
“Mari masuk ukh,” ajak akh Yusuf kepadaku. Mas Yusuf melangkahkan kakinya dengan terburu-buru memasuki PKMU, aku yang mengikuti langkah kakinya dari belakang hanya bisa memperhatikannya saja sambil berjalan menunduk.
“Afwan dek, saya terburu-buru. Jadi langkahnya agak saya percepat.” Kalimat yang diujarkan dari akh Yusuf mengagetkanku yang sedang memperhatikan langkahnya. Kelihatannya akh Yusuf tahu bahwa aku tengah memperhatikannya.
“Oh, iya akh.” Aku berusaha mengalihkan pandanganku ke sebuah papan di dalam PKMU ini. Nampak sekali bahwa aku dibuat salah tingkah olehnya. Aku juga heran, kenapa aku bisa menjadi seperti ini. Kuusir bayang-bayang yang ada dalam lamunanku sejauh mungkin.
Setelah sampai di PKMU, seorang akhwat dengan seyuman manisnya mendekatiku dan mengarahkan apa yang harus aku lakukan. Setelah mengisi presensi kehadiran, aku diarahkan duduk di sebuah kursi kosong agak depan karena memang bagian itu belum ada yang menempati.
Kupandangi seisi ruangan PKMU, dari deretan akhwat yang kuamati tak ada satupun yang kukenal. Hanya beberapa mbak-mbak pengurus yang wajahnya tak asing bagiku, meskipun aku juga tak mengenalnya. Kusapa teman yang berada di samping kiriku, mengajaknya berkenalan sambil mendengarkan pewara yang sedang membuka acara.
“Assalamu’alaikum,” sapaku lembut.
“Wa’alaikumussalam warohmatullah,” senyumnya terukir manis di wajahnya. Nampaknya tak asing melihat mahasiswa baru ini di sampingku ini, gumamku dalam hati.
“Kayaknya pernah tau ya?” tanyaku padanya.
“Iya, kayaknya. Aku juga lupa, hehe. Namamu siapa? Aku Yasmin, mahasiswa Bahasa Jepang semester satu.” Jawabnya sambil mengingat-ingat sesuatu.
“Oh iya, kita yang pernah ketemu waktu verifikasi data mahasiswa baru itu ya? Aku Farah, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, semester satu juga.” Jawabku menyakinkannya.
“Oh iya, aku ingat sekarang.” Dia menghadapkan sedikit badannya dan menatapku.















