Minggu, 08 September 2013
Yang Berbolak-balik
Hati, tiada yang
mengerti apa yang sebenarnya sedang dirasakan oleh hati apabila tak pernah
diungkapkan. Hati dalam bahasa arab berarti qolb
yang artinya “membolak-balik”. Ya, hati selalu berbolak-balik. Terkadang ia
menjadi begitu kuat namun terkadang ia menjadi begitu rapuh. Manusia memiliki
segumpal darah, apabila baik segumpang darah tersebut maka baiklah seluruh
tubuhnya namun apabila buruk segumpal darah itu maka buruklah seluruhnya,
itulah hati. Yaa muqollibal quluub
tsabbit qolbii ‘alaa diinik wa thoo’atik.
Terkadang kita
bisa mengekspresikan seluruh keadaan hati dengan sepenuhnya namun terkadang
begitu disembunyikan serapat-rapatnya. Terlebih seorang perempuan, yang lebih
sering menggunakan perasaan daripada logikanya. Perempuan akan dengan mudahnya
menyampaikan perasaannya kepada orang lain yang membuatnya nyaman, dan
sebaliknya seorang perempuan akan menyembunyikan perasaannya dan dikunci
serapat-rapatnya agar tak seorang pun dapat mengetahuinya walaupun kepada orang
yang sudah terbiasa membuatnya nyaman. Perasaan apapun itu.
Selasa, 27 Agustus 2013
Alam, Yes!
“Siapa yang mau
ikut ke pasar malam hari ini?” seluruh penghuni kos langsung ramai. Mereka langsung
ribut membicarakan persiapan buat ke pasar malam. Sedangkan aku dan dua orang
penghuni kos hanya stay cool dan
tetap asyik menonton tv daripada mengiyakan ajakan teman-teman kos itu.
“Memangnya ke
pasar malam ngapain? Paling juga Cuma lihat-lihat orang jualan aja, nggak ada
yang bisa dinikmati juga. Mau naik mainan di sana juga sangat tidak
memungkinkan. Dan yang paling bikin males adalah ramai dan terkesan sumpek.” Pikirku dalam hati.
Mungkin berbeda
dengan kebanyakan perempuan yang hobinya jalan-jalan ke mall atau tempat
perbelanjaan lainnya. Aku sangat tidak suka diajak pergi ke tempat seperti itu.
Sabtu, 27 Juli 2013
Inikah Ramadanku?
Ramadan
menyapaku dengan lembut
Kala
aku terbuai dalam keriuhan fatamorgana
Ia
memandangku penuh tanya
Tapi
aku memalingkan muka darinya
Ia
tak memincingkan matanya
Rindu
memberikan yang terbaik
Tapi
tak dapat mengalahkan nafsunya
Sebatas
keinginan palsu yang menerkam relung
Rindu
hanya sebatas mau, tanpa peluh
Muslihat
kian sempurna, berkacak memangku Ramadan
Senin, 22 Juli 2013
Anak Kader dan Kader Militan?
Iman tak dapat diwarisi
Dari seorang ayah yang bertaqwa
Ia tak dapat dijual-beli
Ia tiada di tepian pantai
Walau apapun caranya jua
Engkau mendaki gunung yang tinggi
Engkau berentas lautan api
Namun tak dapat jua dimiliki
Jika tidak kembali pada Allah
(Iman Mutiara, Raihan)
Mengawali artikel, saya
sedikit memberikan alasan kenapa artikel ini dibuat. Alasannya adalah sudah (terlalu)
banyaknya pertanyaan yang muncul,
“Gimana sih
rasanya jadi anak kader?”
Bagaimana rasanya??
Hmm, banyak sekali
pertanyaan seperti ini yang sering sekali dilontarkan kepada kader yang memang
baru mengenal tarbiyah ini (entah di
kampus atau pun di masa sekolahnya) kepada seorang kader yang notabenenya
memang dilahirkan dari keluarga yang sudah terkondisikan, ya istilahnya anak
kader.
Jumat, 19 Juli 2013
Apa yang membuatku ingin menulis?
Aku ingin menulis karena aku
ingin menuangkan setiap gagasanku ke dalam sebuah tulisan. Ya, tulisan. Tulisan
yang akan menjadi saksi ketika aku ingin menuangkan sesuatu.
Aku ingin menulis apa pun yang
kumau, aku tak ingin dikekang oleh siapa pun. Karena dengan menulis, aku dapat
menumpahkan seluruh pikiranku. Ke dalam sebuah tulisan, ketika aku tak mampu
mengungkapkannya kepada seorang pun.
Aku ingin menulis karena aku
dengan menulis aku bisa menjadi apapun. Ya, apapun yang aku mau. Katanya seorang
penulis itu bebas, bebas mengungkapkan isi hatinya. Meski ia sendiri tak tahu
mengapa tulisan itu harus dibuatnya.
