiklah, biarlah

.

Harus
Tatap batin juga jiwamu
Melayang tak berarti hilang
Masih ada, tak kan pernah pudar
Lantas?

Siap tidak selalu mantap
Tegar bukan berarti hingar
Tapi,
Jejakmu tak akan pernah hilang
Mungkin
Pasti

Teruslah menari
Ikuti irama bukan berarti tak bisa berhenti
Bisa kau atur


Ini panggungmu ‘

Minggu, 16 Februari 2014

Jadwal Pemilu 2014


Pemilu Legislatif :
1. Tgl 16 Maret - 05 April : Masa Kampanye
2. Tgl 06 - 08 April : Masa Tenang
3. Tgl 09 April : Pemungutan Suara
4. Tgl 07 - 09 Mei : Penetapan Hasil Pemilu Nasional
5. Tgl 11 - 17 Mei : Penetapan Perolehan Kursi & Calon terpilih Anggota DPR dan DPD
6. Bln Juli - Oktober : Pengucapan Sumpah Janji

Pemilu Pres & Wapres :
1. Tgl 16 - 13 Mei : Penetapan DPT Nasional
2. Tgl 10 - 16 Mei : Pendaftaran Paslon
3. Tgl 05 - 09 Juni : Penetapan Paslon
4. Tgl 14 Juni - 05 Juli : Masa Kampanye
5. Tgl 06 - 08 Juli : Masa Tenang
6. Tgl 09 Juli : Pemungutan Suara
7. Tgl 26 - 28 Juli : Penetapan Hasil Pemilu
8. Tgl 29 - 31 Juli : Pengajuan Gugatan Perselisihan Pemilu
9. Tgl 02 - 13 Agust : Penetapan Hasil Pemilu Pasca. Putusan MK
10. Tgl 15 - 24 Agust : Kampanye Putaran II
11. Tgl 09 Sept : Pemungutan Suara Putara II
12. Tgl 26 - 27 Sept : Penetapan Hasil Pemilu Putaran II
13. Tgl 27 - 29 Sept : Pengajuan Gugatan Perselisihan Pemilu Putaran II
14. Tgl 09 Okt : Penetapan Hasil Pemilu Pasca Putusan MK
15. Tgl 20 Okt : Pelantikan Pres dan Wapres terpilih.