Aku ingin menulis dengan sepenuh
jiwaku. Sepenuh pikiranku dan sepenuh perasaanku. Dengan menulis, aku mnejadi
lebih bisa legowo. Ketika aku merasa
ada sesuatu yang tengah menahan egoku.
Aku ingin menulis, hanya ingin
menulis. Menulis dan menulis, aku mau menulis.
Kamis, 09 Mei 2013
Hentikan!
22:51
2 comments
Bukannya aku tak sayang padamu
Bukannya aku tak cinta padamu
Tapi..
Hapuslah air mata itu
Rendahkan suaramu
Jangan kau cambuk peluhku
Cintaku masih sama seperti yang dulu
Hormatku semakin meningkat, sayangku
Hentikan sedu sedan itu
Tatap batinku
Rasakan gelombang syahdu
Aku masih mencintaimu
Aku sangat mencintaimu
Aku kan selalu mencintaimu
Luka yang kau bawa berlari
Sayatan yang kau iris sendiri
Tak pernah aku lupakan, kasih
Hanya, akan kubuang
kuhempaskan
kulemparkan
Kemana hendak aku inginkan
Hentikan!
Hentikan!
Hentikaaaannnn!!!
Hentikan cibiranmu fitnahmu yang terus menyakitiku..
Aku hanya ingin mencintai sahajamu
Bukan sombongmu
Aku hanya ingin mencintai jujurmu
Bukan bohongmu
Hapus airmatamu yang masih saja membawa luka batinku
Hapus sedu sedanmu yang mengalir membawa perihku
Aku mencintaimu, seperti kau yang dahulu
19 April 2012
19.09
Bukannya aku tak cinta padamu
Tapi..
Hapuslah air mata itu
Rendahkan suaramu
Jangan kau cambuk peluhku
Cintaku masih sama seperti yang dulu
Hormatku semakin meningkat, sayangku
Hentikan sedu sedan itu
Tatap batinku
Rasakan gelombang syahdu
Aku masih mencintaimu
Aku sangat mencintaimu
Aku kan selalu mencintaimu
Luka yang kau bawa berlari
Sayatan yang kau iris sendiri
Tak pernah aku lupakan, kasih
Hanya, akan kubuang
kuhempaskan
kulemparkan
Kemana hendak aku inginkan
Hentikan!
Hentikan!
Hentikaaaannnn!!!
Hentikan cibiranmu fitnahmu yang terus menyakitiku..
Aku hanya ingin mencintai sahajamu
Bukan sombongmu
Aku hanya ingin mencintai jujurmu
Bukan bohongmu
Hapus airmatamu yang masih saja membawa luka batinku
Hapus sedu sedanmu yang mengalir membawa perihku
Aku mencintaimu, seperti kau yang dahulu
19 April 2012
19.09
Rasa Kehidupan

“Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS.
Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR.
Jika setiap doa kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR
Seseorang yang dekat dengan Allah, bukan berarti tidak ada air mata.
Seseorang yang taat pada Allah, bukan berarti tidak ada kekurangan.
Seseorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa sulit.
Biarlah Allah yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Dia tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.
Selasa, 26 Februari 2013
Mengapa Aku (belum berani) Mencintai KAMMI
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia yang biasa disingkat
menjadi KAMMI merupakan gerakan ekstra kampus. Gerakan mahasiswa yang menurutku
memiliki ideologi yang kuat dan tidak terikat oleh pihak manapun. Aku memandang
KAMMI merupakan gerakan mahasiswa berbasis Islam yang cukup besar dengan segala
pemikiran-pemikirannya, meskipun aku belum mengetahui KAMMI secara mendalam.
Secara tidak langsung aku mengamati hal ini melalui beberapa orang di dekatku
yang memang mereka berkecimpung dalam sepak terjang KAMMI. Dan dari situ aku
membuat sebuah simpulan, KAMMI dan mereka LUAR BIASA!
Aku memang tidak terlalu paham dunia perpolitikan di kampus,
tapi setidaknya sedikit banyak aku cukup bisa menilai dunia perpolitikan kampus
yang tentunya itu dari sudut pandangku sendiri. Salah satunya adalah KAMMI,
dari sinilah awalnya aku mulai mengamati. Pengurus KAMMI begitu luar biasa,
mereka rela berkorban apa saja demi KAMMI. Bahkan di tengah pergolakan politik
kampus yang seakan-akan menyudutkan KAMMI, tiada satu pun pengurus KAMMI yang
gentar. Kesolidan, kerja keras, cerdas, semangat, keramahan, keikhlasan,
berideologi kuat, berkarakter, profesional dan masih banyak rentetan
sifat-sifat positif yang dimiliki oleh KAMMI membuatku semakin kagum dengan
KAMMI
Kini aku telah mengenal KAMMI selama lebih kurang satu tahun
(terhitung sejak awal aku mengikuti DM 1), dan hampir satu tahun itu pula aku
terlibat dalam beberapa kepanitiaan di KAMMI meskipun aku tidak tercatat dalam
kepengurusannya. Mereka tetap ramah, tak membedakan mana pengurus dan mana yang
bukan pengurus. Meskipun dalam beberapa kali kesempatan aku sendiri yang
menganggap diriku bukan orang KAMMI dan aku sendiri yang memberi batas antara
pengurus dan bukan pengurus. Tapi justru yang aku rasakan, mereka menganggap
kita semua adalah keluarga.
Aku adalah tipe orang yang mudah sekali merasa tidak enak,
sehingga apabila diberi amanah aku selalu berusaha untuk bisa menjalankannya
meski kurang maksimal. Hingga pada saat DM 1, aku dipercaya untuk menjadi
panitia dan diletakkan di sie acara. Sie yang menurutku memiliki peran penting
dalam sebuah kepanitiaan (pada dasarnya semua sie sama pentingnya). Berusaha
hadir syuro dan kalaupun tidak bisa hadir, meminta info mengenai DM yang akan
dilaksanakan. Hingga dua orang sahabatku sering melemparkan sebuah candaan, “ciee… sekarang udah mulai mencintai KAMMI
nih..” tapi aku selalu menyangkalnya, dengan alasan aku masih takut
mencintai KAMMI.
Kamis, 16 Agustus 2012
Bersama Mujahid-mujahid kecilku :)
Masih teringat jelas dibenakku pada awal Mei 2011
mendapat tawaran untuk mengajar di sebuah TPQ dari umiku, “Kau sudah
selesai to ujiannya, udah nggak ngapa-ngapain lagi.
Sambil nunggu kuliah kan ada waktu hampir lima bulan nganggur. Ngajar TPQ mau
nggak?”
Memang saat itu aku benar-benar free nggak ada kerjaan, setelah menempuh Ujian Akhir Nasional aku benar-benar libur. Jadi lumayan bosen juga di rumah nggak punya rutinitas yang biasa-biasa aja. “Ngajar TPQ dimana, mi?” tanyaku pada saat itu.
“Di Perumahan Bea Cukai, Gemah. Di depan BLKI itu masuk, tau nggak?” jawab umiku.
Awalnya aku mengelak, karena rasa keberanian itu belum
muncul sama sekali. “Itu TPQ baru kok, baru dirintis, kamu
nanti jadi guru sendiri di sana. Kan enak, anak-anaknya bisa
diajak belajar sambil mainan. Diajak guyon juga nggak papa,
mumpung ada yang nawari lho. Kalau nggak mau, nanti umi nyari guru yang lain. Piye?”
Hampir satu minggu aku berpikir, akhirnya kuiyakan tawaran tersebut. Meski rasa ragu masih saja menggelayutiku. Kupersiapkan segala sesuatunya, konsep mengajar TPQ yang kurencanakan hingga sedemikian rupa supaya tidak membosankan. Bahkan juga mencari selingan-selingan di internet atau bertanya-tanya untuk variasi mengajar di TPQ nanti.
Tanggal 2 Mei 2011 pukul 15.45 aku berangkat menuju tempat dimana aku mengajar perdana. Meski hanya mengajar TPQ, tapi ini pertama kalinya aku mengajar anak-anak sendirian. Apalagi aku belum pernah kenal dengan mereka sama sekali. Lumayan canggung juga berhadapan dengan mereka. Kuparkirkan sepeda motorku di depan musholla mungil berwarna hijau muda itu, dan perlahan aku masuk ke dalam musholla tersebut. Masih belum yakin ketika aku duduk layaknya ustadzah di hadapan mereka. Ku awali hari pertamaku mengajar dengan mengucapkan salam kepada mereka, tak lupa sebuah senyuman terindah kupersembahkan untuk murid-murid kecilku yang manis-manis itu. Aku pun memperkenalkan diri, dan mereka tak malu bertanya tentang apapun yang mereka ingin tahu (namanya juga anak-anak ^_^). Kesan hari pertama mengajar memang luar biasa, membuatku semakin semangat untuk mengajar.
Di hari-hari selanjutnya, aku merasakan kenyamanan. Aku cukup sering memberikan permainan untuk sekadar mencairkan suasana ketika mereka bermalas-malasan dalam mengaji. Mulai dari hanya permainan hingga bernyanyi lagu-lagu islami khas anak-anak seusia mereka. Terkadang aku juga memberikan award kepada mereka yang berprestasi. Walaupun hanya kuberikan sebuah pensil atau buku tulis, tapi mereka begitu senang menerimanya. Dan mengajar bagiku sesuatu yang menyenangkan, bahkan kuanggap sebagai refreshing ketika aku merasa jenuh dengan kegiatanku.
Celotehan murid-muridku yang membuatku rindu pada mereka,
Langganan:
Postingan (Atom)




.jpg)








